Rabu, 15 Desember 2010

Keutamaan Puasa di Hari Asyura (10 Muharram)


Oleh: Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

[Di dalam kitab beliau Riyadhus Shalihin, Al-Imam An-Nawawi -rahimahullah- membawakan tiga buah hadits yang berkenaan dengan puasa sunnah pada bulan Muharram, yaitu puasa hari Asyura / Asyuro (10 Muharram) dan Tasu’a (9 Muharram)]

Hadits yang Pertama

عن ابن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم صام يوم عاشوراء وأمر بصيامه. مُتَّفّقٌ عَلَيهِ

Dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma-, “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa padanya”. (Muttafaqun ‘Alaihi).

Hadits yang Kedua

عن أبي قتادة رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم سئل عن صيام يوم عاشوراء فقال: ((يكفر السنة الماضية)) رَوَاهُ مُسلِمٌ.

Dari Abu Qatadah -radhiyallahu ‘anhu-, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari ‘Asyura. Beliau menjawab, “(Puasa tersebut) Menghapuskan dosa satu tahun yang lalu”. (HR. Muslim)

Hadits yang Ketiga

وعن ابن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُما قال، قال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم: ((لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع)) رَوَاهُ مُسلِمٌ.

Dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma- beliau berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada (hari) kesembilan” (HR. Muslim)

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa pada hari ‘Asyura, beliau menjawab, ‘Menghapuskan dosa setahun yang lalu’, ini pahalanya lebih sedikit daripada puasa Arafah (yakni menghapuskan dosa setahun sebelum serta sesudahnya –pent). Bersamaan dengan hal tersebut, selayaknya seorang berpuasa ‘Asyura (10 Muharram) disertai dengan (sebelumnya, ed.) Tasu’a (9 Muharram). Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada yang kesembilan’, maksudnya berpuasa pula pada hari Tasu’a.

Penjelasan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk berpuasa pada hari sebelum maupun setelah ‘Asyura [1] dalam rangka menyelisihi orang-orang Yahudi karena hari ‘Asyura –yaitu 10 Muharram- adalah hari di mana Allah selamatkan Musa dan kaumnya, dan menenggelamkan Fir’aun dan para pengikutnya. Dahulu orang-orang Yahudi berpuasa pada hari tersebut sebagai syukur mereka kepada Allah atas nikmat yang agung tersebut. Allah telah memenangkan tentara-tentaranya dan mengalahkan tentara-tentara syaithan, menyelamatkan Musa dan kaumnya serta membinasakan Fir’aun dan para pengikutnya. Ini merupakan nikmat yang besar.

Oleh karena itu, setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal di Madinah, beliau melihat bahwa orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura [2]. Beliau pun bertanya kepada mereka tentang hal tersebut. Maka orang-orang Yahudi tersebut menjawab, “Hari ini adalah hari di mana Allah telah menyelamatkan Musa dan kaumnya, serta celakanya Fir’aun serta pengikutnya. Maka dari itu kami berpuasa sebagai rasa syukur kepada Allah”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian”.

Kenapa Rasulullah mengucapkan hal tersebut? Karena Nabi dan orang–orang yang bersama beliau adalah orang-orang yang lebih berhak terhadap para nabi yang terdahulu. Allah berfirman,

إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ

“Sesungguhnya orang yang paling berhak dengan Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya dan nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman, dan Allah-lah pelindung semua orang-orang yang beriman”. (Ali Imran: 68)

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling berhak terhadap Nabi Musa daripada orang-orang Yahudi tersebut, dikarenakan mereka kafir terhadap Nabi Musa, Nabi Isa dan Muhammad. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa ‘Asyura dan memerintahkan manusia untuk berpuasa pula pada hari tersebut. Beliau juga memerintahkan untuk menyelisihi Yahudi yang hanya berpuasa pada hari ‘Asyura, dengan berpuasa pada hari kesembilan atau hari kesebelas beriringan dengan puasa pada hari kesepuluh (’Asyura), atau ketiga-tiganya. [3]

Oleh karena itu sebagian ulama seperti Ibnul Qayyim dan yang selain beliau menyebutkan bahwa puasa ‘Asyura terbagi menjadi tiga keadaan:

1. Berpuasa pada hari ‘Asyura dan Tasu’ah (9 Muharram), ini yang paling afdhal.

2. Berpuasa pada hari ‘Asyura dan tanggal 11 Muharram, ini kurang pahalanya daripada yang pertama. [4]

3. Berpuasa pada hari ‘Asyura saja, sebagian ulama memakruhkannya karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk menyelisihi Yahudi, namun sebagian ulama yang lain memberi keringanan (tidak menganggapnya makhruh). [5]

Wallahu a’lam bish shawab.

(Sumber: Syarh Riyadhis Shalihin karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin terbitan Darus Salam – Mesir, diterjemahkan Abu Umar Urwah Al-Bankawy, muraja’ah dan catatan kaki: Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Rifai)

CATATAN KAKI:

[1] Adapun hadits yang menyebutkan perintah untuk berpuasa setelahnya (11 Asyura’) adalah dha’if (lemah). Hadits tersebut berbunyi:

صوموا يوم عاشوراء و خالفوا فيه اليهود صوموا قبله يوما و بعده يوما . -

“Puasalah kalian hari ‘Asyura dan selisihilah orang-orang yahudi padanya (maka) puasalah sehari sebelumnya dan sehari setelahnya. (HR. Ahmad dan Al Baihaqy. Didhaifkan oleh As Syaikh Al-Albany di Dha’iful Jami’ hadits no. 3506)

Dan berkata As Syaikh Al Albany – Rahimahullah- di Silsilah Ad Dha’ifah Wal Maudhu’ah IX/288 No. Hadits 4297: Penyebutan sehari setelahnya (hari ke sebelas. pent) adalah mungkar, menyelisihi hadits Ibnu Abbas yang shahih dengan lafadz:

“لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع” .

“Jika aku hidup sampai tahun depan tentu aku akan puasa hari kesembilan”

Lihat juga kitab Zaadul Ma’ad 2/66 cet. Muassasah Ar-Risalah Th. 1423 H. dengan tahqiq Syu’aib Al Arnauth dan Abdul Qadir Al Arna’uth.

لئن بقيت لآمرن بصيام يوم قبله أو يوم بعده . يوم عاشوراء) .-

“Kalau aku masih hidup niscaya aku perintahkan puasa sehari sebelumnya (hari Asyura) atau sehari sesudahnya” ((HR. Al Baihaqy, Berkata Al Albany di As-Silsilah Ad-Dha’ifah Wal Maudhu’ah IX/288 No. Hadits 4297: Ini adalah hadits mungkar dengan lafadz lengkap tersebut.))

[2] Padanya terdapat dalil yang menunjukkan bahwa penetapan waktu pada umat terdahulu pun menggunakan bulan-bulan qamariyyah (Muharram s/d Dzulhijjah, Pent.) bukan dengan bulan-bulan ala Eropa (Jan s/d Des). Karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwa hari ke sepuluh dari Muharram adalah hari di mana Allah membinasakan Fir’aun dan pengikutnya dan menyelamatkan Musa dan pengikutnya. (Syarhul Mumthi’ VI.)

[3] Untuk puasa di hari kesebelas haditsnya adalah dha’if (lihat no. 1) maka – Wallaahu a’lam – cukup puasa hari ke 9 bersama hari ke 10 (ini yang afdhal) atau ke 10 saja.

Asy-Syaikh Salim Bin Ied Al Hilaly mengatakan bahwa, “Sebagian ahlu ilmu berpendapat bahwa menyelisihi orang Yahudi terjadi dengan puasa sebelumnya atau sesudahnya. Mereka berdalil dengan hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam,

صوموا يوم عاشوراء و خالفوا فيه اليهود صوموا قبله يوما أو بعده يوما .

“Puasalah kalian hari ‘Asyura dan selisihilah orang-orang Yahudi padanya (maka) puasalah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya”.

Ini adalah pendapat yang lemah, karena bersandar dengan hadits yang lemah tersebut yang pada sanadnya terdapat Ibnu Abi Laila dan ia adalah jelek hafalannya.” (Bahjatun Nadhirin Syarah Riyadhus Shalihin II/385. cet. IV. Th. 1423 H Dar Ibnu Jauzi)

[4] (lihat no. 3)

[5] Asy-Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah mengatakan,

والراجح أنه لا يكره إفراد عاشوراء.

Dan yang rajih adalah bahwa tidak dimakruhkan berpuasa ‘Asyura saja. (Syarhul Mumthi’ VI)

Wallaahu a’lam.

Minggu, 05 Desember 2010

Nasehat Bijak : 110 Ahlak Islam Menuju Kesempurnaan Iman

1. Jauhkan diri dari dosa-dosa yang besar terutama syirik;
2. Lakukan shalat dengan ikhlas dan khusyu;
3. Lakukan shalat fardhu di awal waktu, berjamaah dan sedapat mungkin di Masjid;
4. Bersihkan harta dari hak-hak orang lain dengan zakat, infak dan shadaqah;
5. Biasakan shalat malam dan shalat dhuha;
6. Perbanyak baca Al Qur’an, dzikir dan do’a kepada Allah;
7. Lakukan puasa wajib dan puasa sunat;
8. Lakukan ibadah haji dan umrah apabila sudah mampu;
9. Sering-sering bershalawat kepada nabi;
10. Cintailah keluarga Nabi Muhammad SAW;
11. Biasakan istighfar dan taubat kepada Allah;
12. Sayangi, didik dan cukupi kebutuhan keluarga serta bahagiakan selalu anak dan istri/suami;
13. Sayangi dan santuni fakir miskin dan anak yatim;
14. Hormati dan sayangi tetangga;
15. Bergaulah dan berkumpulah dengan orang-orang shaleh;
16. Sering bangun di penghujung malam, berdoa dan beristighfar;
17. Laksanakan shalat sunnah rawatib sebagai pengiring shalat fardhu;
18. Maafkan orang lain yang berbuat salah kepada kita;
19. Jangan ada rasa takut kecuali hanya kepada Allah;
20. Jangan durhaka kepada orang tua dan membunuh;
21. Jangan berzina;
22. Jangan membiasakan diri melakukan dosa-dosa kecil;
23. Jangan sombong, takabur dan besar kepala;
24. Berlakulah adil dalam segala urusan;
25. Jangan campuri harta dengan harta yang haram;
26. Jangan sakiti perasaan ayah dan ibu;
27. Hiasi rumah dengan bacaan Al-Quran;
28. Perbanyaklah & menyambung silaturahmi dengan saudara, tetangga dan sahabat;
29. Jangan sombong kalau memperoleh kesuksesan;
30. Jangan tamak/ pelit kepada harta;
31. Tutup aurat sesuai dengan petunjuk Islam;
32. Jangan mencuri, manipulasi/menipu dan korupsi;
33. Santuni anak yatim dan janda yang miskin dan jangan usir orang yng meminta-minta;
34. Jangan sakiti hati dan fisik anak yatim ;
35. Banyak berkunjung ke rumah Allah (masjid);
36. Jagalah wudhu senantiasa
37. Ringankan beban orang lain dan tolonglah mereka yang mendapatkan kesulitan;
38. Jaga lidah dengan jangan melukai hati orang lain;
39. Jangan membiasakan berkata dusta;
40. Berlakulah adil, walaupun kita sendiri akan mendapatkan kerugian;
41. Jagalah amanah dengan penuh tanggung jawab;
42. Seringlah mengingat kematian;
43. Seringlah berziarah ke Kubur;
44. Doakan orangtua dan keluarga yang telah meninggal dunia
45. Cintailah seseorang dengan tidak berlebih-lebihan;
46. Jangan takut kepada mahluk/manusia;
47. Jangan marah berlebih-lebihan;
48. Bersyukur apabila mendapat nikmat;
49. Sabar apabila mendapat kesulitan;
50. Tawakal apabila mempunyai rencana/ program;
51. Ikhlas dalam segala amal perbuatan;
52. Jangan membiarkan hati larut dalam kesedihan;
53. Jangan menyesal atas sesuatu kegagalan;
54. Jangan putus asa dalam menghadapi kesulitan;
55. Jangan hasud, usil dan iri dengan kekayaan dan kesuksesan orang ;
56. Jangan terlalu ambisius akan sesuatu kedudukan;
57. Jangan hancur karena kezaliman;
58. Jangan goyah karena fitnah;
59. Jangan bekeinginan terlalu tinggi yang melebihi kemampuan diri;
60. Bersatulah karena Allah dan berpisahlah karena Allah;
61. Patuhi ulil amri/Pemimpin/Pemerintah dan hukum yang diterapkan oleh Negara;
62. Penuhi janji apabila telah diikrarkan dan mintalah maaf apabila karena sesuatu sebab tidak dapat dipenuh dan jangan berkhianati;
63. Jangan mempunyai musuh, kecuali dengan iblis/syetan;
64. Jangan percaya ramalan manusia;
65. Jangan terlampau takut miskin;
66. Hormatilah setiap orang;
67. Bersihkan rumah dari patung-patung berhala;
68. Bicaralah secukupnya, jangan berbicara dengan berteriak;
69. Beristri/ bersuami kalau sudah siap segala-galanya;
70. Hargai waktu, disiplin waktu dan manfaatkan waktu;
71. Biasakan hidup bersih, tertib dan teratur;
72. Jauhkan diri dari penyakit-penyakit bathin;
73. Sediakan waktu untuk santai dengan keluarga;
74. Makanlah secukupnya tidak kekurangan dan tidak berlebihan;
75. Hormatilah kepada guru dan ulama;
76. Jangan terlalu banyak hutang dan jangan royal;
77. Jangan terlampau mudah berjanji;
78. Perbanyak senyum dan bersikap ramah;
79. Selalu ingat akan saat kematian dan sadar bahwa kehidupan dunia adalah kehidupan sementara;
80. Jauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat seperti mengobrol yang tidak berguna;
81. Jangan dendam dan jangan ada keinginan membalas kejahatan dengan kejahatan lagi, balaslah dengan kebaikan;
82. Jangan membenci seseorang karena paham dan pendirian ataupun beda pendapat;
83. Jangan benci kepada orang yang membenci kita;
84. Berlatih untuk berterus terang dalam menentukan sesuai pilihan;
85. Laksanakan segala tugas dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan;
86. Hormati orang lain yang lebih tua dari kita;
87. Jangan membuka aib orang lain ataupun berburuk sangka;
88. Lihatlah orang yang lebih miskin daripada kita, lihat pula orang yang lebih berprestasi dari kita;
89. Ambilah pelajaran dari pengalaman orang-orang arif dan bijaksana;
90. Sediakan waktu untuk merenung apa-apa yang sudah dilakukan;
91. Jangan minder karena miskin dan jangan sombong karena kaya;
92. Jadilah manusia yang selalu bermanfaat untuk agama, bangsa dan negara;
93. Kenali kekurangan diri dan kenali pula kelebihan orang lain;
94. Jangan membuat orang lain menderita dan sengsara;
95. Berkatalah yang baik-baik atau tidak berkata apa-apa;
96. Hargai prestasi dan pemberian orang;
97. Jangan habiskan waktu untuk sekedar hiburan dan kesenangan;
98. Akrablah dengan setiap orang, walaupun yang bersangkutan tidak menyenangkan;
99. Sediakan waktu untuk berolahraga yang sesuai dengan norma-norma agama dan kondisi diri kita;
100. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan fisik atau mental kita menjadi terganggu;
101. Ikutilah nasihat orang-orang yang arif dan bijaksana;
102. Pandai-pandailah untuk melupakan kesalahan orang dan pandai-pandailah untuk melupakan jasa kita;
103. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan orang lain terganggu, dan jangan berkata sesuatu yang dapat menyebabkan orang lain terhina;
104. Jangan cepat percaya kepada berita jelek yang menyangkut teman kita, sebelum dicek kebenarannya;
105. Jangan menunda-nunda pelaksanaan tugas dan kewajiban;
106. Sambutlah uluran tangan setiap orang dengan penuh keakraban dan keramahan dan tidak berlebihan;
107. Jangan memforsir diri untuk melakukan sesuatu yang di luar kemampuan diri;
108. Waspadalah akan setiap ujian, cobaan, godaan dan tantangan. Jangan lari dari kenyataan kehidupan;
109. Yakinlah bahwa setiap kebajikan akan melahirkan kebaikan dan setiap kejahatan akan melahirkan kerusakan;
110. Jangan sukses di atas penderitaan orang dan jangan kaya dengan memiskinkan orang;

Sabtu, 27 November 2010

Menekan Faktor Penghambat Anak Menghafal Al-Qur'an



Menjadi penghafal Al-Qur’an memiliki keistimewaan dan kebanggaan tersendiri. Betapa tidak, Allah melimpahkan banyak kebaikan dan keutamaan kepada para penghafal Al-Qur’an. Ini mengingat, seorang penghafal Al-Qur’an menjadi sebuah sarana di dunia untuk menjaga kitab suci-Nya.

Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Quran dan Kamilah yang akan menjaganya” (Qs Al-Hijr 9).

Namun alangkah lebih baiknya jika Al-Qur’an dihafal sejak usia dini. Karena pada masa itu otak mereka masih bersih, sehingga bagai mengukir di atas batu. Al-Qur’an bisa membuat otak anak menjadi lebih cerdas. Selain itu, seorang anak yang menghafal Al-Qur’an bisa menjadi sarana bagi orangtua mendapatkan keutamaan dari Allah. Dan tentunya, orangtua, pendidik, dan pengajar memiliki peran besar dalam mendidik anak agar mau mencintai dan menghafal Al-Qur’an.

…Selain menerapkan metode penghafalan Al-Qur’an, orangtua dan pendidik harus memahami faktor penghambat kecintaan anak terhadap Al-Qur’an…

Selain menerapkan metode penghafalan Al-Qur’an yang sesuai dengan anak-anak, para orangtua dan pendidik pun harus menyadari berbagai faktor penghambat kecintaan anak terhadap Al-Qur’an. Dalam bukunya Kaifa Nuhabbib Al-Qur’an li Abna`ina, DR. Sa’ad Riyadh menuliskan beberapa penghambat tersebut di antaranya:

1. Ketidaktahuan karakteristik pertumbuhan anak

Ketidaktahuan karakteristik pertumbuhan anak, sehingga guru atau orangtua memperlakukan anak didiknya tanpa mengetahui kondisi yang dihadapi anak. Jelas hal demikian akan memicu terjadinya kesalahan.

2. Miskin metode dan sarana pengajaran

Miskin metode dan sarana pengajaran, atau guru bersikukuh menerapkan metode pengajaran yang menyebabkan kebosanan dalam diri anak. Hal ini menyebabkan anak tidak konsisten dalam mencintai Al-Qur’an.

3. Polusi wawasan dan informasi

Polusi wawasan dan informasi yang ada di sekitar anak dapat menyibukkan hati dan daya ingat anak dengan hal-hal yang diyakininya sebagai suatu kemajuan dan modernitas. Misalnya adalah nyanyian-nyanyian dan tayangan-tayangan sinetron yang tidak mendidik. Semua hal tersebut dapat memalingkan anak dari mencintai dan menghafal Al-Qur’an.

…Polusi wawasan dan informasi yang ada di sekitar anak dapat menyibukkan daya ingat, lalu memalingkan anak dari mencintai dan menghafal Al-Qur’an…

4. Pemahaman dan paradigma guru yang keliru

Pemahaman dan paradigma keliru yang terdapat pada diri guru. Misalnya guru melakukan pemaksaan dalam mengajar, atau memberlakukan pemaksaan dalam mengajar, atau menerapkan hukuman yang keras, atau mengusik harga diri anak ketika memberikan pengarahan dan perintah. Hal-hal tadi menyebabkan anak terhalang dari kecintaan kepada Al-Qur’an.

5. Sahabat yang buruk

Secara umum, sahabat yang buruk juga menjadi faktor penyebab kegagalan anak dan menjadi penyebab negatif hubungan anak dengan Al-Qur’an. Teman yang buruk juga menjadi penyebab utama yang meruntuhkan bangunan pendidikan yang sebelumnya telah dirintis oleh orang tua atau pendidik.

6. Tidak konsisten dalam memberikan perintah dan arahan.

Hal ini akan menyebabkan reaksi negatif pada diri anak serta berpengaruh terhadap hubungan cinta antara anak dan orangtua. Dan pada gilirannya akan menyebabkan hubungan yang tidak baik antara anak dan Al-Qur’an. Contoh dari inkonsistensi pendidikan adalah ketika sang ayah bertindak disiplin dalam mengajarkan Al-Qur’an, sementara si ibu terlalu memanjakan anak, atau sebaliknya. Atau bisa juga pada satu waktu orangtua atau pendidik intens memantau perkembangan anak, namun pada di waktu lainnya mereka sepertinya tidak memberikan perhatian kepada sang anak.

Demikianlah, semoga ke depannya kita bisa lebih mumpuni dalam mendidik anak untuk menghafal Al-Qur’an. Karena salah satu amanah yang harus ditunaikan orangtua adalah menjadikan anak-anak agar mencintai dan dekat dengan Al-Qur’an; memahami serta menghafalnya. Hal ini menjadi investasi besar yang ditanamkan para orangtua untuk kelak mendapatkan keutamaan serta pahala dari Allah Ta’ala. Karena balasan Allah Ta’ala di akhirat tidak hanya bagi para penghafal dan Al-Quran saja, namun cahayanya juga menyentuh kedua orang tuanya, dan ia dapat memberikan sebagian cahaya itu kepadanya dengan berkah Al-Qur’an.

Dari Buraidah dia berkata bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang membaca Al-Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikanlah mahkota dari cahaya pada Hari Kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari, kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, ‘Mengapa kami dipakaikan jubah ini?’ dijawab: ‘Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al-Qur’an’.” (Hadits riwayat Al-Hakim dan dia menilainya shahih berdasarkan syarat Muslim [1/568], dan disetujui oleh Adz-Dzahabi. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya [21872] dan Ad-Darimi dalam Sunan-nya [3257]).

Kedua orangtua mendapatkan kemuliaan dari Allah, karena keduanya berjasa mengarahkan anaknya untuk menghafal dan mempelajari Al-Quran sejak kecil. Dan dalam hadits di atas juga terdapat dorongan bagi para ayah dan ibu untuk mengarahkan anak-anaknya menghafal Al-Qur’an sejak dini.

dikutip dari www.shalihah.com

Sang 'Ghuroba' Remaja

"Diceritakan oleh seorang remaja muslimah yang tinggal di lingkungan non Islami".

“Islam mulai muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awal munculnya maka beruntunglah orang-orang asing itu”. [Hadits Muslim no. 145]

Saya tidak pernah merasa aneh saat masih bersekolah di TK -saya pikir saya masih terlalu kecil untuk memahaminya. Namun tak sampai di kelas satu, saya mulai merasakan perbedaan. Ketika teman-teman saya berada di kelas musik, saya tetap bertahan di kelas kami. Saya duduk di meja saya sambil menatap kertas kepunyaan guru, bertanya-tanya mengapa saya tidak bersama dengan yang lain. Ya, saya paham bahwa musik itu haram… tapi mengapa “aku” menjadi berbeda dengan yang lain? Saya bertanya dengan pertanyaan itu berulang-ulang. Kenapa AKU? Sebulan kemudian saya merasa sedih melihat teman-teman sekolah berjalan berbaris dengan bangga di dalam ruangan hingga ke luar -dalam kostum labu, kucing, penyihir, hantu- membenci fakta bahwa aku seorang muslim yang harus berbeda. Natal, Thanksgiving, Valentine, dan Paskah tidak ada yang berbeda. Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, tahun demi tahun, semuanya sama.

Di rumah, setelah sekolah, saat bersama-sama dengan teman-teman Muslim di kota Iowan, perasaan itu akan hilang, dan aku berpikir pada diri sendiri bahwa menjadi seorang muslim adalah hal terbaik dalam hidup. Bukankah ayah saya menceritakan kisah Nabi Ibrahim (‘alaihissalam) tadi malam? Orang yang pada awalnya hanya sendirian dengan keislamannya. Hingga ia dapat mengenal Allah. Dan bagaimana dengan kisah-kisa hebat, Umar yang bijaksana, baik hati, lembut, Abu Bakar yang jujur, takut pada Allah, Bilal yang berani. (Dibandingkan) dengan mereka yang Santa Clause, St. Valentines, dan kelinci-kelinci Paskah? Mereka berterima kasih melalui Thanksgiving kepada Tuhan mereka, (sedangkan) kita (berterima kasih) sepanjang tahun. Tapi begitu di kelas, dikelilingi oleh teman-teman saya sesama siswa, saat mereka berceloteh dengan semangat tentang apa yang mereka punya untuk Natal, atau kemana mereka pergi saat Paskah, kisah-kisah indah itu lenyap diganti dengan kebencian pahit terhadap agama saya.

Saat kelas lima, keadaan menjadi lebih baik. Saya menjadi lebih tua, mengerti lebih sedikit, tapi perasaan itu selalu ada. Khususnya menguat ketika aku harus memulangkan undangan pesta tidur atau pesta ulang tahun dengan sopan dengan alasan aku sangat sibuk di tanggal tersebut. Atau ketika, kadang-kadang pada akhir musim semi, teman sekelas akan bertanya-tanya mengapa aku tidak pernah memakai celana pendek atau rok mini.

Hingga sekitar kelas empat, teman-temanku kebanyakan laki-laki. Sejak awal saya telah belajar, jika tak benar-benar cocok maka akan susah untuk menjadi dekat dengan anak-anak wanita. Mereka selalu membentuk kelompok, terutama di awal-awal tahun, “kelompok khusus”. Dengan teman-teman anak lelaki, tak sama. Diam-diam aku berpikir bahwa umumnya gadis-gadis itu sangat membosankan dan anak laki-laki selalu lebih menarik. Tapi saat mereka di kelas 9 dan 10, anak-anak laki-laki mulai tertarik dengan kelompok anak-anak perempuan, begitu juga sebaliknya. Sehingga, sejak saat itu, saya benar-benar di luar kelompok. Saya cocok dengan tidak bergabung pada keduanya.

Aku mulai menggunakan jilbab pada saat itu. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, itu adalah salah satu hal terhormat yang saya lakukan. Aku pergi ke sekolah yang sama sejak kelas satu sehingga orang-orang telah mengenal saya. Tidak ada kejutan karena telah terbiasa melihat ibu saya yang datang dan pergi dengan menggunakan jilbab utuh dan menganggap bahwa suatu hari nanti saya juga akan menggunakannya. Hal itu menjadi mudah bagi saya karena saya tidak terlalu perhatian terhadap penampilan, berpakaian, rambut seperti halnya anak-anak remaja di awal usia 10 dan 11 tahun.

Selama musim panas sebelum kelas 6, kami pindah ke negara lain. Orang tua saya memutuskan untuk menyekolahkan saya di rumah (home schooling), tingkat pendidikan di negara ini tidak terlalu tinggi. Alhamdulillah, karena itu adalah salah satu pilihan terbaik yang pernah mereka buat. Hal ini memberikan saya satu tahun penuh untuk berpikir tentang saya sendiri dan alasan mengapa saya berada di bumi ini. Saya memiliki lebih banyak kesadaran dan pemahaman pada agama dan diri saya sendiri saat kelas tujuh, ketika karena tugas ayah saya, kami harus pindah lagi ke kota lain dan saya dimasukkan kembali ke sekolah umum. Kali ini aku ditempatkan di sebuah sekolah yang didominasi bangsa Afrika-Amerika (memiliki program bahasa, Bahasa Arab merupakan salah satu yang diajarkan), benar-benar berbeda dari sekolah “kulit putih” yang telah saya masuki selama ini. Alhamdulillaah, perubahan itu menjadi lebih baik – mereka lebih banyak menerima kaum minoritas dan perbedaan di sekolah itu. Itu bukanlah satu-satunya “perubahan untuk yang lebih baik”. Kali ini masalahku bukanlah membenci mengapa aku menjadi beda. Sekarang ada perubahan dalam diriku. Aku benci dengan cara-cara teman sekelasku bertindak, hal-hal yang mereka bicarakan, cara mereka berpakaian. Intinya adalah, aku benci dengan kaum kufaar tersebut. Akhirnya, aku mencintai menjadi berbeda.

Tahun tersebut merupakan tahun terakhir saya di sekolah umum. Orang tua saya memutuskan untuk memberikan saya home schooling, akhirnya menyadari sepenuhnya dampak dari sekolah umum. “Aku tak perlu menjadi berbeda lagi.” Aku ingat bagaimana aku begitu bersemangat menulis dalam jurnal saat di awal kelas delapan. Sedikitnya yang kutahu.

Tahun berikutnya kami pindah ke kota dengan komunitas Muslim cukup besar. Aku benar-benar senang, berpikir bahwa sekarang, sejak sekian lama, saya akan berada di tempat yang seharusnya saya berada. Saya merasa seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Dan … tapi hanya sebagian, sedikit kurang.

Dari sekarang hingga nanti, saat saya bercerita dengan Muslim lainnya tentang pelarangan musik, atau mengapa kita tidak boleh pergi ke bioskop, atau mengapa lebih baik menggunakan jilbab dibandingkan hanya memakai rok panjang dan kemeja, atau mengapa kita harus mengikuti sunnah Nabi (shalallahu ‘alaihi wa sallam) tidak hanya Al-Qur’an, dan tiba-tiba aku mendapatkan pang, “Aku begitu berbeda, begitu aneh! Mengapa??” Kadang-kadang, ketika aku sedang duduk bersama sekelompok teman-teman muslimah seumuranku lainnya, berbicara, mungkin tertawa dan bercanda. Ketika percakapan, entah bagaimana, tiba-tiba berubah menjadi Will Smith, Madonna, tips make-up terbaru dalam (majalah) Seventeen. Tiba-tiba udara dingin seakan-akan mengalir dalam tubuh saya, saya merasa seolah-olah mereka semua satu dan aku berada di sisi lain. “Sekarang aku berada di kalangan umat Islam tapi aku masih menjadi orang luar,” pikirku saat melihat mereka.

Tapi tidak seperti tahun-tahun sebelumnya ketika aku membenci siapa aku karena aku berbeda. Sekarang aku tersenyum dan menemukan kekuatan dalam mengingat kata-kata Rasulullah (shalallahu ‘alaihi wa sallam).

“Islam mulai muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awal munculnya maka beruntunglah orang-orang asing itu”. [Hadits Muslim no. 145]

Jika Impian Hancur Berantakan

"Hancur sudah impian saya. Apa yang bisa saya lakukan?” Tidak asing membaca kalimat ini? Setidaknya kalimat yang senada. Dan ini adalah wajar, tidak semua yang kita impikan akan tercapai meski kita sudah ikhtiar dengan optimal. Banyak kemungkinan mengapa impian kita hancur.

Bisa jadi Allah menunjukan kepada kita, bahwa impian kita itu bukan yang terbaik bagi kita. Bisa jadi Allah memberikan hikmah kepada kita lewat kehancuran impian Anda. Bisa jadi Allah menguji kita. Bisa jadi Allah akan memberi sesuatu yang jauh lebih baik dibanding impian kita. Bisa jadi …. yah, banyak sekali kemungkinan.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al Baqarah:216)

Namun, yang terpenting adalah bagaimana kita bersikap saat impian kita hancur berantakan. Banyak orang yang berhenti, menyerah, dan hanya mengeluh. Dia tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali sakit hati yang semakin menggunung. Mereka beranggapan bahwa mereka tidak lagi perlu bermimpi karena mimpi mereka sudah hancur.

Tidak, sahabatku. Kata siapa impian itu hanya satu? Kita bisa membangun impian yang lain dan mengejarnya lagi. Ingatlah apa yang Anda impikan selama ini bukanlah satu-satunya impian. Dan juga belum tentu yang terbaik. Atau…

Kata siapa cara meraih impian cuma satu? Jika satu cara salah, kita bisa coba cara lain. Mungkin juga kita kurang optimal dalam meraih mimpi. Mungkin strategi kita salah, maka rumuskan strategi baru. Mungkin taktik kita salah, maka rancanglah taktik baru.

Berhenti adalah cara pasti untuk gagal. Lebih parah lagi, berhenti akan menjadikan kita tidak lagi menggampai mimpi-mimpi yang lain. Jika impian Anda hancur berantakan, maka bangunlah mimpi baru dan/atau lakukan cara baru dalam meraihnya.

Sebagai penutup, mari kita renungkan hadits berikut:

Aku mengagumi seorang mukmin. Bila memperoleh kebaikan dia memuji Allah dan bersyukur. Bila ditimpa musibah dia memuji Allah dan bersabar. Seorang mukmin diberi pahala dalam segala hal walaupun dalam sesuap makanan yang diangkatnya ke mulut isterinya. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Sabtu, 17 April 2010

Hasan bin Ali bin Abu Talib (3-50 H)

Dia adalah putra sulung Ali bin Abu Talib dengan Fatimah Postur dan paras mukanya mirip dengan Rasulullah. Dia diangkat sebagai khalifah sepeninggal ayahnya. Dia lebih mengutamakan tidak berperang, menghindari pertumpahan darah sesama muslim, untuk itu dia menyerahkan kursi ke khalifahan kepada Muawiah sampai dia meninggal dunia di Madinah.

Riwayat Hidup Al-Hasan dan Wafatnya

Oleh: Ustadz Muhammad Umar Sewed

Beliau dilahirkan pada bulan Ramadlan tahun ke-3 Hijriyah menurut kebanyakan para ulama sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Hajar. (lihat Fathul Bari juz VII, hal. 464)

Setelah ayah beliau Ali bin Abi Thalib radhiya­llahu ‘anhu terbunuh, sebagian kaum muslimin membai’at beliau, tetapi bukan karena wasiat dari Ali. Berkata Syaikh Muhibbudin al-Khatib bahwa diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnyajuz ke-1 hal. 130 -setelah disebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib akan terbunuh- mereka berkata kepadanya: “Tentukanlah penggantimu bagi kami.” Maka beliau menjawab: “Tidak, tetapi aku tinggalkan kalian pada apa yang telah ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam….” Dan disebutkan oleh beliau (Muhibuddin Al-Khatib) beberapa hadits dalam masalah ini. (Lihat Ta’liq kitab Al-’Awashim Minal Qawashim, Ibnul Arabi, hal. 198-199). Tetapi setelah itu Al-Hasan menyerahkan ketaatannya kepada Mu’awiyah untuk mencegah pertumpahan darah di kalangan kaum muslimin.


Kisah tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab As-Shulh dari Imam Al-Hasan Al-Bashri, dia berkata: -Demi Allah- Al-Hasan bin Ali telah menghadap Mu’awiyah beserta beberapa kelompok pasukan berkuda ibarat gunung, maka berkatalah ‘Amr bin ‘Ash: “Sungguh aku berpen­dapat bahwa pasukan-pasukan tersebut tidak akan berpaling melainkan setelah membunuh pasukan yang sebanding dengannya”. Berkata kepadanya Mu’awiyah -dan dia demi Allah yang terbaik di antara dua orang-: “Wahai ‘Amr! Jika mereka sa­ling membunuh, maka siapa yang akan memegang urusan manusia? Siapa yang akan menjaga wanita-­wanita mereka? Dan siapa yang akan menguasai tanah mereka?” Maka ia mengutus kepadanya (Al-­Hasan) dua orang utusan dari Quraisy dari Bani ‘Abdi Syams Abdullah bin Samurah dan Abdullah bin Amir bin Kuraiz, ia berkata: “Pergilah kalian berdua kepada orang tersebut! Bujuklah dan ucapkan kepadanya serta mintalah kepadanya (perdamaian -peny.)” Maka keduanya mendatangi­nya, berbicara dengannya dan memohon pada­nya…) kemudian di akhir hadits Al-Hasan bin Ali meriwayatkan dari Abi Bakrah bahwa dia melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas mimbar dan Hasan bin Ali di sampingnya beliau sesaat menghadap kepada manusia dan sesaat melihat kepadanya seraya berkata :

َإِنَّ ابْنِى هَذَا سَيِّدٌ، وَلَعَلَّ اللهَ أَنْ يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ عَظِيْمَتَيْنِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ. (رواه البخارى مع الفتح ?/64? رقم 2?04)

Sesungguhnya anakku ini adalah sayyid, semoga Allah akan mendamaikan dengannya antara dua kelompok besar dari kalangan kaum muslimin. (HR. Bukhari dengan Fathul Bari, juz V, hal. 647, hadits no. 2704)

Berkata Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah: “….Al-Husein menyalahkan saudaranya Al-Hasan atas pendapat ini, tetapi beliau tidak mau mene­rimanya. Dan kebenaran ada pada Al-Hasan sebagaimana dalil yang akan datang….” (lihat Al­Bidayah wan Nihayah, juz VIII hal. 17). Yang dimaksud oleh beliau adalah dalil yang sudah kita sebutkan di atas yang diriwayatkan dari Abi Bakrah radhiyallahu ‘anhu.

Itulah keutamaan Al-Hasan yang paling besar yang dipuji oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka bersatulah kaum muslimin hingga tahun tersebut terkenal dengan tahun jama’ah.

Yang mengherankan justru kaum Syi’ah Rafidlah menyesali kejadian ini dan menjuluki Al-­Hasan radhiyallahu ‘anhu sebagai ‘pencoreng wajah-wajah kaum mukminin’. Sebagian mereka menganggapnya fasik sedangkan sebagian lagi bahkan mengkafirkannya karena hal itu. Berkata Syaikh Muhibbudin Al-Khatib mengomentari ucapan Rafidlah ini sebagai berikut: “Padahal termasuk dari dasar-dasar keimanan Rafidlah -bahkan dasar keimanan yang paling utama- adalah keyakinan mereka bahwa Al-Hasan, ayah, saudara dan sem­bilan keturunannya adalah maksum. Dan dari kon­sekwensi kemaksuman mereka, bahwa mereka tidak akan berbuat kesalahan. Dan setiap apa yang ber­sumber dari mereka berarti hak yang tidak akan terbatalkan. Sedangkan apa yang bersumber dari Al­-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma yang paling besar adalah pembai’atan terhadap amiril mukminin Mu’awiyah, maka mestinya mereka pun masuk dalam bai’at ini dan beriman bahwa ini adalah hak karena ini adalah amalan seorang yang maksum menurut mereka. (Lihat catatan kaki kitab Al-­Awashim minal Qawashim hal. 197-198).

Tetapi kenyataannya mereka menyelisihi imam mereka sendiri yang maksum bahkan menyalahkannya, menfasikkannya, atau mengka­firkannya. Sehingga terdapat dua kemungkinan :

- Pertama, mereka berdusta atas ucapan mereka tentang kemaksuman dua belas imam, maka hancurlah agama mereka (agama Itsna ‘Asyariyyah).

- Kedua, mereka meyakini kemaksuman Al-Hasan, maka mereka adalah para peng­khianat yang menyelisihi imam yang maksum dengan permusuhan dan kesombongan serta kekufuran. Dan tidak ada kemungkinan yang ketiga.

Adapun Ahlus Sunnah yang beriman dengan kenabian “kakek Al-Hasan” shallallahu ‘alaihi wa sallam berpendapat bahwa perdamaian dan bai’at beliau kepada Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu adalah salah satu bukti kenabian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan amal terbesar Al-Hasan serta mereka bergembira dengannya kemudian menganggap Al­Hasan yang memutihkan wajah kaum mukminin.

Demikianlah khilafah Mu’awiyah berlang­sung dengan persatuan kaum muslimin karena Al­lah Subhanahu wa Ta ‘ala dengan sebab pengor­banan Al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhu yang besar yang dia -demi Allah- lebih berhak terhadap khilafah daripada Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Bakar Ibnul Arabi dan para ulama. Semoga Allah meridlai seluruh para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada tahun ke 10 masa khilafah Mu’awiyah meninggallah Al-Hasan radhiyallahu `anhu pada umur 47 tahun. Dan ini yang dianggap shahih oleh Ibnu Katsir, sedangkan yang masyhur adalah 49 tahun. Wallahu A’lam bish-Shawab. Ketika beliau diperiksa oleh dokter, maka dia mengatakan bahwa Al-Hasan radhiyallahu ‘anhu meninggal karena racun yang memutuskan ususnya. Namun tidak diketahui dalam sejarah siapa yang membunuh­nya. Adapun ucapan Rafidlah yang menuduh pihak Mu’awiyah sebagai pembunuhnya sama sekali tidak dapat diterima sebagaimana dikatakan oleh Ibnul ‘Arabi dengan ucapannya:

“Kami mengatakan bahwa hal ini tidak mungkin karena dua hal:

Pertama, bahwa dia (Mu’awiyah) sama sekali tidak mengkhawatirkan kejelekan apapun dari Al-Hasan karena beliau telah menyerahkan urusannya kepada Mu’awiyah. Yang kedua, hal ini adalah perkara ghaib yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah, maka bagaimana mungkin menuduhkannya kepada salah seorang makhluk-Nya tanpa bukti pada zaman yang berjauhan yang kita tidak dapat mudah percaya dengan nukilan seorang penukil dari kalangan pengikut hawa nafsu (Syi’ ah). Dalam keadaan fitnah dan Ashabiyyah, setiap orang akan menuduh lawannya dengan tuduhan yang tidak semestinya, maka tidak mungkin diterima kecuali dari seorang yang bersih dan tidak didengar darinya kecuali keadilan.” (Lihat Al-Awashim minal Qawashim hal. 213-214)

Demikian pula dikatakan oleh Syaikhul Is­lam Ibnu Taimiyyah bahwa tuduhan Syi’ah tersebut tidak benar dan tidak didatangkan dengan bukti syar’i serta tidak pula ada persaksian yang dapat diterima dan tidak ada pula penukilan yang tegas tentangnya. (Lihat Minhajus Sunnah juz 2 hal. 225)

Semoga Allah merahmati Al-Hasan bin Ali dan meridlainya dan melipatgandakan pahala amal dan jasa-jasanya. Dan semoga Allah menerimanya sebagai syahid. Amiin.

Jumat, 20 November 2009

PW PII Evaluasi Pendidikan Gratis

Jumat, 20-11-09 | 20:18


MAKASSAR, FAJAR.co.id -- PENGURUS Wilayah (PW) Pelajar Islam Indonesia (PII) Sulsel, mengkritik program pendidikan gratis milik Pemprov Sulsel. Program ini dianggap tidak memiliki sandaran konsepsi yang jelas bahkan sebatas formalitas belaka.

"Dalam mencapai tataran kebijakan, pendidikan gratis tidak memiliki
syarat yang komprehensif dan kuat. Apalagi mencapai tataran konsepsi tidak ada sama sekali sandaran konsepsinya," kritik Ketua PW PII Sulsel, Nugrah Yatna Utama, saat bertandang ke redaksi Harian Fajar. Nugrah Yatna didampingi Bendahara PW PII Sulsel, Nur Ikhsan.

Menurut Nugrah Yatna, pihaknya telah melakukan telaah kritis terhadap program pendidikan gratis. Ada sejumlah kelemahan yang mereka temukan. Misalnya, perhatian terhadap pendidikan usia dini yang masih kurang, ruang sempit bagi yang kurang mampu untuk lanjut ke pendidikan tinggi. (ram)

Kamis, 19 November 2009

Quantum Learning PII Sinjai Direspon


Pendidikan, kini menjadi isu yang tak asing lagi untuk diperbincangkan.Tema ini seolah tak pernah lepas dari perbincangan umat manusia, termasuk Indonesia. Betapa tidak! Pendidikan adalah salah satu motor ideology yang menjadi kunci utama kemajuan sauté bangsa. Maka tak heran, jikalau pendidikan adalah salah satu pilar Kabupaten Sinjai, yang terus diperjuangkan.

Berangkat dari sini, Pengurus Daerah Pelajar Islam Indonesia (PD PII) Sinjai mencoba merintis sebuah kegiatan yang tentu tak lepas dari tema Pendidikan tersebut: Quantum Learning. Dengan mengusung tema: ”Menemukenali Quantum Learning dalam Melejitkan Semangat Belajar Meraih Kesuksesan”, setidaknya kegiatan ini bisa menjadi stimulasi buat pelajar Sinjai pada khususnya, terutama dalam meningkatkan semangat belajarnya. Sehingga, mereka mampu menjadi pelajar-pelajar berprestasi. Adapun pemateri yang mengisi kegiatan tersebut adalah kader-kader senior PII dan dari Pengurus Wilayah PII Sul-Sel.


Kegiatan Quantum Learning ini dilaksanakan pada hari Ahad, tanggal 8 November 2009, tepatnya di Gedung Sinjai Bersatu. Dengan jumlah peserta lebih dari 115 orang, yang terdiri dari pelajar SMP dan SMA se-Sinjai. Adapun materi-materi yang disajikan adalah Filosofis belajar dan Quantum Learning, serta Teknik-teknik Quantum Learning (Teknik Membaca: The Power of Reading, Teknik Menghafal: Meningkatkan Daya ingat, Strategi Mencatat Efektif, dan Teknik Menulis). “Alhamdulillah, kegiatan ini mendapat respon yang luar biasa dari teman-teman pelajar se-Sinjai. Paling tidak, ini menunjukkan bahwa pelajar Sinjai masih memiliki minat terhadap pendidikan,” begitu yang diucapkan Yunita, ketua panitia.(Yana Yan)

Rabu, 11 November 2009

Menjawab Pernyataan John Palinggi terhadap Realitas Obyektif "Impeachment" SBY

Oleh: Nugrah Yatna Utama

Ada beberapa point yang sangat urgen dan seharusnya menjadi kajian strategis kita bersama terhadap tulisan atau pernyataan dari pengamat kepolisian John Palinggi, secara real kami melihat ada beberapa hal yang beliau nyatakan selaku pengamat kepolisian :
a. adanya upaya mendiskretkan atau mendegradasikan presiden SBY atau "impeachment" terhadap SBY.
b. adalah SBY dituduh telah melakukan intervensi langsung terhadap penyelesaian skandal ini, walaupun telah di bentuk TPF (Tim 8).

Kalau orang yang terperangkap pada informasi ini tanpa menganalisisnya lebih mendalam ditambah lagi "hipotesa" yang keluar dari pengamat jelas dia akan sependapat dengan hal ini, akan tetapi bagi saya secara pribadi banyak kejanggalan-kejanggalan yang timbul setelah skandal ini muncul terkhusus pada pernyataan-pernyataan yang di keluarkan oleh bapak John Palinggi.

Pertama adanya upaya mendiskretkan atau mendagradasi SBY terkhusus terhadap posisi dan jabatannya selaku presiden RI apalagi hal ini di akibatkan beberapa orang yang tidak puas terhadap hasil Pemilu yang menempatkan SBY sebagai pemenang mutlak, ini pernyataan provokatif dan menggiring opini masyarakat untuk tidak berpikir kritis terhadap problematika yang muncul. Analisis saya terhadap kasus ini dengan memakai logika pembanding bahwa tidak semua yang muncul terkhsus skandal ini sebagai upaya "impeachment" terhadap SBY, akan tetapi lebih real lagi bahwa disinilah mulai terbuka borok-borok(skandal) yang di tutupi oleh KPK dan permainan curang dan licik dari anggoro dan anggodo sehingga inti dari itu semua adalah menjaga kepentingan SBY yang sangat banyak apalagi saking banyaknya kepentingan ini timbul kontraproduktif di dalam implementasinya termasuk peran-peran mis-job dari KPK dan Anggodo yang seharusnya bagi SBY itu tidak akan terjadi apalagi menggangu eksistensi tendensinya di Indonesia, saya melihat sekarang bahwa SBY harap-harap cemas semoga kasus ini tidak terus bergulir dan melebarkan sayap penyelidikannya sehingga dia membentuk tim "independen" untuk mengkaburkan isu ini terkhusus yang berkaitan dengan kepentingannya sendiri, SBY sangat cerdas sebelum oposisi merangsek dan mengkritisi kebijakannya, di dekati dan diberikan posisi strategis, partai yang notabenenya berpeluang menjadi oposisi pun di goyang dan di susupi sehingga menjadi lunak dan menjadi pengikut setia, permainan SBY memang cantik dan ciamik, saya berani bertaruh kenapa tidak ada yang berani menyelidiki nama2 yang di sebutkan di hasil sadap pembicaraan anggodo dan beberapa orang,termasuk bapak SBY kok yang lain dipaksakan untuk diselidiki sedangkan yang lain tidak, kan yang timbul ketidakadilan terhadap penyelidikan skandal ini, apalagi KPK juga terkesan tebang pilih terhadap penyelesaian beberapa kasus,belum lagi si licik Anggodo/Anggoro yang begitu mudahnya mengobok-obok supremasi dan penegakan hukum di Indonesia.

Kedua tentang intervensi yang dilakukan SBY terhadap skandal ini, sudah sangat jelas secara kasat mata konspirasi yang dilakukan sangat vulgar di perlihatkan, terkhusus dengan membnetuk lembaga independen TPF itu sendiri, sampai hari ini untuk berbicara tentang nilai independensi di Indonesia sangat susah bahkan tidak berlaku, apalagi jika kita ingin berbicara tentang sebuah idealisme, TPF itu sendiri tidak bisa kita nafikkan sebagai tim khusus yang memang hasil karya tangan SBY itu sendiri,orang berbeda, walaupun sang ketua tim adnan buyung nasution berkali-kali mengklarifikasi di media bahwa mereka adalah tim independen,tapi walaupun di tutupi yang namanya bangkai akan tercium juga, bagi orang yang berpikir kritis dan realis, sekarang kalau kita melihat pola kerja yang di lakukan oleh TPF adalah polarisasi kerja subyektif, tekanan-tekanan yang mereka lakukan serta pernyataan-pernyataan mereka terkesan seperti ada yang di sembunyikan terkhusus bagi si empunya yang membuat tim ini, tak bisa saya bayangkan jika tim ini dibuat untuk menjaga pamor penguasa dan kepentingannya, Polisi, kejaksaan, KPK, anggodo dan anggoro hanya wayang saja yang memang di angkat dan dimainkan demi kepentingan dalangnya, sangat menarik….

Hari ini kan dalangnya juga sangat ketakutan jika rahasianya terbuka ke publik luas sehingga sang dalang memakai alur cerita yang lain dengan seolah-olah beliau di dzalimi atau impeachment, melankolis politik, aplikatif dan implementasi kebijakan pemerintah lebih banyak saya lihat dalam kinerja bapak SBY dari jilid I yang kemarin sama saja, kalaupun bapak john palinggi menyampaikan dalam pernyataannya bahwa salah satu contoh tidak ada intervensi SBY adalah besan SBY saja di penjarakan, kenapa saya skeptis dan menganggap pernyataan bapak terlalu normatif dan subyektif, pendapat saya bahwa memang sengaja besannya masuk penjara karena memang digunakan untuk menjaga politik pencitraan dan kredibilitas penguasa itu sendiri apalagi kemarin ini kan sangat relevan dengan jargon politik partainya intinya adalah sikat KKN tanpa pandang bulu, mau besan kek, mau saudara kek, kan sudah terbukti dan teruji, berani-beraninya mengklaim sesuatu yang masih menjadi disapora wacana saat itu sehingga saya mengasumsikan pernyataan partai tersebut sebuah klaim untuk klien (penguasa), seharusnya sebagai masyarakat Indonesia saat ini kita harus cerdas dan kritis melihat kondisi di sekitar kita karena nilai kebenaran di nusantara ini perlahan-lahan mencapai titik nadir dan tertinggal hingga meninggal(mati), di Bangsa ini tidak ada kebenaran yang absolute dan mutlak yang memang sebenar-benarnya kebenaran, yang ada adalah sebenar-benarnya kebenaran demi mencapai kepentingan yang sangat tendensius, kekuasaan sangat berpotensi untuk korup (KKN). Wallahu`alam bishawab…….


Selasa, 03 November 2009

Saya Ini Sedang Futur


saya ini sedang futur
terbukti dengan ogah-ogahan datang ke pengajian tiap pekan
dengan alasan klasik kuliahlah, lelahlah, kerjalah, sibuklah, inilah, itulah

saya ini sedang futur
jarang baca buku tentang Islam, lagi demen baca koran
dulu tilawah tidak pernah ketinggalan sekarang satu lembar udeh lumayan
tilawah sudah tidak berkesan, nonton layar emas ketagihan

saya ini sedang futur
mulai malas sholat malam, jarang bertafakkur
ba'da shubuh, kanan kiri salam, lantas kembali mendengkur
apalagi waktu libur, sampai menjelang dzuhur

saya ini sedang futur
lihat perut semakin buncit, karena junkfood dan pangsit
kalo infaq mulai sedikit dan mulai pelit
apalagi shaum sunnah, perut rasanya ogah

saya ini sedang futur
tak lagi pandai bersyukur
seneng disanjung dikritik murung

saya ini sedang futur
malas ngurusin da'wah, rajin bikin ortu marah
sedikit sekali muhasabah, sering kali meng ghibah

ya..saya memang sedang futur

mengapa saya futur......???
mengapa tidak ada satu ikhwah pun yang menegur dan menghibur??
kenapa batas-batas mulai mengendur??
kepura-puraan, basa basi dan kekakuan subur??
kenapa di antara kita sudah tidak jujur??

kenapa ukhuwah di antara kita sudah mulai luntur??
kenapa di antara kita hanya pandai bertutur??
Ya Allah..berikan hambaMu ini pelipur
agar saya tidak semakin futur
apalagi sampai tersungkur...

ente tau ane lagi futur
sedikit dzikir, banyakan tidur belajar ngawur, IP pun hancur
shohib- shohib kagak ada yang negur

ente tau ane lagi futur
hati beku, otak ngelantur mikirin orang se-dulur,
diri sendiri kagak pernah ngukur

ente taulah ane sekarang
seneng duduk di kursi goyang,
perut kenyang hati melayang
mulut sibuk ngomongin orang,
aib sendiri nggak kebayang

ente tau ane bengal
bangun malem sering ditinggal
otak bebal banyak mengkhayal,
udeh lupa yang namanya ajal

ente tau ane begini
udah sok tau, seneng dipuji ngomong sok suci kayak murrabi,
kagak ngaca diri sendiri

ente tau ane gegabah
petantang petenteng merasa gagah,
diri ngaku-ngaku ikhwah kalo mo muhasabah,
diri ini nggak beda sama sampah

ente tau ane sekarang udah kalah di medan perang
ane pengen pulang kandang,
ke tempat ane dulu datang


nb: buat semua saudaraku....kunjungilah saudaramu tengoklah dia barang sebentar....
mungkin keimanannya sedang berada diujung tanduk
mungkin keimanannaya sedang dipertaruhkan..
raihlah dia..rengkuhlah dia
ajaklah dia bersama melihat terbitnya fajar kebangkitan Islam
ajaklah dia bersama menuju cinta NYA menuju surgaNYa menuju ampunan NYA

janganlah sibuk dengan diri sendiri pedulilah dengan sekelilingmu
pedulilah dengan mereka yang mengharap datangnya secercah cahaya
jadilah orang yang bermanfaat untuk orang-orang disekitarmu



Milis Daarut Tauhiid

Organisasi Pelajar Dukung Gerakan Peduli Padang

Selasa, 06-10-09 | 00:38

MAKASSAR, FAJAR.co.id -- Tiga organisasi pelajar di Sulsel mendukung program Gerakan Peduli Padang yang digagas Gama College. Ketiga organisasi itu adalah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Sulsel, Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Sulsel, dan Pelajar Islam Indonesia (PII) Sulsel.

Dalam pertemuan di kantor Gama College Senin, 5 Oktober kemarin, ketiga organisasi itu bersedia mendukung gerakan peduli untuk Padang.
Pertemuan yang dipimpin Dirut Gama College, AM Iqbal Parewangi itu antara lain dihadiri Nugrah Yatha Utama dari PII, Zamri dari IPM, dan Rahman Haq dari IPNU.


"Energi dan empati kemanusiaan harus terus diradiasikan. Banyak cara termasuk dengan menggugah sesama untuk membantu meringankan beban para korban bencana di Padang," kata Iqbal dalam siaran persnya yang diterima Fajar malam tadi.

Untuk penggalangan dana, Iqbal menegaskan pentingnya tiga prinsip. Pertama manajemen terbuka dan akuntabel dengan menggunakan kwitansi donasi rangkap tiga. Kedua, semua bantuan disalurkan kepada korban bencana di Padang. Dan yang terpenting, kata dia, tidak ada sepeser pun bantuan itu untuk dikorek-korek.

"Untuk penggalangan bantuan, seluruh biaya operasional ditanggung Gama College," tambahnya.
Ketua PII Sulsel, Nugrah Yatna menyambut positif gerakan sosial ini. Ia mengatakan kegiatan ini membuktikan organisasi pelajar kembali berdinamika bersama dalam kegiatan sosial kemanusiaan.


"IPNU juga mengapresiasi terbentuknya gerakan kemanusiaan pelajar ini," tambah Sekretaris Umum IPNU Sulsel, Rahman Haq.
Ketiga organisasi ini juga mengetuk kepekaan sosial pelajar se-Sulsel guna membantu pelajar yang menjadi korban gempa di Padang, Sumatera Barat. (rls)

Bersandar Hanya Kepada Allah

Oleh: K. H. Abdullah Gymnastiar

Tiada keberuntungan yang sangat besar dalam hidup ini, kecuali orang yang tidak memiliki sandaran, selain bersandar kepada Allah. Dengan meyakini bahwa memang Allah-lah yang menguasai segala-galanya; mutlak, tidak ada satu celah pun yang luput dari kekuasaan Allah, tidak ada satu noktah sekecil apapun yang luput dari genggaman Allah. Total, sempurna, segala-galanya Allah yang membuat, Allah yang mengurus, Allah yang menguasai.

Adapun kita, manusia, diberi kebebasan untuk memilih, "Faalhamaha fujuraha wataqwaaha", "Dan sudah diilhamkan di hati manusia untuk memilih mana kebaikan dan mana keburukan". Potensi baik dan potensi buruk telah diberikan, kita tinggal memilih mana yang akan kita kembangkan dalam hidup ini. Oleh karena itu, jangan salahkan siapapun andaikata kita termasuk berkelakuan buruk dan terpuruk, kecuali dirinyalah yang memilih menjadi buruk, naudzubillah.


Sedangkan keberuntungan bagi orang-orang yang bersandarnya kepada Allah mengakibatkan dunia ini, atau siapapun, terlampau kecil untuk menjadi sandaran baginya. Sebab, seseorang yang bersandar pada sebuah tiang akan sangat takut tiangnya diambil, karena dia akan terguling, akan terjatuh. Bersandar kepada sebuah kursi, takut kursinya diambil. Begitulah orang-orang yang panik dalam kehidupan ini karena dia bersandar kepada kedudukannya, bersandar kepada hartanya, bersandar kepada penghasilannya, bersandar kepada kekuatan fisiknya, bersandar kepada depositonya, atau sandaran-sandaran yang lainnya.

Padahal, semua yang kita sandari sangat mudah bagi Allah (mengatakan ‘sangat mudah’ juga ini terlalu kurang etis), atau akan ‘sangat mudah sekali’ bagi Allah mengambil apa saja yang kita sandari. Namun, andaikata kita hanya bersandar kepada Allah yang menguasai setiap kejadian, "laa khaufun alaihim walahum yahjanun’, kita tidak pernah akan panik, Insya Allah.

Jabatan diambil, tak masalah, karena jaminan dari Allah tidak tergantung jabatan, kedudukan di kantor, di kampus, tapi kedudukan itu malah memperbudak diri kita, bahkan tidak jarang menjerumuskan dan menghinakan kita. kita lihat banyak orang terpuruk hina karena jabatannya. Maka, kalau kita bergantung pada kedudukan atau jabatan, kita akan takut kehilangannya. Akibatnya, kita akan berusaha mati-matian untuk mengamankannya dan terkadang sikap kita jadi jauh dari kearifan.

Tapi bagi orang yang bersandar kepada Allah dengan ikhlas, ‘ya silahkan ... Buat apa bagi saya jabatan, kalau jabatan itu tidak mendekatkan kepada Allah, tidak membuat saya terhormat dalam pandangan Allah?’ tidak apa-apa jabatan kita kecil dalam pandangan manusia, tapi besar dalam pandangan Allah karena kita dapat mempertanggungjawabkannya. Tidak apa-apa kita tidak mendapatkan pujian, penghormatan dari makhluk, tapi mendapat penghormatan yang besar dari Allah SWT. Percayalah walaupun kita punya gaji 10 juta, tidak sulit bagi Allah sehingga kita punya kebutuhan 12 juta. Kita punya gaji 15 juta, tapi oleh Allah diberi penyakit seharga 16 juta, sudah tekor itu.

Oleh karena itu, jangan bersandar kepada gaji atau pula bersandar kepada tabungan. Punya tabungan uang, mudah bagi Allah untuk mengambilnya. Cukup saja dibuat urusan sehingga kita harus mengganti dan lebih besar dari tabungan kita. Demi Allah, tidak ada yang harus kita gantungi selain hanya Allah saja. Punya bapak seorang pejabat, punya kekuasaan, mudah bagi Allah untuk memberikan penyakit yang membuat bapak kita tidak bisa melakukan apapun, sehingga jabatannya harus segera digantikan.

Punya suami gagah perkasa. Begitu kokohnya, lalu kita merasa aman dengan bersandar kepadanya, apa sulitnya bagi Allah membuat sang suami muntaber, akan sangat sulit berkelahi atau beladiri dalam keadaan muntaber. Atau Allah mengirimkan nyamuk Aides Aigepty betina, lalu menggigitnya sehingga terjangkit demam berdarah, maka lemahlah dirinya. Jangankan untuk membela orang lain, membela dirinya sendiri juga sudah sulit, walaupun ia seorang jago beladiri karate.

Otak cerdas, tidak layak membuat kita bergantung pada otak kita. Cukup dengan kepleset menginjak kulit pisang kemudian terjatuh dengan kepala bagian belakang membentur tembok, bisa geger otak, koma, bahkan mati.

Semakin kita bergantung pada sesuatu, semakin diperbudak. Oleh karena itu, para istri jangan terlalu bergantung pada suami. Karena suami bukanlah pemberi rizki, suami hanya salah satu jalan rizki dari Allah, suami setiap saat bisa tidak berdaya. Suami pergi ke kanotr, maka hendaknya istri menitipkannya kepada Allah.

"Wahai Allah, Engkaulah penguasa suami saya. Titip matanya agar terkendali, titip hartanya andai ada jatah rizki yang halal berkah bagi kami, tuntun supaya ia bisa ikhtiar di jalan-Mu, hingga berjumpa dengan keadaan jatah rizkinya yang barokah, tapi kalau tidak ada jatah rizkinya, tolong diadakan ya Allah, karena Engkaulah yang Maha Pembuka dan Penutup rizki, jadikan pekerjaannya menjadi amal shaleh."

Insya Allah suami pergei bekerja di back up oleh do’a sang istri, subhanallah. Sebuah keluarga yang sungguh-sungguh menyandarkan dirinya hanya kepada Allah. "Wamayatawakkalalallah fahuwa hasbu", (QS. At Thalaq [65] : 3). Yang hatinya bulat tanpa ada celah, tanpa ada retak, tanpa ada lubang sedikit pun ; Bulat, total, penuh, hatinya hanya kepada Allah, maka bakal dicukupi segala kebutuhannya. Allah Maha Pencemburu pada hambanya yang bergantung kepada makhluk, apalagi bergantung pada benda-benda mati. Mana mungkin? Sedangkan setiap makhluk ada dalam kekuasaan Allah. "Innallaaha ala kulli sai in kadir".

Oleh karena itu, harus bagi kita untuk terus menerus meminimalkan penggantungan. Karena makin banyak bergantung, siap-siap saja makin banyak kecewa. Sebab yang kita gantungi, "Lahaula wala quwata illa billaah" (tiada daya dan kekuatan yang dimilikinya kecuali atas kehendak Allah). Maka, sudah seharusnya hanya kepada Allah sajalah kita menggantungkan, kita menyandarkan segala sesuatu, dan sekali-kali tidak kepada yang lain, Insya Allah.

Senin, 02 November 2009

Teror Sistematis Al-Aqsho oleh Zionis Israel La`natullah


Oleh: Nugrah Yatna Utama

Sudah sangat jelas di dalam Al-Qur`an tentang perangai, perilaku dan sifat buruk kaum Israil,kaum pembangkang terhadap Allah,kaum bengis dan haus darah,kaum sumber malapetaka dan masalah di muka bumi ini dan terkhusus hari ini,adalah bangsa Israel adalah bangsa yang harus bertanggung jawab terhadap penistaan dan penjajahan terhadap bumi para nabi dan negara Palestina, merekalah musuh abadi umat Islam dan dengan janji Allah pula dalam kitab sucinya,umat ini akan menghancurkan mereka,insya Allah.

Belum hilang dari ingatan kita saat beberapa bulan yang lalu tentang pembantaian di Gaza dan termutakhir tentang agresi dan ekspansi mereka ke masjid suci Al-Aqsho yang terus berlangsung hingga tulisan ini kami terbitkan menurut Anggota parlemen Palestina Jamal al Khudry, yang juga ketua Komite Rakyat Anti Blokade, mengatakan bahwa berulangnya penyerbuan masjid Al-Aqsha bukan merupakan upaya yang dilakukan oleh individu atau kelompok ekstremis Yahudi, tetapi kebijakan sistematis yang diprogram memiliki tujuan dari pemerintah Zionis untuk melakukan yahudisasi al Quds dan melenyapkan fitur-fitur Arab dan Islam di sana.


Khudry mengatakan, "Serangan ini menuntut persatuan Palestina mengatasi perbedaan dan berbaris kokoh mendukung pembelaan al Quds dan masjid Al-Aqsha."Dia melanjutkan, "Yang paling berbahaya dari apa yang dapat diteropong adalah bahwa agresi ini adalah bagian dari lingkaran yang terus-menerus, sebagai pelaksanaan kebijakan yahudisasi terhadap kota al Quds (masjid Al-Aqsho) yang diadopsi pemerintahan penjajah Israel."

Khudry menegaskan kebijakan berbahaya ini harus dihadapi melalui program-program komprehensif. Yang memerlukan upaya kombinasi Arab dan Islam di level pemerintah, lembaga-lembaga dan rakyat dengan usaha rakyat Palestina untuk menghadapi bahaya ini. Dia menegaskan bahwa warga Palestina dalam dan al Quds hari ini sebagai orang terdepan mengemban tugas membela Al-Aqsha dengan telanjang dada. Dia menyerukan perlunya dukungan kepada mereka melalui berbagai cara.

Ia mengimbau kepada pada pejabat di Arab dan dunia Islam; bekerja untuk mendukung perjuangan rakyat Palestina dalam menghadapi bahaya besar yang mengancam eksistensi masjid Al-Aqsho dan masa depan mereka di al Quds. sekarang tugas kita semua yang mengaku Allah rabbnya dan Muhammad nabi dan rasulnya,untuk menjawab panggilan ini dengan tindak lanjut yang memungkinkan untuk kita mempertahankan Al-Aqsho dan membantu saudara-saudara kita dari rongrongan bangsa kafir yahudi-israel-zionis La`natullah cucu dari kera dan babi,mari saudaraku sesama muslim......... Allahu Akbar....... Allahu Akbar...... Allahu Akbar..... !!!!!

Sabtu, 30 Mei 2009

PII antara Heroisme Masa Lalu dan Realitasnya Masa Kini

Oleh : Zulkifli Hasibuan[1]

Tulisan ini dibuat pada tanggal 12 Juli 2008 di Makasar. Tulisan yang berjudul “PII antara Heroisme Masa Lalu dan Realitas Masa Kini” telah memalui finishing mancoba untuk dihidangkan di hadapan kawan-kawan seluruh Indonesia. Dan terpenting semoga kita bisa mengambil hikmah di setiap apa yang kita lalui termasuk ketika kita aktif di PII. Selamat menikmati.

Kesempurnaan pendidikan dan kebudayaan yang sesuai dengan Islam bagi segenap rakyat Indonesia dan umat manusia adalah ekspresi optimisme PII akan tewujudnya masyarakat yang Islami dimuka bumi. Hal ini merupakan keyakinan PII akan terwujutnya masyarakat berperadaban yang dibentuk melalui proses pendidikan tersebut. Membangun masyarakat peradaban sejatinya adalah membentuk manusia yang berilmu pengetahuan alias manusia beradab. Proses pendidikan PII tidak sekedar menciptakan manusia sosial tetapi berorientasi pada nilai-nilai Islam sedangkan tujuan pendidikan menurut islam menciptakan manusia yang baik atau manusia terpelajar. Syed Muhammad Naquib Al-Attas seorang pemikir kontemporer muslim mendefenisikan manusia terpelajar adalah orang baik, dan baik yang dimaksud di sini adalah adab dalam arti yang menyeluruh yang meliputi spiritual dan material seseorang, yang berusaha menanamkan kualitas kebaikan yang diterimanya. Oleh karena itu maka orang yang benar-benar terpelajar menurut perspektif Islam didefenisikan al-attas sebagai orang yang beradab.

Dalam konsep kaderisasi PII, kader diproyeksikan mampu men-transformasi-kan idealita PII dengan jalan terlibat secara aktif dalam menjawab tantangan dan memecahkan problematika yang dihadapi oleh organisasi, bangsa Indonesia, dan umat manusia. PII mencoba mendesain kader yang pada hakekatnya disiapkan untuk mengemban tugas masa depan dengan kemampuan, kualitas dan kualifikasi tertentu. Kader merupakan kekuatan inti organisasi dan umat Islam untuk menjadi pelopor, penggerak dan penjaga misi perjuangan guna mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil Aalamin. Idealitas kader merupakan konseptualisasi dan kristalisasi dan pemahaman tentang konsepsi manusia dan tujuannya (baca : Khittah perjuangan)

Diakui apa tidak eksistemsi PII tidak bias dipisahkan dengan pergolakan politik dan kondisi sosiohistoris bangsa ini. Abdul Qadir Jaelani dalam tulisannya yang berjudul “Peranan Pelajar Islam Indonesia dalam Orde Baru dan Latar Belakang Sistem Trainingnya” mengatakan bahwa keterlibatan dan pertisipasi Pelajar Islam Indonesia (PII) di dalam kebangkitan orde baru adalah sangat besar dan penting. Peranan itu bukan saja lahir disaat-saat gagal diruntuhkannya G 30 S/PKI tahun 1965, tetapi jauh sebelum kudeta komunis itu, yaitu semenjak oerde lama yang otoriter dan komunistis berdiri. Tahun 1950-an PII bersama rakyat melahirkan gerakan sparatisme sebagai ekspresi ketidakpuasan terhadap kepemimpinan soekarno. Belum lagi ketika pamor soekarno turun pasca mundurnya Hatta sebagai wakil presiden, untuk mengembalikan pamor itu Soekarno mengunakan cara yang dictator. Sedangkan Demokrasi terpimpin dinilai merupakan eufimisme (bahasa halus) dari absolutisme kekuasaan, yang kemudian dipertegas dengan pengangkatan sebagai presiden seumur hidup. Tidak kalah menarik ketika Souharto memimpin bangsa ini, diskriminasi terhadap kelompok idiologi mayoritas mewarnai kepemimpinannya. Abdul Azis Thaba mencatat ada lebih kurang tujuhkebijakan Soeharto yang tidak berpihak kepada Umat Islam, menurut Alwi Alatas dan Fifrida Deliyanti salah satunya adalah kebijakan tentang pelarangan berjilbab bagi pelajar putrid, 1982-1991. Kondisi politik pada massa orde baru sangan hegemonic, tidak bisa kita bayangkan bagaimana heroisme pemerintah ketika jilbab mulai menyebar kesekolah-sekolah, budaya militerisme yang sangat kuat, dan kristenisasi yang ekspansif. Sementara eksprasi-eksprasi penolakan dan perlawanan PII terhadap hegemoni Negara dan pemerintah lahir tiap waktu dan mulai redup pasca tumbangnya rezim orde baru yang telah memimpin selama 32 tahun.

Kondisi eksternal dan hadapan nyata PII, 1950-1998 ini menjelaskan makna insplisit tentang kontribusi positif PII dalam sejarah bangsa ini. Apakah gerangan yang mendorong PII untuk dapat tampil manjadi subyek didalam kebangkitan orde baru? Apakah karena faktor-faktor lingkungan semata atau memang ada kesadaran ideologis yang ditanamkan selama bertahun-tahun didalam latihan-latihan yang dimilikioleh PII? Secara subyektif faktor-faktor lingkungan memang sangat mempengaruhi penampilan PII didalam sejarah itu, tetapi lebih besar pengaruh itu disebabkan oleh faktor-faktor sistem trening yang dimilikinya dan implikasi proses transformasi nilai-nilai idealitas PII tersebut.

Pasca tahun 1998 dimana Soeharto tumbang dan masyarakat ‘Merdeka’ tidak ketinggalan entitas kecil dari umat islam yaitu PII-pun merasakan kemerdekaan dalam mengembangkan sayapnya. Kondisi polotik ini berimplikasi juga terhadap dinamika internal ditubuh PII. PII yang lahir untuk umat ini seolah kehilangan jejak, kehilangan orientasi, dan buta terhadap ‘rival’ yang menjadi hadapan relitasnya. Kondisi PII tahun 1966-1998, selalu muncul dipermukaan untuk menyelesaikan realitas sosial dikalangan pelajar. Kalau embrio PII oleh Yusdi Ghojali dimunculkan atas dasar dikotominasi pendidikan dan diakhirnya melahirkan PII sampai akhir ini, maka kita oatut merefleksikan eksistensi kita sebagai kaderdan sebagai bagian dari sistem yang memproduksi kakrakter kita, karena kondisi kita relative lebih nyaman, dan dalam kondisi ini juga kita dapat pernah merasakan bagaimana tersiksanya diintimidasi, diinterogasi, dibunuh ruang kreativitasnya, atau lain-lain yang bersifat hegemonik, dan bahkan kita tidak pernah merasakan terpanggil untuk merespon problematika umat ini, atau bias saja hari ini kita berada dititik kronis bahwa kita dan PII sedang mencari jati diri kita kembali. Kita tidak pernah sedikitpun untuk merespon masalah-masalah keummatan, kita juga tidak punya data tentang kondisi pelajar kontemporer, atau bahkan kita tidak pernah tahu seperti apa wajah struktur kita, dan bagai mana implementasi kaderisasi kita. Anis Matta dalam buku menikmati demokrasi mengatakan kita tidak akan pernah menang ketika analisa kekuatan kita dibacaan terhadap kondisi lawan tidak jelas. Kita terlebih dahulu menjustifikasi kita menang tanpa mengetahui seberapa besarnya kekuatan rival yang akan kita lawan, dan sering kita pesimis tanpa alas an padahal kita jauh lebih memiliki kekuatan dari pada lawan kita.

Kita coba melihat kembali bentukan kader masa lalu, kita bias menemukan Ibrahim Zarkasi yang menjadi salah satu presidium Kongres I umat Islam yang melahirkan panca cita (baca : Djayadi Hanan, 2005), kita bias melihat sosok Muh. Rum, M. Natsir, Abdul Kahar Mudzakar, dan lain-lain yang memang mereka tidak pernah berkecimpung secara structural tetapi mereka secara tidak langsung berinfiltrasi dalan konsepsi yang membentuk karakter kader PII. Tetapi satu yang harus kita sadari bahwa mereka lahir ketika kondisi bangsa ini tidak senyaman hari ini, mereka lahir ketika realitas sosial waktu itu membutuhkan aluran tangan mereka. Berarti bahwa kepemimpinan personal mereka diakui atasdasar perjuangan mereka dalam kondisi yang serba hegemonik. Bagaimana dengan kita hari ini?

Dengan realitas ini, sepertinya kita butuh peninjauan konsepsi kaderisasi tentang sifat kader yang melekat dalam setiap proses kaderisasi yang dilalui oleh kader. Kita mencoba tidak particular melihat setiap implikasi yang muncul dipermukaan tetapi menatapnya secara konferehensif dan mengkaji kausalitasnya. Degradasi kualitas kader ini kita tarik kepada suatu yang melatar belakangi semua ini muncul, dalam konteks ini kita akan melihat seperti apa PII memandang. Ada beberapa sifat kader PII dalam kaca mata konsep kaderisasi PII :

1. muslim, dalam arti memiliki sifat ketundukan hanya kepada Allah dalam arti konsepsi dan cara pandang, sikap, dan aktualisasi berada dalam garis bimbingan oleh ridha Allah.
2. Cendekia dalam arti meneladani sifat fathonah nabi, sehingga memiliki wawasan dan antisipasi yang luas serta kerangka metodologi yang kuat sehingga dapat menagkap dan memahami kebenaran, mengkonsetualisasi dan mengaktualisasikannya secara konferehensif, cendikia berarti kader PII akan mampu memahami Islam berbagai hal dengan dinamis.
3. Kepemimpinan berarti memiliki sikap dan kemampuan sebagai seorang pemimpin yang berani dan bertanggung jawab, yang mampu mengambil keputusan secara tepat dan mengelola potensi lingkungannya menjadi suatu yang bernilai sebagai aktualisasi kekhalifahannya.

Diatas adalah idealitas konsepsi tentang sifat kader, bagaimana dengan realitasnya? Pada tataran Implementasi praksis kita coba menggunakan pendekatan rekayasa sosial bahwa realitas hari ini akan kita sesuaikan menuju idealitas konsepsi, ataukah idealitas ini yang harus mengikuti kondisi realitas yang ada sehingga akan ada banyak dialog untuk mengsingkronkan. Tetapi sebelum itu butuh dijawab bahwa sudahkan semua menjadi ruh gerakan dan dipahami oleh seluruh kader? Kalau belum, kita perlu bijak melihat seluruh konsepsi yang dibangun untuk PII kemarin, hari ini, dan esok.

Dinamika berpikir dan ruang presepsi di PII sangat terbuka lebar, satu sisi ini positif dalam logika proses, tetapi sisi yang lain kita akan susah melakukan lompatan gerak yang sama, sehingga kita sangat substansial. Skil manajemen akan menjadi satu bagian penting untuk menarik gerakan kita pada level efektifitas dan efesiensi, karena kalau tidak kita akan cenderung superficial dalam berbagai hal dan pada akhirnya nanti kita akan meninggalkan sesuatu yang mendasar yang akan kitya perjuangkan.

Dalam berbagai hal realitas internal kader sangat multikultur, yang mudah diukur secara fisik adalah spesifik terkait karakter dan latar belakang normatifnya. Tetapi kita harus mencoba melihat titik kesamaan yang akan mengantarkan kita pada cita-cita ta’dib. Dan hari ini tahapan kita sudah tidak lagi meninjau kembali heterogenitas yang ada tetapi kembali kesesuatu yang sangat mendasaar yaitu kesamaan visi gerak, dan arah tujuan yang bermuara pada konstruksi peradaban, kalau memang gerakan kita ini diakui demikian.

Dengan berbagai konsepsi diatas kita perlu me- reoreantasi garakan kita ditingkat regional dan lokalitas kita hari ini, pekerjaan rumah kita terlalu banyak untuk umur biologis yang dimiliki kader hari ini; mulai dari proses dialektika kebijakan dengan realitas internal-eksternal, up grade kualitas personal dan struktur, responsibilitas sosial yang tentunya sesuai dengan garapan PII, serta penyiapan lapis. Beberapa tatapan diatas berharap akan menghilangkan pretensi terhadap kinerja setiap kader distuktural karena ruang waktu sangat sempit untuk waktu dialogis sehingga sangat mungkin ada langkah solutipfyang mengamini sebuah dinamika organisasi, dan dalam kondisi ini kalau boleh mengutip katanya Ruslan Ismail Mage ‘hari ini kita butuh kedewasaan intelektual bukan kesombongan intelektual’ bahwa para digma intelektual yang membungkus pikiran kita digunakan untuk hal-hal yang produktif dalam kerangka pragmatisme. Salah satu langkah solutif untuk realitas internal hari ini adalah refungsionalisasi setiap pos penting di struktur.

Karena kita adalah kelompok sosial masyarakat yang memegang peranan penting dalam mengemban amanah kesejahteraan untuk melakukan perubahan dalam membangun dan menata peradaban dan kita adalah subyek peradaban. Karena kita (kader) adalah merupakan generasi penerus bangsa dan lahir dan tumbuh berkembang dalam lingkungan kaum terpelajar dan terdidik, lingkungan yang kondusif dan ilmiah maka dengan kedewasaan berstruktur dan latar belakang intelektual kita akan menatap PII sebagai bagian yang utuh dengan konsepsi kaderisasinya, latar belakang historisnya, bentukan karakter kadernya, dan cita-cita peradaban yang mau dibangun.
Wallahu ‘alam

[1] Ketua PK PPQ 2003, KaBid Kaderisasi PD PII Serge 04/05, Ketum PD PII Serge 05/06

Minggu, 24 Mei 2009

KFC 'Halal' Jadi Perdebatan di Inggris

sumber: www.eramuslim.com

Jaringan makanan cepat saji KFC (Kentucky Fried Chicken) telah mencoba menyediakan menu daging ayam Halal di beberapa restoran tertentu mereka (http://www.eramuslim.com/berita/dunia/kfc-membuka-outlet-halal-nya-di-inggris.htm), namun
beberapa umat Islam Inggris mengatakan bahwa ayam potong yang disediakan oleh KFC dipotong tidak sesuai dengan hukum Islam. Catrin Nye salah seorang Muslim mempertanyakan ke Halalan daging ayam tersebut.


Saat ini jaringan makanan cepat saji KFC telah mencoba menyediakan daging ayam Halal di delapan restoran mereka - berarti ayam tersebut telah dipotong sesuai dengan aturan hukum Islam. Namun usaha untuk mencoba menyediakan menu daging ayam halal malah menyulut berbagai kontroversi atas daging halal tersebut, di beberapa restoran - umat Islam memboikot karena mereka mengatakan bahwa ayam dipotong belum sesuai dengan cara Islam yang benar.


Permasalah yang timbul dari kontroversi tersebut adalah apakah daging ayam Halal dipotong dengan menggunakan mesin?


Secara tradisional, daging Halal adalah di potong dengan tangan secara langsung dan dengan menyebut nama Allah oleh pemotongnya. Namun ada yang mengatakan Islam menerima pemotongan hewan dengan menggunakan mesin.


Dalam Islam, Halal adalah gambaran dari suatu makanan dan minuman yang di bolehkan untuk dikonsumsi di bawah hukum Islam yang telah ditetapkan di dalam Al-Quran dan Sunnah. Menilai suatu produk makanan Halal atau tidak hanya dapat dilakukan oleh seorang ulama/pakar yang ahli dalam hukum-hukum Islam.


Saat ini ada dua organisasi yang mengatur Kehalalan dari industri makanan di Inggris. Halal Food Authority (HFA) mengatakan memotong hewan dengan menggunakan mesin tidak ada masalah, sepanjang dalam pemotongan tersebut disebut nama Allah. Mereka berargumentasi bahwa kemajuan teknologi juga dapat merubah metode termasuk dalam hal memotong hewan selama pada saat pemotongan massal tersbut disebut nama Allah.


Tetapi Halal Monitoring Committee (HMC) mengatakan bahwa penyembelihan hewan harus menggunakan tangan secara langsung dan itu berarti hewan yang di sembelih menggunakan mesin tidak halal menurut mereka. Alasannnya bahwa mekanisasi (menggunakan mesin) dalam pemotongan hewan kontradiksi dari prinsip dasar dari daging Halal - karena orang yang menyembelih hewan haruslah orang yang sama dengan yang membacakan nama Allah pada saat menyembelih.


"Makanan Halal adalah sangat penting dalam kehidupan seorang Muslim dan banyak umat Islam tidak mengetahui makanan yang mereka makan sudah Halal atau belum dan sertifikasi Halal salah satu cara untuk mengetahuinya," kata Yusuf Dudhwala ketua dari HMC.


KFC mengatakan bahwa mereka mengikuti arahan yang diberikan oleh penasehat yang kompeten.


"Kami bekerja sama dengan Halal Food Authority (HFA) - salah satu lembaga yang telah diakui di Inggris dan luar negeri, serta telah di audit dan disetujui oleh supplier daging halal kami," kata seorang juru bicara perusahaan. Perdebatan dan kontroversi mengakibatkan adanya seruan supaya hanya ada satu badan atau lembaga yang mengatur persoalan makanan Halal di Inggris yang memiliki pedoman jelas mengenai bagaimana cara menyembelih hewan secara Islam.


"Tanggung jawab tidak pada individu untuk mengenali setiap item makanan yang mereka makan, jika penjual mengatakan bahwa makanan tersebut Halal - hal itu sudah cukup," kata Ajmal Masroor salah seorang Imam dan juru bicara untuk Islamic Society of Britain.(fq/bbc)


Senin, 18 Mei 2009

Ada yang Tertarik Jadi Ahli Statistik? (Ikatan Dinas)


Jumat, 15 Mei 2009 11:46 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) kembali membuka kesempatan bagi siswa-siswi terbaik lulusan SMA yang bermotivasi tinggi untuk dididik menjadi ahli statistik. Pendaftaran baru dibuka pertengahan bulan depan untuk menyeleksi 300 mahasiswa tahun ajaran 2009/2010.

Dikelola oleh Badan Pusat Statistik (BPS), STIS merupakan perguruan tinggi kedinasan program D-IV. Visi dan misinya adalah menjadi lembaga pendidikan tinggi kedinasan yang berfungsi mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan di bidang statistik dan komputasi statistik dengan mendidik siswa-siswi sebagai kader yang memiliki kemampuan akademik dan profesional.

Di tempat ini, para mahasiswa bisa mengambil peminatan atau jurusan yang terdiri dari Statistika (Ekonomi dan Sosial Kependudukan) dan Komputasi Statistik. "Di jurusan Statistika para mahasiswa dididik menjadi tenaga ahli statistik ekonomi dan statistik sosial kependudukan, sedangkan di jurusan Komputasi Statistik mereka dipersiapkan sebagai tenaga-tenaga ahli komputasi statistik dan sistem informasi," ujar Rifa Rufiadi Msi, Kepala Bagian Administrasi STIS.

Sebagai pendukung mutu pembelajaran, kurikulum pendidikan di STIS dirancang sesuai perkembangan ilmu ekonomi, kependudukan, sosial, manajemen dan teknologi informasi. Proses dan metode pembelajarannya ditekankan pada pengembangan keterampilan di bidang statistik dan komputasi statistik, yang diasuh oleh para pengajar lulusan perguruan tinggi dalam dan luar negeri dengan jenjang S2 dan S3.

Dengan demikian, lulusan-lulusan STIS diharapkan mampu menjadi tenaga ahli yang mumpuni dalam merencanakan dan melaksanakan penelitian, membuat berbagai analisis di bidang sosial-ekonomi, serta merencanakan dan mengembangkan sistem informasinya.

Syarat dan Ketentuan
Tahun lalu, menurut Rifa, jumlah lulusan SMA/Sederajat yang mengikuti seleksi mencapai 12.000 siswa/siswi untuk memperebutkan 300 kursi. "Tahun diperkirakan bisa lebih dari itu, mungkin mencapai tiga belas ribu untuk sekitar 300 kursi," ujar Rifa.

Sebagai syarat utamanya, selain siswa/siswi harus lulusan SMA/Sederajat dari jurusan IPA, nilai mata pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris pada rapor kelas XII semester I dan II pun harus mencapai angka 7, 0. Pendaftaran mengikuti seleksi tahun ajaran 2009/2010 ini dikenakan biaya sebesar Rp225.000.

Selama kuliah nanti, para mahasiswa akan mendapatkan tunjangan ikatan dinas sesuai aturan pemerintah yang berlaku. Setelah lulus nanti, para mahasiswa mendapat gelar Sarjana Sains Terapan (S.S.T.).

Selain gelar, mahasiswa juga langsung diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) golongan III A - BPS. Mereka akan ditempatkan di lingkungan BPS di seluruh Indonesia sampai dengan tingkat Kabupaten/Kota untuk melakukan berbagai kegiatan survey statistik di lapangan.

Tertarik dan punya motivasi tinggi?
Pendaftaran seleksi STIS tahun ini mulai dibuka pada 15 Juni 2009 mendatang. Pendaftaran ditutup pada 17 Juli untuk pendaftar di wilayah Jakarta dan 10 Juli untuk pendaftar dari daerah. Lebih jelasnya, syarat pendaftaran, cara pendaftaran, serta tahapan seleksi bisa dilihat di download brosur PMB 2009 (310KB) atau menghubungi Kampus STIS Jakarta di telepon (021) 8191437/8508812.

Senin, 16 Februari 2009

Do'a Dikala Ragu Akan Dirinya

oleh: Sri~Haryati

Ya Allah...
Seandainya telah Engkau catatkan
dia akan mejadi teman menapaki hidup
Satukanlah hatinya dengan hatiku

Titipkanlah kebahagiaan diantara kami
Agar kemesraan itu abadi
Dan ya Allah... ya Tuhanku yang Maha Mengasihi
Seiringkanlah kami melayari hidup ini
Ke tepian yang sejahtera dan abadi

Tetapi ya Allah...
Seandainya telah Engkau takdirkan...
...Dia bukan milikku
Bawalah ia jauh dari pandanganku
Luputkanlah ia dari ingatanku
Ambillah kebahagiaan ketika dia ada disisiku

Dan peliharalah aku dari kekecewaan
Serta ya Allah ya Tuhanku yang Maha Mengerti...
Berikanlah aku kekuatan
Melontar bayangannya jauh ke dada langit
Hilang bersama senja nan merah
Agarku bisa berbahagia walaupun tanpa bersama dengannya…

Dan ya Allah yang tercinta...
Gantikanlah yang telah hilang
Tumbuhkanlah kembali yang telah patah
Walaupun tidak sama dengan dirinya....

Ya Allah ya Tuhanku...
Pasrahkanlah aku dengan takdirMu
Sesungguhnya apa yang telah Engkau takdirkan
Adalah yang terbaik untukku
Karena Engkau Maha Mengetahui
Segala yang terbaik buat hambaMu ini

Ya Allah...
Cukuplah Engkau saja yang menjadi pemeliharaku
Di dunia dan di akhirat
Dengarlah rintihan dari hambaMu yang daif ini

----------------------------------------
Jangan Engkau biarkan aku sendirian
Di dunia ini maupun di akhirat
----------------------------------------

Menjuruskan aku ke arah kemaksiatan dan kemungkaran
Maka kurniakanlah aku seorang pasangan yang beriman
Supaya aku dan dia dapat membina kesejahteraan hidup
Ke jalan yang Engkau ridhai
Dan kurniakanlah padaku keturunan yang soleh

Amin... Ya Rabbal 'Alamin


dikutip dari: http://tentang-pernikahan.com