Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 November 2009

Menjawab Pernyataan John Palinggi terhadap Realitas Obyektif "Impeachment" SBY

Oleh: Nugrah Yatna Utama

Ada beberapa point yang sangat urgen dan seharusnya menjadi kajian strategis kita bersama terhadap tulisan atau pernyataan dari pengamat kepolisian John Palinggi, secara real kami melihat ada beberapa hal yang beliau nyatakan selaku pengamat kepolisian :
a. adanya upaya mendiskretkan atau mendegradasikan presiden SBY atau "impeachment" terhadap SBY.
b. adalah SBY dituduh telah melakukan intervensi langsung terhadap penyelesaian skandal ini, walaupun telah di bentuk TPF (Tim 8).

Kalau orang yang terperangkap pada informasi ini tanpa menganalisisnya lebih mendalam ditambah lagi "hipotesa" yang keluar dari pengamat jelas dia akan sependapat dengan hal ini, akan tetapi bagi saya secara pribadi banyak kejanggalan-kejanggalan yang timbul setelah skandal ini muncul terkhusus pada pernyataan-pernyataan yang di keluarkan oleh bapak John Palinggi.

Pertama adanya upaya mendiskretkan atau mendagradasi SBY terkhusus terhadap posisi dan jabatannya selaku presiden RI apalagi hal ini di akibatkan beberapa orang yang tidak puas terhadap hasil Pemilu yang menempatkan SBY sebagai pemenang mutlak, ini pernyataan provokatif dan menggiring opini masyarakat untuk tidak berpikir kritis terhadap problematika yang muncul. Analisis saya terhadap kasus ini dengan memakai logika pembanding bahwa tidak semua yang muncul terkhsus skandal ini sebagai upaya "impeachment" terhadap SBY, akan tetapi lebih real lagi bahwa disinilah mulai terbuka borok-borok(skandal) yang di tutupi oleh KPK dan permainan curang dan licik dari anggoro dan anggodo sehingga inti dari itu semua adalah menjaga kepentingan SBY yang sangat banyak apalagi saking banyaknya kepentingan ini timbul kontraproduktif di dalam implementasinya termasuk peran-peran mis-job dari KPK dan Anggodo yang seharusnya bagi SBY itu tidak akan terjadi apalagi menggangu eksistensi tendensinya di Indonesia, saya melihat sekarang bahwa SBY harap-harap cemas semoga kasus ini tidak terus bergulir dan melebarkan sayap penyelidikannya sehingga dia membentuk tim "independen" untuk mengkaburkan isu ini terkhusus yang berkaitan dengan kepentingannya sendiri, SBY sangat cerdas sebelum oposisi merangsek dan mengkritisi kebijakannya, di dekati dan diberikan posisi strategis, partai yang notabenenya berpeluang menjadi oposisi pun di goyang dan di susupi sehingga menjadi lunak dan menjadi pengikut setia, permainan SBY memang cantik dan ciamik, saya berani bertaruh kenapa tidak ada yang berani menyelidiki nama2 yang di sebutkan di hasil sadap pembicaraan anggodo dan beberapa orang,termasuk bapak SBY kok yang lain dipaksakan untuk diselidiki sedangkan yang lain tidak, kan yang timbul ketidakadilan terhadap penyelidikan skandal ini, apalagi KPK juga terkesan tebang pilih terhadap penyelesaian beberapa kasus,belum lagi si licik Anggodo/Anggoro yang begitu mudahnya mengobok-obok supremasi dan penegakan hukum di Indonesia.

Kedua tentang intervensi yang dilakukan SBY terhadap skandal ini, sudah sangat jelas secara kasat mata konspirasi yang dilakukan sangat vulgar di perlihatkan, terkhusus dengan membnetuk lembaga independen TPF itu sendiri, sampai hari ini untuk berbicara tentang nilai independensi di Indonesia sangat susah bahkan tidak berlaku, apalagi jika kita ingin berbicara tentang sebuah idealisme, TPF itu sendiri tidak bisa kita nafikkan sebagai tim khusus yang memang hasil karya tangan SBY itu sendiri,orang berbeda, walaupun sang ketua tim adnan buyung nasution berkali-kali mengklarifikasi di media bahwa mereka adalah tim independen,tapi walaupun di tutupi yang namanya bangkai akan tercium juga, bagi orang yang berpikir kritis dan realis, sekarang kalau kita melihat pola kerja yang di lakukan oleh TPF adalah polarisasi kerja subyektif, tekanan-tekanan yang mereka lakukan serta pernyataan-pernyataan mereka terkesan seperti ada yang di sembunyikan terkhusus bagi si empunya yang membuat tim ini, tak bisa saya bayangkan jika tim ini dibuat untuk menjaga pamor penguasa dan kepentingannya, Polisi, kejaksaan, KPK, anggodo dan anggoro hanya wayang saja yang memang di angkat dan dimainkan demi kepentingan dalangnya, sangat menarik….

Hari ini kan dalangnya juga sangat ketakutan jika rahasianya terbuka ke publik luas sehingga sang dalang memakai alur cerita yang lain dengan seolah-olah beliau di dzalimi atau impeachment, melankolis politik, aplikatif dan implementasi kebijakan pemerintah lebih banyak saya lihat dalam kinerja bapak SBY dari jilid I yang kemarin sama saja, kalaupun bapak john palinggi menyampaikan dalam pernyataannya bahwa salah satu contoh tidak ada intervensi SBY adalah besan SBY saja di penjarakan, kenapa saya skeptis dan menganggap pernyataan bapak terlalu normatif dan subyektif, pendapat saya bahwa memang sengaja besannya masuk penjara karena memang digunakan untuk menjaga politik pencitraan dan kredibilitas penguasa itu sendiri apalagi kemarin ini kan sangat relevan dengan jargon politik partainya intinya adalah sikat KKN tanpa pandang bulu, mau besan kek, mau saudara kek, kan sudah terbukti dan teruji, berani-beraninya mengklaim sesuatu yang masih menjadi disapora wacana saat itu sehingga saya mengasumsikan pernyataan partai tersebut sebuah klaim untuk klien (penguasa), seharusnya sebagai masyarakat Indonesia saat ini kita harus cerdas dan kritis melihat kondisi di sekitar kita karena nilai kebenaran di nusantara ini perlahan-lahan mencapai titik nadir dan tertinggal hingga meninggal(mati), di Bangsa ini tidak ada kebenaran yang absolute dan mutlak yang memang sebenar-benarnya kebenaran, yang ada adalah sebenar-benarnya kebenaran demi mencapai kepentingan yang sangat tendensius, kekuasaan sangat berpotensi untuk korup (KKN). Wallahu`alam bishawab…….


Selasa, 03 November 2009

Bersandar Hanya Kepada Allah

Oleh: K. H. Abdullah Gymnastiar

Tiada keberuntungan yang sangat besar dalam hidup ini, kecuali orang yang tidak memiliki sandaran, selain bersandar kepada Allah. Dengan meyakini bahwa memang Allah-lah yang menguasai segala-galanya; mutlak, tidak ada satu celah pun yang luput dari kekuasaan Allah, tidak ada satu noktah sekecil apapun yang luput dari genggaman Allah. Total, sempurna, segala-galanya Allah yang membuat, Allah yang mengurus, Allah yang menguasai.

Adapun kita, manusia, diberi kebebasan untuk memilih, "Faalhamaha fujuraha wataqwaaha", "Dan sudah diilhamkan di hati manusia untuk memilih mana kebaikan dan mana keburukan". Potensi baik dan potensi buruk telah diberikan, kita tinggal memilih mana yang akan kita kembangkan dalam hidup ini. Oleh karena itu, jangan salahkan siapapun andaikata kita termasuk berkelakuan buruk dan terpuruk, kecuali dirinyalah yang memilih menjadi buruk, naudzubillah.


Sedangkan keberuntungan bagi orang-orang yang bersandarnya kepada Allah mengakibatkan dunia ini, atau siapapun, terlampau kecil untuk menjadi sandaran baginya. Sebab, seseorang yang bersandar pada sebuah tiang akan sangat takut tiangnya diambil, karena dia akan terguling, akan terjatuh. Bersandar kepada sebuah kursi, takut kursinya diambil. Begitulah orang-orang yang panik dalam kehidupan ini karena dia bersandar kepada kedudukannya, bersandar kepada hartanya, bersandar kepada penghasilannya, bersandar kepada kekuatan fisiknya, bersandar kepada depositonya, atau sandaran-sandaran yang lainnya.

Padahal, semua yang kita sandari sangat mudah bagi Allah (mengatakan ‘sangat mudah’ juga ini terlalu kurang etis), atau akan ‘sangat mudah sekali’ bagi Allah mengambil apa saja yang kita sandari. Namun, andaikata kita hanya bersandar kepada Allah yang menguasai setiap kejadian, "laa khaufun alaihim walahum yahjanun’, kita tidak pernah akan panik, Insya Allah.

Jabatan diambil, tak masalah, karena jaminan dari Allah tidak tergantung jabatan, kedudukan di kantor, di kampus, tapi kedudukan itu malah memperbudak diri kita, bahkan tidak jarang menjerumuskan dan menghinakan kita. kita lihat banyak orang terpuruk hina karena jabatannya. Maka, kalau kita bergantung pada kedudukan atau jabatan, kita akan takut kehilangannya. Akibatnya, kita akan berusaha mati-matian untuk mengamankannya dan terkadang sikap kita jadi jauh dari kearifan.

Tapi bagi orang yang bersandar kepada Allah dengan ikhlas, ‘ya silahkan ... Buat apa bagi saya jabatan, kalau jabatan itu tidak mendekatkan kepada Allah, tidak membuat saya terhormat dalam pandangan Allah?’ tidak apa-apa jabatan kita kecil dalam pandangan manusia, tapi besar dalam pandangan Allah karena kita dapat mempertanggungjawabkannya. Tidak apa-apa kita tidak mendapatkan pujian, penghormatan dari makhluk, tapi mendapat penghormatan yang besar dari Allah SWT. Percayalah walaupun kita punya gaji 10 juta, tidak sulit bagi Allah sehingga kita punya kebutuhan 12 juta. Kita punya gaji 15 juta, tapi oleh Allah diberi penyakit seharga 16 juta, sudah tekor itu.

Oleh karena itu, jangan bersandar kepada gaji atau pula bersandar kepada tabungan. Punya tabungan uang, mudah bagi Allah untuk mengambilnya. Cukup saja dibuat urusan sehingga kita harus mengganti dan lebih besar dari tabungan kita. Demi Allah, tidak ada yang harus kita gantungi selain hanya Allah saja. Punya bapak seorang pejabat, punya kekuasaan, mudah bagi Allah untuk memberikan penyakit yang membuat bapak kita tidak bisa melakukan apapun, sehingga jabatannya harus segera digantikan.

Punya suami gagah perkasa. Begitu kokohnya, lalu kita merasa aman dengan bersandar kepadanya, apa sulitnya bagi Allah membuat sang suami muntaber, akan sangat sulit berkelahi atau beladiri dalam keadaan muntaber. Atau Allah mengirimkan nyamuk Aides Aigepty betina, lalu menggigitnya sehingga terjangkit demam berdarah, maka lemahlah dirinya. Jangankan untuk membela orang lain, membela dirinya sendiri juga sudah sulit, walaupun ia seorang jago beladiri karate.

Otak cerdas, tidak layak membuat kita bergantung pada otak kita. Cukup dengan kepleset menginjak kulit pisang kemudian terjatuh dengan kepala bagian belakang membentur tembok, bisa geger otak, koma, bahkan mati.

Semakin kita bergantung pada sesuatu, semakin diperbudak. Oleh karena itu, para istri jangan terlalu bergantung pada suami. Karena suami bukanlah pemberi rizki, suami hanya salah satu jalan rizki dari Allah, suami setiap saat bisa tidak berdaya. Suami pergi ke kanotr, maka hendaknya istri menitipkannya kepada Allah.

"Wahai Allah, Engkaulah penguasa suami saya. Titip matanya agar terkendali, titip hartanya andai ada jatah rizki yang halal berkah bagi kami, tuntun supaya ia bisa ikhtiar di jalan-Mu, hingga berjumpa dengan keadaan jatah rizkinya yang barokah, tapi kalau tidak ada jatah rizkinya, tolong diadakan ya Allah, karena Engkaulah yang Maha Pembuka dan Penutup rizki, jadikan pekerjaannya menjadi amal shaleh."

Insya Allah suami pergei bekerja di back up oleh do’a sang istri, subhanallah. Sebuah keluarga yang sungguh-sungguh menyandarkan dirinya hanya kepada Allah. "Wamayatawakkalalallah fahuwa hasbu", (QS. At Thalaq [65] : 3). Yang hatinya bulat tanpa ada celah, tanpa ada retak, tanpa ada lubang sedikit pun ; Bulat, total, penuh, hatinya hanya kepada Allah, maka bakal dicukupi segala kebutuhannya. Allah Maha Pencemburu pada hambanya yang bergantung kepada makhluk, apalagi bergantung pada benda-benda mati. Mana mungkin? Sedangkan setiap makhluk ada dalam kekuasaan Allah. "Innallaaha ala kulli sai in kadir".

Oleh karena itu, harus bagi kita untuk terus menerus meminimalkan penggantungan. Karena makin banyak bergantung, siap-siap saja makin banyak kecewa. Sebab yang kita gantungi, "Lahaula wala quwata illa billaah" (tiada daya dan kekuatan yang dimilikinya kecuali atas kehendak Allah). Maka, sudah seharusnya hanya kepada Allah sajalah kita menggantungkan, kita menyandarkan segala sesuatu, dan sekali-kali tidak kepada yang lain, Insya Allah.

Senin, 02 November 2009

Teror Sistematis Al-Aqsho oleh Zionis Israel La`natullah


Oleh: Nugrah Yatna Utama

Sudah sangat jelas di dalam Al-Qur`an tentang perangai, perilaku dan sifat buruk kaum Israil,kaum pembangkang terhadap Allah,kaum bengis dan haus darah,kaum sumber malapetaka dan masalah di muka bumi ini dan terkhusus hari ini,adalah bangsa Israel adalah bangsa yang harus bertanggung jawab terhadap penistaan dan penjajahan terhadap bumi para nabi dan negara Palestina, merekalah musuh abadi umat Islam dan dengan janji Allah pula dalam kitab sucinya,umat ini akan menghancurkan mereka,insya Allah.

Belum hilang dari ingatan kita saat beberapa bulan yang lalu tentang pembantaian di Gaza dan termutakhir tentang agresi dan ekspansi mereka ke masjid suci Al-Aqsho yang terus berlangsung hingga tulisan ini kami terbitkan menurut Anggota parlemen Palestina Jamal al Khudry, yang juga ketua Komite Rakyat Anti Blokade, mengatakan bahwa berulangnya penyerbuan masjid Al-Aqsha bukan merupakan upaya yang dilakukan oleh individu atau kelompok ekstremis Yahudi, tetapi kebijakan sistematis yang diprogram memiliki tujuan dari pemerintah Zionis untuk melakukan yahudisasi al Quds dan melenyapkan fitur-fitur Arab dan Islam di sana.


Khudry mengatakan, "Serangan ini menuntut persatuan Palestina mengatasi perbedaan dan berbaris kokoh mendukung pembelaan al Quds dan masjid Al-Aqsha."Dia melanjutkan, "Yang paling berbahaya dari apa yang dapat diteropong adalah bahwa agresi ini adalah bagian dari lingkaran yang terus-menerus, sebagai pelaksanaan kebijakan yahudisasi terhadap kota al Quds (masjid Al-Aqsho) yang diadopsi pemerintahan penjajah Israel."

Khudry menegaskan kebijakan berbahaya ini harus dihadapi melalui program-program komprehensif. Yang memerlukan upaya kombinasi Arab dan Islam di level pemerintah, lembaga-lembaga dan rakyat dengan usaha rakyat Palestina untuk menghadapi bahaya ini. Dia menegaskan bahwa warga Palestina dalam dan al Quds hari ini sebagai orang terdepan mengemban tugas membela Al-Aqsha dengan telanjang dada. Dia menyerukan perlunya dukungan kepada mereka melalui berbagai cara.

Ia mengimbau kepada pada pejabat di Arab dan dunia Islam; bekerja untuk mendukung perjuangan rakyat Palestina dalam menghadapi bahaya besar yang mengancam eksistensi masjid Al-Aqsho dan masa depan mereka di al Quds. sekarang tugas kita semua yang mengaku Allah rabbnya dan Muhammad nabi dan rasulnya,untuk menjawab panggilan ini dengan tindak lanjut yang memungkinkan untuk kita mempertahankan Al-Aqsho dan membantu saudara-saudara kita dari rongrongan bangsa kafir yahudi-israel-zionis La`natullah cucu dari kera dan babi,mari saudaraku sesama muslim......... Allahu Akbar....... Allahu Akbar...... Allahu Akbar..... !!!!!

Sabtu, 30 Mei 2009

PII antara Heroisme Masa Lalu dan Realitasnya Masa Kini

Oleh : Zulkifli Hasibuan[1]

Tulisan ini dibuat pada tanggal 12 Juli 2008 di Makasar. Tulisan yang berjudul “PII antara Heroisme Masa Lalu dan Realitas Masa Kini” telah memalui finishing mancoba untuk dihidangkan di hadapan kawan-kawan seluruh Indonesia. Dan terpenting semoga kita bisa mengambil hikmah di setiap apa yang kita lalui termasuk ketika kita aktif di PII. Selamat menikmati.

Kesempurnaan pendidikan dan kebudayaan yang sesuai dengan Islam bagi segenap rakyat Indonesia dan umat manusia adalah ekspresi optimisme PII akan tewujudnya masyarakat yang Islami dimuka bumi. Hal ini merupakan keyakinan PII akan terwujutnya masyarakat berperadaban yang dibentuk melalui proses pendidikan tersebut. Membangun masyarakat peradaban sejatinya adalah membentuk manusia yang berilmu pengetahuan alias manusia beradab. Proses pendidikan PII tidak sekedar menciptakan manusia sosial tetapi berorientasi pada nilai-nilai Islam sedangkan tujuan pendidikan menurut islam menciptakan manusia yang baik atau manusia terpelajar. Syed Muhammad Naquib Al-Attas seorang pemikir kontemporer muslim mendefenisikan manusia terpelajar adalah orang baik, dan baik yang dimaksud di sini adalah adab dalam arti yang menyeluruh yang meliputi spiritual dan material seseorang, yang berusaha menanamkan kualitas kebaikan yang diterimanya. Oleh karena itu maka orang yang benar-benar terpelajar menurut perspektif Islam didefenisikan al-attas sebagai orang yang beradab.

Dalam konsep kaderisasi PII, kader diproyeksikan mampu men-transformasi-kan idealita PII dengan jalan terlibat secara aktif dalam menjawab tantangan dan memecahkan problematika yang dihadapi oleh organisasi, bangsa Indonesia, dan umat manusia. PII mencoba mendesain kader yang pada hakekatnya disiapkan untuk mengemban tugas masa depan dengan kemampuan, kualitas dan kualifikasi tertentu. Kader merupakan kekuatan inti organisasi dan umat Islam untuk menjadi pelopor, penggerak dan penjaga misi perjuangan guna mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil Aalamin. Idealitas kader merupakan konseptualisasi dan kristalisasi dan pemahaman tentang konsepsi manusia dan tujuannya (baca : Khittah perjuangan)

Diakui apa tidak eksistemsi PII tidak bias dipisahkan dengan pergolakan politik dan kondisi sosiohistoris bangsa ini. Abdul Qadir Jaelani dalam tulisannya yang berjudul “Peranan Pelajar Islam Indonesia dalam Orde Baru dan Latar Belakang Sistem Trainingnya” mengatakan bahwa keterlibatan dan pertisipasi Pelajar Islam Indonesia (PII) di dalam kebangkitan orde baru adalah sangat besar dan penting. Peranan itu bukan saja lahir disaat-saat gagal diruntuhkannya G 30 S/PKI tahun 1965, tetapi jauh sebelum kudeta komunis itu, yaitu semenjak oerde lama yang otoriter dan komunistis berdiri. Tahun 1950-an PII bersama rakyat melahirkan gerakan sparatisme sebagai ekspresi ketidakpuasan terhadap kepemimpinan soekarno. Belum lagi ketika pamor soekarno turun pasca mundurnya Hatta sebagai wakil presiden, untuk mengembalikan pamor itu Soekarno mengunakan cara yang dictator. Sedangkan Demokrasi terpimpin dinilai merupakan eufimisme (bahasa halus) dari absolutisme kekuasaan, yang kemudian dipertegas dengan pengangkatan sebagai presiden seumur hidup. Tidak kalah menarik ketika Souharto memimpin bangsa ini, diskriminasi terhadap kelompok idiologi mayoritas mewarnai kepemimpinannya. Abdul Azis Thaba mencatat ada lebih kurang tujuhkebijakan Soeharto yang tidak berpihak kepada Umat Islam, menurut Alwi Alatas dan Fifrida Deliyanti salah satunya adalah kebijakan tentang pelarangan berjilbab bagi pelajar putrid, 1982-1991. Kondisi politik pada massa orde baru sangan hegemonic, tidak bisa kita bayangkan bagaimana heroisme pemerintah ketika jilbab mulai menyebar kesekolah-sekolah, budaya militerisme yang sangat kuat, dan kristenisasi yang ekspansif. Sementara eksprasi-eksprasi penolakan dan perlawanan PII terhadap hegemoni Negara dan pemerintah lahir tiap waktu dan mulai redup pasca tumbangnya rezim orde baru yang telah memimpin selama 32 tahun.

Kondisi eksternal dan hadapan nyata PII, 1950-1998 ini menjelaskan makna insplisit tentang kontribusi positif PII dalam sejarah bangsa ini. Apakah gerangan yang mendorong PII untuk dapat tampil manjadi subyek didalam kebangkitan orde baru? Apakah karena faktor-faktor lingkungan semata atau memang ada kesadaran ideologis yang ditanamkan selama bertahun-tahun didalam latihan-latihan yang dimilikioleh PII? Secara subyektif faktor-faktor lingkungan memang sangat mempengaruhi penampilan PII didalam sejarah itu, tetapi lebih besar pengaruh itu disebabkan oleh faktor-faktor sistem trening yang dimilikinya dan implikasi proses transformasi nilai-nilai idealitas PII tersebut.

Pasca tahun 1998 dimana Soeharto tumbang dan masyarakat ‘Merdeka’ tidak ketinggalan entitas kecil dari umat islam yaitu PII-pun merasakan kemerdekaan dalam mengembangkan sayapnya. Kondisi polotik ini berimplikasi juga terhadap dinamika internal ditubuh PII. PII yang lahir untuk umat ini seolah kehilangan jejak, kehilangan orientasi, dan buta terhadap ‘rival’ yang menjadi hadapan relitasnya. Kondisi PII tahun 1966-1998, selalu muncul dipermukaan untuk menyelesaikan realitas sosial dikalangan pelajar. Kalau embrio PII oleh Yusdi Ghojali dimunculkan atas dasar dikotominasi pendidikan dan diakhirnya melahirkan PII sampai akhir ini, maka kita oatut merefleksikan eksistensi kita sebagai kaderdan sebagai bagian dari sistem yang memproduksi kakrakter kita, karena kondisi kita relative lebih nyaman, dan dalam kondisi ini juga kita dapat pernah merasakan bagaimana tersiksanya diintimidasi, diinterogasi, dibunuh ruang kreativitasnya, atau lain-lain yang bersifat hegemonik, dan bahkan kita tidak pernah merasakan terpanggil untuk merespon problematika umat ini, atau bias saja hari ini kita berada dititik kronis bahwa kita dan PII sedang mencari jati diri kita kembali. Kita tidak pernah sedikitpun untuk merespon masalah-masalah keummatan, kita juga tidak punya data tentang kondisi pelajar kontemporer, atau bahkan kita tidak pernah tahu seperti apa wajah struktur kita, dan bagai mana implementasi kaderisasi kita. Anis Matta dalam buku menikmati demokrasi mengatakan kita tidak akan pernah menang ketika analisa kekuatan kita dibacaan terhadap kondisi lawan tidak jelas. Kita terlebih dahulu menjustifikasi kita menang tanpa mengetahui seberapa besarnya kekuatan rival yang akan kita lawan, dan sering kita pesimis tanpa alas an padahal kita jauh lebih memiliki kekuatan dari pada lawan kita.

Kita coba melihat kembali bentukan kader masa lalu, kita bias menemukan Ibrahim Zarkasi yang menjadi salah satu presidium Kongres I umat Islam yang melahirkan panca cita (baca : Djayadi Hanan, 2005), kita bias melihat sosok Muh. Rum, M. Natsir, Abdul Kahar Mudzakar, dan lain-lain yang memang mereka tidak pernah berkecimpung secara structural tetapi mereka secara tidak langsung berinfiltrasi dalan konsepsi yang membentuk karakter kader PII. Tetapi satu yang harus kita sadari bahwa mereka lahir ketika kondisi bangsa ini tidak senyaman hari ini, mereka lahir ketika realitas sosial waktu itu membutuhkan aluran tangan mereka. Berarti bahwa kepemimpinan personal mereka diakui atasdasar perjuangan mereka dalam kondisi yang serba hegemonik. Bagaimana dengan kita hari ini?

Dengan realitas ini, sepertinya kita butuh peninjauan konsepsi kaderisasi tentang sifat kader yang melekat dalam setiap proses kaderisasi yang dilalui oleh kader. Kita mencoba tidak particular melihat setiap implikasi yang muncul dipermukaan tetapi menatapnya secara konferehensif dan mengkaji kausalitasnya. Degradasi kualitas kader ini kita tarik kepada suatu yang melatar belakangi semua ini muncul, dalam konteks ini kita akan melihat seperti apa PII memandang. Ada beberapa sifat kader PII dalam kaca mata konsep kaderisasi PII :

1. muslim, dalam arti memiliki sifat ketundukan hanya kepada Allah dalam arti konsepsi dan cara pandang, sikap, dan aktualisasi berada dalam garis bimbingan oleh ridha Allah.
2. Cendekia dalam arti meneladani sifat fathonah nabi, sehingga memiliki wawasan dan antisipasi yang luas serta kerangka metodologi yang kuat sehingga dapat menagkap dan memahami kebenaran, mengkonsetualisasi dan mengaktualisasikannya secara konferehensif, cendikia berarti kader PII akan mampu memahami Islam berbagai hal dengan dinamis.
3. Kepemimpinan berarti memiliki sikap dan kemampuan sebagai seorang pemimpin yang berani dan bertanggung jawab, yang mampu mengambil keputusan secara tepat dan mengelola potensi lingkungannya menjadi suatu yang bernilai sebagai aktualisasi kekhalifahannya.

Diatas adalah idealitas konsepsi tentang sifat kader, bagaimana dengan realitasnya? Pada tataran Implementasi praksis kita coba menggunakan pendekatan rekayasa sosial bahwa realitas hari ini akan kita sesuaikan menuju idealitas konsepsi, ataukah idealitas ini yang harus mengikuti kondisi realitas yang ada sehingga akan ada banyak dialog untuk mengsingkronkan. Tetapi sebelum itu butuh dijawab bahwa sudahkan semua menjadi ruh gerakan dan dipahami oleh seluruh kader? Kalau belum, kita perlu bijak melihat seluruh konsepsi yang dibangun untuk PII kemarin, hari ini, dan esok.

Dinamika berpikir dan ruang presepsi di PII sangat terbuka lebar, satu sisi ini positif dalam logika proses, tetapi sisi yang lain kita akan susah melakukan lompatan gerak yang sama, sehingga kita sangat substansial. Skil manajemen akan menjadi satu bagian penting untuk menarik gerakan kita pada level efektifitas dan efesiensi, karena kalau tidak kita akan cenderung superficial dalam berbagai hal dan pada akhirnya nanti kita akan meninggalkan sesuatu yang mendasar yang akan kitya perjuangkan.

Dalam berbagai hal realitas internal kader sangat multikultur, yang mudah diukur secara fisik adalah spesifik terkait karakter dan latar belakang normatifnya. Tetapi kita harus mencoba melihat titik kesamaan yang akan mengantarkan kita pada cita-cita ta’dib. Dan hari ini tahapan kita sudah tidak lagi meninjau kembali heterogenitas yang ada tetapi kembali kesesuatu yang sangat mendasaar yaitu kesamaan visi gerak, dan arah tujuan yang bermuara pada konstruksi peradaban, kalau memang gerakan kita ini diakui demikian.

Dengan berbagai konsepsi diatas kita perlu me- reoreantasi garakan kita ditingkat regional dan lokalitas kita hari ini, pekerjaan rumah kita terlalu banyak untuk umur biologis yang dimiliki kader hari ini; mulai dari proses dialektika kebijakan dengan realitas internal-eksternal, up grade kualitas personal dan struktur, responsibilitas sosial yang tentunya sesuai dengan garapan PII, serta penyiapan lapis. Beberapa tatapan diatas berharap akan menghilangkan pretensi terhadap kinerja setiap kader distuktural karena ruang waktu sangat sempit untuk waktu dialogis sehingga sangat mungkin ada langkah solutipfyang mengamini sebuah dinamika organisasi, dan dalam kondisi ini kalau boleh mengutip katanya Ruslan Ismail Mage ‘hari ini kita butuh kedewasaan intelektual bukan kesombongan intelektual’ bahwa para digma intelektual yang membungkus pikiran kita digunakan untuk hal-hal yang produktif dalam kerangka pragmatisme. Salah satu langkah solutif untuk realitas internal hari ini adalah refungsionalisasi setiap pos penting di struktur.

Karena kita adalah kelompok sosial masyarakat yang memegang peranan penting dalam mengemban amanah kesejahteraan untuk melakukan perubahan dalam membangun dan menata peradaban dan kita adalah subyek peradaban. Karena kita (kader) adalah merupakan generasi penerus bangsa dan lahir dan tumbuh berkembang dalam lingkungan kaum terpelajar dan terdidik, lingkungan yang kondusif dan ilmiah maka dengan kedewasaan berstruktur dan latar belakang intelektual kita akan menatap PII sebagai bagian yang utuh dengan konsepsi kaderisasinya, latar belakang historisnya, bentukan karakter kadernya, dan cita-cita peradaban yang mau dibangun.
Wallahu ‘alam

[1] Ketua PK PPQ 2003, KaBid Kaderisasi PD PII Serge 04/05, Ketum PD PII Serge 05/06

Minggu, 24 Mei 2009

KFC 'Halal' Jadi Perdebatan di Inggris

sumber: www.eramuslim.com

Jaringan makanan cepat saji KFC (Kentucky Fried Chicken) telah mencoba menyediakan menu daging ayam Halal di beberapa restoran tertentu mereka (http://www.eramuslim.com/berita/dunia/kfc-membuka-outlet-halal-nya-di-inggris.htm), namun
beberapa umat Islam Inggris mengatakan bahwa ayam potong yang disediakan oleh KFC dipotong tidak sesuai dengan hukum Islam. Catrin Nye salah seorang Muslim mempertanyakan ke Halalan daging ayam tersebut.


Saat ini jaringan makanan cepat saji KFC telah mencoba menyediakan daging ayam Halal di delapan restoran mereka - berarti ayam tersebut telah dipotong sesuai dengan aturan hukum Islam. Namun usaha untuk mencoba menyediakan menu daging ayam halal malah menyulut berbagai kontroversi atas daging halal tersebut, di beberapa restoran - umat Islam memboikot karena mereka mengatakan bahwa ayam dipotong belum sesuai dengan cara Islam yang benar.


Permasalah yang timbul dari kontroversi tersebut adalah apakah daging ayam Halal dipotong dengan menggunakan mesin?


Secara tradisional, daging Halal adalah di potong dengan tangan secara langsung dan dengan menyebut nama Allah oleh pemotongnya. Namun ada yang mengatakan Islam menerima pemotongan hewan dengan menggunakan mesin.


Dalam Islam, Halal adalah gambaran dari suatu makanan dan minuman yang di bolehkan untuk dikonsumsi di bawah hukum Islam yang telah ditetapkan di dalam Al-Quran dan Sunnah. Menilai suatu produk makanan Halal atau tidak hanya dapat dilakukan oleh seorang ulama/pakar yang ahli dalam hukum-hukum Islam.


Saat ini ada dua organisasi yang mengatur Kehalalan dari industri makanan di Inggris. Halal Food Authority (HFA) mengatakan memotong hewan dengan menggunakan mesin tidak ada masalah, sepanjang dalam pemotongan tersebut disebut nama Allah. Mereka berargumentasi bahwa kemajuan teknologi juga dapat merubah metode termasuk dalam hal memotong hewan selama pada saat pemotongan massal tersbut disebut nama Allah.


Tetapi Halal Monitoring Committee (HMC) mengatakan bahwa penyembelihan hewan harus menggunakan tangan secara langsung dan itu berarti hewan yang di sembelih menggunakan mesin tidak halal menurut mereka. Alasannnya bahwa mekanisasi (menggunakan mesin) dalam pemotongan hewan kontradiksi dari prinsip dasar dari daging Halal - karena orang yang menyembelih hewan haruslah orang yang sama dengan yang membacakan nama Allah pada saat menyembelih.


"Makanan Halal adalah sangat penting dalam kehidupan seorang Muslim dan banyak umat Islam tidak mengetahui makanan yang mereka makan sudah Halal atau belum dan sertifikasi Halal salah satu cara untuk mengetahuinya," kata Yusuf Dudhwala ketua dari HMC.


KFC mengatakan bahwa mereka mengikuti arahan yang diberikan oleh penasehat yang kompeten.


"Kami bekerja sama dengan Halal Food Authority (HFA) - salah satu lembaga yang telah diakui di Inggris dan luar negeri, serta telah di audit dan disetujui oleh supplier daging halal kami," kata seorang juru bicara perusahaan. Perdebatan dan kontroversi mengakibatkan adanya seruan supaya hanya ada satu badan atau lembaga yang mengatur persoalan makanan Halal di Inggris yang memiliki pedoman jelas mengenai bagaimana cara menyembelih hewan secara Islam.


"Tanggung jawab tidak pada individu untuk mengenali setiap item makanan yang mereka makan, jika penjual mengatakan bahwa makanan tersebut Halal - hal itu sudah cukup," kata Ajmal Masroor salah seorang Imam dan juru bicara untuk Islamic Society of Britain.(fq/bbc)


Jumat, 13 Februari 2009

Kampanye Kotor (Black Campaign) Pemilu 2009

Oleh : Edi Pranoto

Dinamika kegiatan kampanye Pemilu Legislatif makin panas, pasca pembatalan Pasal 214UU 10/2008 yang mengatur tentang penetapan anggota legislatif terpilih. Sebelum pembatalan kewenangan penetapan setelah tidak ada yang mendapatkan Bilangan Pembagi Pemilih (BPP), maka partai punya kewenangan untuk menentukan berdasarkan nomor urut Calon Anggota Legislatif. Namun sekarang tidak bisa demikian, calonlah yang akan menentukan diri sendiri untuk dapat menjadi anggota legislatif atau tidak, karena hanya mereka yang mendapatkan suara terbanyak di partai yang memperoleh kursi yang akan duduk menjadi anggota legislatif.

Persaingan calon anggota legislatif tidak hanya terjadi antara calon dari partai yang berbeda, namun justru sekarang yang muncul adalah persaingan antar calon dalam partai yang sama. Kaitan dengan peran partai politik sekarang ini, partai hanya sekedar kendaraan politik bagi orang yang akan menjadi calon anggota legislatif. Tanpa ada peran yang dimiliki oleh partai tersebut, menyebabkan calon anggota legislatif dalam melaksanakan kampanye tanpa memperhatikan garis kebijakan partai, karena perjuangan yang mereka lakukan hanya untuk kepentingannya, yaitu mendapatkan suara sebanyak-banyaknya.

Dalam upaya mendapatkan dukungan sebanyak-banyaknya dari para pendukungnya, maka calon akan menggunakan segala daya dan upaya, bahkan kadang menghalalkan secara cara baik cara yang halal (diperbolehkan) maupun yang haram (yang dilarang).

Cara kampanye yang haram oleh orang awam sering disebut dengan istilah kampanye kotor/hitam (Black Campaign) yang mana calon anggota legislatif melakukan kampanye yang dapat merugikan calon lain dan/atau Peserta Pemilu lain dengan mengharapkan dirinya atau partainya mendapat keuntungan dari kampanye kotor tersebut. Kampanye kotor dilakukan untuk menjatuhkan calon sehingga calon tersebut menjadi tidak disenangi temannya, pendukungnya. Dengan begitu calon tersebut akan dikeluarkan dari partai sehingga karier politiknya habis alias tamat.

Biasanya kampanye kotor hanya didukung oleh fakta yang akurasi kebenarannya belum terbukti. Media yang dipakai untuk kampanye kotor, selain oral, juga bisa melalui selebaran, famlet, maupun sekarang melalui SMS. Sedangkan dalam UU Nomor 10/2008 kampanye kotor tersebut dilarang sebagaimana tersebut dalam Pasal 84 ayat (1) huruf c, yaitu menghina seseorang, agama, suku, ras, golongan calon dan/atau Peserta Pemilu yang lain.

Untuk itu, yang harus diperhatikan oleh calon anggota lagislatif dalam melaksanakan kampanye ada beberapa regulasi yang harus diperhatikan dan ditaati agar kampanye yang dilakukan tidak termasuk kategori kampanye kotor.

Regulasi tersebut khususnya Pasal 84 ayat (1) UU Nomor 10/2008 disebutkan:

Pelaksana, peserta, dan petugas kampanye dilarang:
a). mempersoalkan dasar Negara Panasila, Pembukaan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia;
b). melakukan kegiatan yang membahayakan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia;
c). menghina seseorang, agama, suku, ras, golongan, calon dan/atau Peserta Pemilu yang lain;
d). menghasut dan mengadu domba perseorangan ataupun masyarakat;
e) mengganggu ketertiban umum;
f). mengancam untuk melakukan kekerasan atau menganjurkan penggunaan kekerasan kepada seseorang, sekelompok anggota masyarakat, dan/atau Peserta Pemilu yang lain;
g). merusak dan/atau menghilangkan alat peraga kampanye Peserta Pemilu;
h). menggunakan fasilitas pemerintah, tempat ibadah, dan tempat pendidikan;
i). membawa atau menggunakan tanda gambar dan/atau atribut lain selain dari tanda gambar dan/atau aribut Peserta Pemilu yang bersangkutan;
j). menjanjikan atau memberi uang/materi lainnya kepada peserta kampanye.

Lebih dipertegas lagi dalam Peraturan KPU Nomor 19/2008 tentang Kampanye, khususnya Pasal 10 ayat (2) disebutkan:

Penyampaian materi kampanye dilakukan dengan cara:
a) sopan, yaitu menggunakan bahasa atau kalimat yang santun dan pantas ditampilkan kepada umum;
b). tertib, yaitu tidak mengganggu kepentingan umum;
c). mendidik, yaitu memberikan informasi yang bermanfaat dan mencerahkan pemilih;
d). bijak dan beradab, yaitu tidak menyerang pribadi, kelompok, golongan atau Peserta Pemilu lain.

Sedangkan di Pasal 11 diatur tentang Pelaksana kampanye dalam menyusun materi dan melaksanakan kampanye Pemilihan Umum, harus:
a), menjunjung tinggi pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945;
b). menjaga dan meningkatkan moralitas dan nilai-nilai agama serta jati diri bangsa;
c). menjaga persatuan dan kesatuan bangsa;
d). meningkatkan kesadaran hukum;
e). memberikan informasi yang benar, seimbang, dan bertanggungjawab sebagai bagian dari pendidikan politik;
f). menjalin komunikasi politik yang sehat antara Peserta Pemilu dan/atau calon anggota DPR, DPD, dan DPRD dengan masyarakat sebagai bagian dari membangun budaya politik Indonesia yang demokratis dan bermartabat.

Pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 84 ayat (1) huruf c termasuk tindak pidana Pemilu, sebagaimana diatur dalam Pasal 270 UU Nomor 10/2008 yang menyebutkan, bahwa "Setiap orang dengan sengaja melanggar larangan pelaksanaan kampanye pemilu sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 84 ayat (1) huruf a, b, c, d, e, f, g, h atau i dipidana penjara 6-24 bulan dan denda Rp. 6.000.000 (enam juta rupiah)-Rp. 24.000.000 (dua puluh juta rupiah)."

Agar tidak terkena ketentuan pidana di atas, maka sebaiknya calon dalam melakukan kampanye tidak melakukan kampanye kotor, dengan begitu akan memberikan pendidikan politik yang baik dan benar bagi pendukungnya."

Selamat berjuang untuk mendapat dukungan pada Pemilu tanggal 9 April 2009!

dikutip dari: [www.kabarindonesia.com]

Jumat, 07 November 2008

Perjuangan Belum Selesai Saudara……… (Realitas menyikapi pengesahan UUP, serta mengkritisi aksi Provinsi Sulsel yang menolak UUP)

oleh: Nugrah Yatna utama

UUP telah di sahkan dengan wajah yang berseri-seri dan sumringah para pendukung UUP tersebut bersemangat menyambutnya dengan penuh suka cita,Alhamdulillah…..apakah cuma sampai di situ perjuangan kita (PII) dalam mengawal moralitas bangsa dan pelajar Indonesia, cukup perjuangan kita bukan hanya saat di DPR sana mengetuk palu tanda di sahkan UUP,sudah selesailah perjuangan kita………….

Sadarlah dari euphoria pengesahan UUP, tugas kita malah semakin berat setelah di sahkan undang-undang ini.kenapa semakin berat proses ini tidak hanya terhenti pada pengesahan undang-undang ini, tapi lebih dari itu semua, apalagi PII sebagai slah satu motor penggerak dalam menyokong UUP mulai dari awal hingga akhirnya disahkan, proses hokum Negara kita yang memperbolehkan Judicial Review ke Mahkamah Agung untuk mengutak atik Undang-undang ini kembali, masih banyaknya beberapa daerah yang menolak UU ini, terkhusus dan yang lebih penting adalah kembali kepada kita yang notabenenya mendukung dan motor penggerak dalam memperjuangkan undang-undang ini.sehingga dapat mengakibatkan counter efek yang berat kepada kita semua, jangan sampai malah kita sendiri yang menjadi pelaku dan penikmat porno,Naudzubillah…..sehingga timbul ketidak percayaan kepada kita dari masyarakat itu sendiri, sehingga tugas sekarang kita yang amat penting adalah menjaga proses UU ini sampai taraf sosialisasi dan implementasinya di masyarakat,sehingga jadilah kader umat yang baik tindakan dan perilaku dapat mencermikan bahwa kita adalah orang yang berpikir dan berjiwa positif serta konsisten,karena kita dikenal Karena konsistensi kita, yakinlah perjuangan dan dakwah tidak ada yang mudah, sehingga yakinlah ALLAH BERSAMA KITA………..Insya Allah.

Tapi yang sangat mengherankan kembali meyinggung UUP ini, serambi madinah menolak???? Aduhai alangkah lucunya…..,saat saya menonton salah satu siaran berita TV yang menginformasikan tentang beberapa provinsi yang menolak UUP adalah Sulawesi Selatan salah satunya,jelas selaku orang yang tinggal di Sulawesi Selatan tepatnya di kota Makassar saya jadi heran dan bingung,apakah sebobrok itukah daerah saya ini hingga menolaknya,memang tidak patut kita menjustifikasi bahwa UU ini yang paling dan sangat baik untuk bangsa kita ini,akan tetapi tidak pernah pula terlintas dalam pikiran saya bahwa ternyata wilayah yang mengukirkan namanya sebagai serambi madinah menolak hal positif untuk kemajuan dan penjunjungan nilai moralitas bangsa ini.lihat saja saudara kita serambi mekkah yang mendukungnya,memang tidak adil dan sangat provokatif jika saya mengatakan bahwa Negara kita ini,Negara islam,tapi paling tidak kita pahamilah sendiri terhadap wilayah kita sendiri.budaya Bugis-Makassar banyak mengadopsi hukum Islam,dengan motto syara`, islam dan warga Sulsel yang muslim tidak akan bisa di pisahkan sudah mendarah daging,sehingga sangat wajar jika kami berekspresi seperti itu,mudah-mudahan Allah tidak menurunkan azab terhadap wilayah kita ini karena jika pada suatu daerah atau wilayah tidak ada kebaikan di dalamnya maka tunggulah azab Allah yang amat pedih akan datang,semoga tulisan ini disikapi dengan positif oleh para pemimpin dan merasa pemimpin di dalam provinsi ini,dikarenakan kami sangat malu sebagai warga Sulsel jika tidak ada dukungan terhadap nilai positif itu sendiri,semoga kita semua sadar akan tanggung jawab kita sebagai umat islam,semoga ada ratifikasi dan klarifikasi dari pemimpin wilayah ini terhadap penyikapannya kepada UUP.semoga saja Allah memberikan dan menguatkan Islam ini terhadap kita sehingga kita dapat mengimplementasikannya secara kaffah……

Teruskan perjuangan Kader PII di Seluruh Indonesia dalam mengawal dan menjaga nilai-nilai islam dengan tetap berpegang teguh kepada Ajaran Islam yang hak,

“karena itu,ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu (dengan memberikan rahmat dan pengampunan).Dan bersyukurlah kepada-Ku,serta jangan ingkar (pada nikmat-Ku)” (Al-Baqarah:152)

Jumat, 31 Oktober 2008

DILEMA UU APP, SIKAP (TER)PELAJAR MERESPON PRO-KONTRA UU APP

Oleh: Nugrah Yatna Utama*

Fenomena salaf dan khalaf terkhusus yang terjadi pada sebuah penyimpangan “moral” yang orang zaman sekarang ini mengatakannya dengan kata-kata yang agak sensitif untuk didengar “porno” baik segara grafis maupun aksi, terkhusus lagi yang terjadi pada Bangsa kita RI tercinta ini, hingga hari ini pornografi dan pornoaksi yang terjadi pada negeri kita tercinta ini tidak perlu kita hitung banyaknya, mulai dari A-Z hal tersebut terjadi di negeri kita ini, tak terkecuali mulai daerah yang religius hingga yang?????

Mungkin sudah menjadi trend di negeri kita ini hal tersebut terjadi, heran juga???? Kenapa tindakan-tindakan negatife tersebut sering di lakukan, atau mungkin karena (maaf) enak ya…tindakan tersebut di lakukan berulang-ulang kali tanpa tedeng aling-aling, yang lebih mengherankan para pejabat-pejabat kita, para pemimpin kita mempratekkan tanpa malu-malu di depan khalayak ramai, wallahu`alam hingga hari ini saya tidak yakin sebagian kecil seperti itu, mungkin karena kurang di ekspos ya….

Jadi ??? bagaimana kita ini selaku orang kecil yang bukan mengambil kebijakan terhadap bangsa ini, apakah kita mau tinggal diam saja, atau cuek saja atau anda sendiri yang menjawab tindakan anda sendiri……
Kalaulah boleh saya mengusulkan kepada saudara-saudara saya untuk bersikap lebih terpelajar menyikapi hal ini walaupun nota benenya ada sebagian kecil diantara kita yang belum menempuh jenjang pendidikan (terpelajar), mungkin biaya yang terlampau mahal dan diskriminasi pendidikan yang sangat berlebihan di negeri kita ini (kayanya kembali ke zaman kolonialisme dulu). Tapi tidak ada masalah bagi saya, yang penting niat untuk belajar masih ada diantara kita semua,oke….
Sikap kita harusnya merespon secara positif terhadap permasalahan bangsa ini, dan mengajukan sebuah solusi yang baik, apalagi pemerintah kita sekarang lebih paham terhadap permasalahan moralitas bangsa ini sehingga mengajukan RUU APP, mungkin sudah malu (kenapa tidak dari dulu) katanya bangsa timur yang sangat menjunjung nilai-nilai moralitas bukan kebinatangan, atau semakin tingginya dekadensi moral bangsa ini terkhusus bagi kaum mudanya sehingga baru sekarang akan di pikirkan dan mensahkan UU tentang tindakan negatife tersebut, walaupun saya berpikir dan merenungi kenapa tidak dari dulu, memang kita bangsa yang lebih suka mengobati di bandingkan mencegah, tapi tak ada gading yang tak retak, semua punya khilaf karena sesungguhnya kita hanya hamba yang lemah,nah….walaupun terlambat kebijakan DPR RI tesebut sudah patut di acungi jempol kalau bukan kita yang mendukung hal tersebut jadi siapa lagi, apakah para penyembah nafsu kebinatangan tersebut??? Kita harusnya bersyukur mungkin saja UU ini menjadi solusi terhadap permasalahan moralitas bangsa ini. Mngkin saja bangsa ini perlu di purifikasi tatanannya sehingga dapat menjadi bangsa yang tidak hanya berdaulat tapi beradab yang tidak biadab.
Hanya orang-orang yang tidak bermoral saja yang menolak UU ini dengan berbagai alas an seperti alasan SARA yang nonsenses mungkin mereka yang mau bikin konflik SARA lagi, wahai cepat-cepat instropeksi tobat mungkin anda-anda semua sudah di rasuki setan…hingga berpikir kesetanan yang kelewat batas…mungkin saja……
Yang cukup mengherankan dan ternyata inilah sebuah realitas yang menolak UU tersebut adalah orang-orng abnormal dan jauh dari agamanya masing-masing, mulai dari waria-waria yang gamang, artis nggak beres,seniman dan budayawan gokil, sampai tokoh-tokoh masyarakat yang nggak jelas orientasinya yang terjadi pada beberapa daerah, setiap hal punya tendensi tidak terkecuali dengan orang-orang yang pro-kontra terhadap UU ini, tapi jika tendensi itu memberikan kebaikan kepada bangsa ini kenapa mesti kita biarkan berjalan pincang tanpa ada yang menyokong dan membantunya, sudah salahlah orang –orang yang menyatakan bahwa UU ini akan mengebiri bahkan mengimpotenkan nilai-nilai budaya daerah mereka masing-masing, makanya kalau kaji draft jangan draft yang pertama saja, setelah ada masukan-masukan maka draft kedua lahir yang membatasi penggunaan UU pada tataran budaya pada sautu daerah atau wilayah, jadi kenapa mesti kita menolak jika hal ini merupakan harapan terhadap pemecahan masalah moralitas bangsa ini, orang yang berpikir untuk perut dan di bawah peruntnya sama seperti apa yang keluar dari perut dan di bawah perutnya…….
Ayo……………….Mari………………………Kita dukung UU APP………………..



*Ketua Umum Pengurus Wilayah PII Sulsel 2008-2010

Sabtu, 07 Juni 2008

Membongkar Jaringan AKKBB (Bag. 2)


Bulan Mei lalu, ada dua isu panas di tengah masyarakat kita. Pertama soal rencana pemerintah menaikkan harga BBM. Yang kedua, soal kelompok sesat Ahmadiyah yang hendak dibubarkan namun mendapat dukungan dari koalisi liberal dan kelompok non-Muslim.

Di saat itulah, Abdurrahman Wahid terbang ke Amerika Serikat memenuhi undangan Shimon Wiesenthal Center (SWC) untuk menerima Medal of Valor, Medali Keberanian. Selain untuk menerima medali tersebut, Durahman juga menyatakan ikut merayakan hari kemerdekaan Israel, sebuah hari di mana bangsa Palestina dibantai besar-besaran dan diusir dari tanah airnya.

Medali ini dianugerahkan kepada mantan presiden RI ini dikarenakan Durahman dianggap sebagai sahabat paling setia dan paling berani terang-terangan menjadi pelindung kaum Zionis-Yahudi dunia di sebuah negeri mayoritas Muslim terbesar seperti Indonesia.

Acara penganugerahan medali tersebut dilakukan dalam sebuah acara makan malam istimewa yang dihadiri banyak tokoh Zionis Amerika dan Israel, termasuk aktor pro-Zionis Will Smith (The Bad Boys Movie), di Beverly Wilshire Hotel, 9500 Wilshire Blvd., Beverly Hills, Selasa (6 Mei), dimulai pukul 19.00 waktu Los Angeles.

Lazimnya acara penganugerahan penghargaan, maka dalam acara ini pun selain medali, ada juga sejumlah dollar yang dihadiahkan Shimon Wiesenthal Center kepada sang penerima. Hanya saja, berapa besar jumlah hadiah berupa uang ini tidak disebutkan dalam situs resmi Wiesenthal Center tersebut (www.wiesenthal.com).

Dalam acara dinner yang dihadiri tokoh-tokoh Zionis Amerika dan Israel, di antaranya C. Holland Taylor (CEO LibForAll), Rabbi Marvin Hier (Pendiri SWC, dinobatkan oleh Newsweek Magazines sebagai Rabbi paling berpengaruh nomor satu di AS tahun 2007-2008), Rabbi Abraham Cooper (menempati urutan ke-25 Rabbi paling berpengaruh di AS tahun 2008), CEO Sony Corporation, dan lainnya, antara penerima penghargaan dengan tuan rumah—para Zionis Amerika dan Israel tersebut—berlangsung obrolan santai namun serius.

Selain isu Ahmadiyah, topik kontroversi kenaikan harga BBM yang tengah hangat di dalam negeri (Indonesia) diduga kuat menjadi salah satu bahan pembicaraan mereka mengingat kebijakan pemerintahan SBY tersebut sesungguhnya mengikuti Grandesign Washington agar harga minyak di Indonesia bisa sama dengan harga minyak di New York, sesuai Letter of Intent (LOI) dengan IMF pada tahun 1999. DI tahun 2000, USAID pun telah mengucurkan dollar dalam jumlah besar kepada pemerintah RI untuk memuluskan liberalisasi sektor Migas (silakan baca wawancara eramuslim dengan Revrisond Baswir dalam rubrik bincang-bincang).

Target IMF untuk menyamakan harga BBM di New York dengan di Indonesia sebenarnya sudah harus tercapai pada tahun 2005, namun tersendat-sendat karena penolakan dari rakyat Indonesia sangat kuat. Sebab itu, di tahun 2008 ini Amerika agaknya tidak mau hal tersebut tersendat lagi. “Penyesuaian” harga BBM harus terus jalan. Zionis-Amerika sangat berkepentingan dengan hal ini, sebab itu mereka mendesak pemerintahan SBY yang memang sangat takut dan tunduk tanpa reserve pada AS agar segera menaikkan harga BBM. Bagaimana takutnya SBY terhadap AS bisa kita lihat sendiri saat Presiden Bush datang ke Bogor, 20 November 2006, di mana persiapan yang dilakukan pemerintah ini sangat keterlaluan berlebihan dan cenderung paranoid.

Pada tanggal 24 Mei 2008, pemerintah menaikkan harga BBM. Abdurrahman Wahid sudah tiba di tanah air. Untuk menekan penolakan, pemerintah SBY (lagi-lagi) memberi ‘permen’ kepada sebagian rakyat miskin bernama Bantuan Langsung Tunai (BLT). Namun Social bumper ini malah menjadi bulan-bulanan kecaman ke pemerintah. Gelombang unjuk rasa dilakukan mahasiswa dan elemen-elemen rakyat. Tokoh-tokoh nasional seperti Amien Rais dan Wiranto pun sudah terbuka menyatakan ‘perang’ terhadap sikap pemerintah menaikkan harga BBM. Banyak kalangan berfikir, demo-demo ini akan meningkat eskalasinya hingga jadi besar, bahkan bukan mustahil rusuh Mei 1998 terulang kembali. Teriakkan “Turunkan SBY-JK!” sudah terdengar di mana-mana. Pihak kepolisian menerapkan status Siaga Satu saat itu.

Sejak itu tiada hari tanpa demo. Istana merupakan tempat paling favorit para pendemo. Hari ahad, 1 Juni 2008, sejumlah elemen masyarakat termasuk massa dan anggota PDIP dan elemen umat Islam seperti FUI, HTI, dan FPI, sudah mengantungi izin untuk melakukan aksi unjuk rasa di Monas, Jakarta. Sedangkan AKKBB menurut laporan ke pihak kepolisian hanya melakukan aksi unjuk rasa di Bundaran HI, sekitar tiga kilometer dari kawasan Silang Monas.

Jalur Demo dan Polisi Yang Aneh

Dari Bundaran HI, tiba-tiba massa AKKBB bergerak long-march ke kawasan silang Monas yang sudah dipenuhi massa umat Islam yang tengah berdemo. Padahal pemberitahuannya hanya ke Bundaran HI. Aparat kepolisian berusaha mencegah massa AKKBB yang sebagiannya merupakan pendemo bayaran yang sesungguhnya tidak tahu apa-apa menuju silang Monas di mana massa elemen umat Islam tengah melakukan demo, agar tidak terjadi bentrok.

Namun massa AKKBB membandel dan polisi (anehnya) tidak mampu menghalangi massa AKKBB mendekati massa umat Islam. Setelah berdekatan, orator dari massa AKKBB memprovokasi massa umat Islam yang banyak terdiri dari para laskar meneriakkan, “Laskar setan!” dan sebagainya. Terang, mendapat provokasi seperti ini anak-anak muda dari massa Islam marah. Apalagi di antara massa AKKBB yang berada di dekat massa Islam ada yang membawa-bawa spanduk besar berisi penolakan SKB Ahmadiyah. Ini jelas provokasi. Anak-anak Laskar Islam pun menyerbu massa AKKBB. Dan terjadilah rusuh Monas.

Dalam tulisan ketiga, akan dipaparkan keanehan lainnya ba’da peristiwa Monas yaitu sikap SBY yang tiba-tiba cepat tanggap (biasanya peragu dan lamban), respon Kedubes AS dan pejabat Kedubes AS yang menjenguk korban, plintiran media massa baik itu cetak maupun teve, dan sebagainya.

Apa pun itu, semua ini telah berhasil membelokkan isu utama negeri ini dari yang tadinya menyoroti kenaikan BBM dan penolakan Ahmadiyah, menjadi isu sentral pembubaran FPI. Baik SBY maupun para liberalis dan non-Muslim yang tergabung dalam AKKBB (termasuk kelompok sesat Ahamdiyah) diuntungkan. (bersambung/rizki)

dikutip dari: EraMuslim.com

Rabu, 04 Juni 2008

Membongkar Jaringan AKKBB (Bag.1)


Nama Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) menjadi buah bibir setelah peristiwa rusuh di silang Monas pada hari ahad siang, 1 Juni 2008. Sebelumnya, aliansi ini sering kali diidentikan dengan gerakan pembelaan terhadap kelompok sesat Ahmadiyah, sebuah kelompok yang mengaku bagian dari Islam namun memiliki kitab suci Tadzkirah—bukan al-Qur’an—dan Rasul Mirza Ghulam Ahmad, bukan Rasulullah Muhammad SAW.

Jika menilik perjalanan historis dan ideologi kelompok sesat Ahmadiyah dengan AKKBB, maka akan bisa ditemukan benang merahnya, yakni permusuhan terhadap syariat Islam, pertemanan dengan kalangan Zionis, mengedepankan berbaik sangka terhadap non-Muslim dan mendahulukan kecurigaan terhadap kaum Muslimin.

Ketika Ahmadiyah lahir di India, Mirza Ghulam Ahmad mengeluarkan seruan agar umat Islam India taat dan tsiqah kepada penjajah Inggris, dan mengharamkan jihad melawan Inggris. Padahal saat itu, banyak sekali perwira-perwira tentara Inggris, para penentu kebijakannya, terdiri dari orang-orang Yahudi Inggris seperti Jenderal Allenby dan sebagainya. Dengan kata lain, seruan Ghulam Ahmad dini sesungguhnya mengusung kepentingan kaum Yahudi Inggris.

Bagaimana dengan AKKBB? Aliansi cair ini terdiri dari banyak organisasi, lembaga swadaya masyarakat, dan juga kelompok-kelompok “keagamaan”, termasuk kelompok sesat Ahmadiyah. Mereka yang tergabung dalam AKKBB adalah:

Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP)
National Integration Movement (IIM)
The Wahid Institute
Kontras
LBH Jakarta
Jaingan Islam Kampus (JIK)
Jaringan Islam Liberal (JIL)
Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF)
Generasi Muda Antar Iman (GMAI)
Institut Dian/Interfidei
Masyarakat Dialog Antar Agama
Komunitas Jatimulya
eLSAM
Lakpesdam NU
YLBHI
Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika
Lembaga Kajian Agama dan Jender
Pusaka Padang
Yayasan Tunas Muda Indonesia
Konferensi Waligereja Indonesia (KWI)
Crisis Center GKI
Persekutuan Gereja-gereeja Indonesia (PGI)
Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci)
Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI)
Gerakan Ahmadiyah Indonesia
Tim Pembela Kebebasan Beragama
El Ai Em Ambon
Fatayat NU
Yayasan Ahimsa (YA) Jakarta
Gedong Gandhi Ashram (GGA) Bali
Koalisi Perempuan Indonesia
Dinamika Edukasi Dasar (DED) Yogya
Forum Persaudaraan antar Umat Beriman Yogyakarta
Forum Suara Hati Kebersamaan Bangsa (FSHKB) Solo
SHEEP Yogyakarta Indonesia
Forum Lintas Agama Jawa Timur Surabaya
Lembaga Kajian Agama dan Sosial Surabaya
LSM Adriani Poso
PRKP Poso
Komunitas Gereja Damai
Komunitas Gereja Sukapura
GAKTANA
Wahana Kebangsaan
Yayasan Tifa
Komunitas Penghayat
Forum Mahasiswa Syariahse-Indonesia NTB
Relawan untuk Demokrasi dan Hak Asasi Manusia (REDHAM) Lombok
Forum Komunikasi Lintas Agama Gorontalo
Crisis Center SAG Manado
LK3 Banjarmasin
Forum Dialog Antar Kita (FORLOG-Antar Kita) Sulsel Makassar
Jaringan Antar Iman se-Sulawesi
Forum Dialog Kalimantan Selatan (FORLOG Kalsel) Banjarmasin
PERCIK Salatiga
Sumatera Cultural Institut Medan
Muslim Institut Medan
PUSHAM UII Yogyakarta
Swabine Yasmine Flores-Ende
Komunitas Peradaban Aceh
Yayasan Jurnal Perempuan
AJI Damai Yogyakarta
Ashram Gandhi Puri Bali
Gerakan Nurani Ibu
Rumah Indonesia

Menurut data yang ada, AKKBB merupakan aliansi cair dari 64 organisasi, kelompok, dan lembaga swadaya masyarakat. Banyak, memang. Tapi kebanyakan merupakan organisasi ‘ladang tadah hujan’ yang bersifat insidental dan aktivitasnya tergantung ada ‘curah hujan’ atau tidak. Maksudnya, kelompok atau organisasi yang hanya dimaksudkan untuk menampung donasi dari sponsor asing, dan hanya bergerak jika ada dana keras yang tersedia.

Namun ada beberapa yang memang memiliki ideologi yang jelas dan bergerak di akar rumput. Walau demikian, yang terkenal hanya ada beberapa dan inilah yang menjadi motor penggerak utama dari aliansi besar ini.

Keseluruhan organisasi dan kelompok ini sebenarnya bisa disatukan dalam satu kata, yakni: Amerika. Kita tentu paham, Amerika adalah gudang dari isme-isme yang “aneh-aneh” seperti gerakan liberal, gerakan feminisme, HAM, Demokrasi, dan sebagainya. Ini tentu dalam tataran ide atau Das Sollen kata orang Jerman.

Namun dalam tataran faktual, yang terjadi di lapangan ternyata sebaliknya. Kalangan intelektual dunia paham bahwa negara yang paling anti demokrasi di dunia adalah Amerika, negara yang paling banyak melanggar HAM adalah Amerika, negara yang merestui pasangan gay dan lesbian menikah (di gereja pula!) atas nama liberalisme adalah Amerika, dan sebagainya. Dan kita tentu juga paham, ada satu istilah yang bisa menghimpun semua kebobrokkan Amerika sekarang ini: ZIONISME.

Bukan kebetulan jika banyak tokoh-tokoh AKKBB merupakan orang-orang yang merelakan dirinya menjadi pelayan kepentingan Zionisme Internasional. Sebut saja Abdurrahman Wahid, ikon Ghoyim Zionis Indonesia. Lalu ada Ulil Abshar Abdala dan kawan-kawannya di JIL, lalu Goenawan Muhammad yang pada tahun 2006 menerima penghargaan Dan David Prize dan uang kontan senilai US$ 250, 000 di Tel Aviv (source: indolink.com), dan sejenisnya. Tidak terhitung berapa banyak anggota AKKBB yang telah mengunjungi Israel sambil menghujat gerakan Islam Indonesia di depan orang-orang Ziuonis Yahudi di sana.

Mereka ini memang bergerak dengan mengusung wacana demokrasi, HAM, anti kekerasan, pluralitas, keberagaman, dan sebagainya. Sesuatu yang absurd sesungguhnya karena donatur utama mereka, Amerika, terang-terangan menginjak-injak prinsip-prinsip ini di berbagai belahan dunia seperti di Palestina, Irak, Afghanistan, dan sebagainya.

Jelas, bukan sesuatu yang aneh jika kelompok seperti ini membela Ahmadiyah. Karena Ahmadiyah memang bagian dari mereka, bagian dari upaya pengrusakkan dan penghancuran agama Allah di muka bumi ini.

Bagi yang ingin mengetahui ideologi aliansi ini maka silakan mengklik situs-situs kelompok mereka seperti libforall.com, Islamlib.com. dan lainnya.

Walau demikian, tidak semua simpatisan maupun anggota AKKBB yang sebenarnya menyadari 'The Hidden Agenda' di balik AKKBB, karena agenda besar ini hanya diketahui oleh pucuk-pucuk pimpinan aliansi ini, sedangkan simpatisan maupun anggota di tingkat akar rumput kebanyakan hanya terikat secara emosionil kepada pimpinannya dan tidak berdasarkan pemahaman dan ilmu yang cukup.(bersambung/rz)

dikutip dari: EraMuslim.com

Selasa, 30 Oktober 2007

Jangan Tidur Setelah Shalat Subuh


Selesai makan malam, sambil menikmati istirahat bersama keluarga di rumah, kubuka e-mail inbox. Seorang teman, anggota mail list mengirim e-mail dengan lampiran slide Power Point. Kubuka slide halaman pertama. Judulnya "Keutamaan Sholat Subuh Berjama’ah di Masjid". Terdapat penjelasan di bawahnya, disarikan dari buku "Misteri Sholat Subuh" karya DR. Raghib As-Sirjani. Kelihatannya sangat menarik dan bermanfaat. Segera ku-copy untuk dimasukkan dalam folder ibadah dari file-ku. Sehingga bisa dibaca dengan lebih seksama.

Sholat subuh merupakan ibadah yang bagi sebagian orang terasa berat untuk dilakukan di awal waktu. Mereka terbuai oleh nikmatnya tidur. Rutinitas kehidupan kita berupa siklus kantuk, tidur, bangun, dan beraktivitas merupakan karunia nikmat Allah SWT. Suatu sunatullah yang telah dilekatkan pada penciptaan manusia. "Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat. " (QS An-Naba' [78]: 9). Adzan untuk panggilan sholat Subuh agak berbeda. Ada tambahan ucapan ashsholatu khoirumminan naum sebanyak dua kali yang artinya sholat lebih baik daripada tidur. Beberapa masjid mengumandangkan adzan Subuh dua kali. Adzan pertama sebagai tanda fajr-kadzib sedangkan adzan kedua adalah tanda telah sampainya saat fajr-shodiq. Fajr-shodiq merupakan waktu Subuh yang sebenarnya.

Fajr-kadzib masuk dalam periode sepertiga malam terakhir yang sangat istimewa. Dalam hadis Qudsi, Allah SWT berfirman, bahwa pada saat sepertiga malam terakhir bagi siapa yang bermunajat kepada-Nya akan dipenuhi; yang memohon ampun akan diampuni, yang berdoa akan dikabulkan. Setelah mendengar adzan fajr-kadzib, seyogyanya kita segera bangun tidur, untuk melakukan qiyamul lail, sholat tahajud. Allah SWT menjanjikan kedudukan yang terpuji bagi mereka yang mendirikan sholat tahajud (QS Al-Israa' [17]: 79). Rasulullah SAW mengajarkan doa bangun tidur:"Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami dan kepada-Nya kami akan kembali. " (HR Bukhari).

Perlu usaha agar kita bisa bangun di akhir malam. Jika sudah terbiasa, akan mudah dan ringan untuk dilaksanakan. Caranya dengan tidur malam di awal waktu dan makan malam secukupnya saja. Di samping itu, menjelang tidur malam kita niatkan akan mendirikan shalat tahajud semata-mata mencari keridhoan-Nya. Tidak lupa berdo’a sebelum tidur yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW: "Dengan menyebut nama-Mu wahai Allah, aku hidup dan dengan menyebut nama-Mu aku mati. " (HR Bukhari dan Muslim).

Doa di atas dengan izin Allah SWT akan menjadikan kita selalu dalam penjagaan-Nya dan ingat akan kematian. Kematian bisa datang kapan saja. Mungkin besok, mungkin lusa, atau mungkin pada saat sedang menikmati tidur. Umur kita dan bagaimana kita mati adalah rahasia-Nya. Kita harus selalu siap siaga setiap saat agar saat maut menjemput, dalam keadaan husnul khatimah.

Kubuka slide Power Point tentang keutamaan sholat Subuh berjama’ah di masjid. Beberapa sabda Rasulullah SAW didalamnya, memberikan motivasi untuk senantiasa mendirikan sholat Subuh berjama’ah di masjid. Salah satu di antaranya: " Berikanlah kabar gembira bahwa barangsiapa yang sering berjalan dalam kegelapan menuju masjid akan mendapatkan cahaya yang sangat terang di hari kiamat " (HR Abu Dawud, Tirmidzi & Ibnu Majah). Yang dimaksud dengan berjalan dalam kegelapan menuju masjid adalah pergi ke masjid untuk sholat Isya’ dan sholat Subuh secara berjama’ah.

Waktu Subuh hingga matahari terbit adalah waktu yang penuh barokah yang seharusnya kita manfaatkan dengan optimal. Rasulullah SAW memberikan contoh dengan tidak pernah tidur lagi usai mendirikan sholat Subuh di masjid. Berdzikir, tilawah dan tadabbur Al-Qur’an adalah amalan yang bisa dilakukan ba’da sholat Subuh hingga terbit matahari. Banyak dzikir ma’tsurat diajarkan oleh beliau yang bisa diamalkan.

Jika sholat Subuh kita lakukan di masjid secara rutin dan setelahnya tidak tidur. Namun, diikuti dengan amalan di atas hingga matahari terbit, akan banyak keberkahan yang didapatkan. Setelah matahari sepenggalah naik, bisa dilanjutkan dengan sholat dhuha. Semuanya merupakan bekal ruhiyah yang akan memberikan spirit dalam melakukan kegiatan sehari-hari untuk meraih ridho Allah SWT. Kegiatan sebagai pelajar atau mahasiswa, kegiatan berbagai profesi atau keahlian, maupun kegiatan para pensiunan atau purnawirawan dalam mengisi waktu luang yang memberikan manfaat.

Bontang, 10 Syawal 1428 H/ 22 Oktober 2007
dikutip dari [PB PII]

Jumat, 26 Oktober 2007

Televisi, Matikan atau Benda Itu Jadi Monstermu [2]

Oleh : Djoko Moernantyo

Televisi, buruk untuk perkembangan anak.
Penelitian yang melibatkan anak-anak dari Kanada, Australia, Amerika dan Indonesia dalam hal menonton televisi mendapatkan hasil menarik. Percaya atau tidak, anak Indonesia adalah penonton televisi terlama, disusul Amerika, Australia dan paling rendah Kanada. “Bagaimana tidak, kita bangun tidur langsung menonton televisi, mau tidur disempatkan menonton televisi lagi. Jangan-jangan, tidur saja masih peluk televisi,” canda Dr. Hardiono.

"Percaya atau tidak, anak Indonesia adalah penonton televisi terlama, disusul Amerika, Australia dan paling rendah Kanada."

Penelitian lain yang dilakukan Liebert dan Baron dari Inggris, menunjukkan hasil bahwa anak yang menonton program televisi yang menampilkan adegan kekerasan memiliki keinginan lebih untuk berbuat kekerasan terhadap anak lain dibandingkan dengan anak yang menonton program netral [tidak mengandung unsur kekerasan]. Efek jangka panjang soal kekerasan ini juga dipaparkan oleh Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono, seorang Psikolog dari Universitas Indonesia. Menurut psikolog yang sering meneliti soal perilaku kekerasan ini, semakin sering anak menonton program TV dengan muatan kekerasan maka akan semakin tinggi kecenderungan menjadi agresif saat beranjak dewasa.

“Simpelnya begini, anak-anak yang menonton program mengandung kekerasan selama 1-3 jam/hari menunjukkan perilaku agresif 3 kali lebih banyak dibandingkan anak-anak yang menonton program sejenis kurang dari 1 jam/hari."

Tayangan televisi yang mengandung kekerasan dapat meningkatkan pikiran-pikiran mengenai permusuhan pada anak dan mengurangi kecenderungan anak untuk membantu orang lain.

Pendapat serupa dengan Sarlito pernah dilontarkan oleh Professor L. Rowell Huesmann, dari University of Michigan, yang meneliti pengaruh kekerasan pada media televisi terhadap perubahan perilaku. “Efek yang ditimbulkan mungkin tidak langung, tapi akan muncul ketika si anak mulai dewasa kelak.” Pendapat ini diamini oleh Professor Jonathan Freedman dari University of Toronto Kanada, “Ilmu pengetahuan membuktikan, tayangan kekerasan itu ikut membantu melahirkan generasi pelaku kekerasan juga.”

Andrea Martinez di Universitas Ottawa Kanada pernah melakukan review komprehensif tentang ilmu kesusastraan untuk Komisi Radio-Televisi dan Telekomunikasi Kanada di tahun 1994. Dia menyimpulkan bahwa kurangnya kesepakatan bersama tentang efek media menimbulkan tiga area `tidak jelas` atau ketidakleluasaan dari penelitian itu sendiri.

Pertama, kekejaman di media sangat sulit untuk didefinisikan dan diukur. Beberapa ahli yang mengikuti `violence` atau kekejaman yang disiarkan dalam program televisi, seperti George Gerbner dari Universitas Temple, mendefinisikan tindakan kejam atau `violence act` [atau ancaman] dari melukai atau membunuh seseorang, tergantung dari metode yang digunakan secara sendiri-sendiri atau dari konteks keadaan sekitar film tersebut. Dengan demikian, Gerber memasukkan data `violence` pada film kartun. Tetapi yang lain, seperti seorang profesor dari Universitas Laval, Guy Paquette dan Jacques de GUise, secara spesifik tidak mengikutsertakan kekejaman film kartun dari penelitian mereka karena sifatnya yang komedi dan menampilkan hal-hal yang tidak realistik.

Kedua, para peneliti tidak setuju dengan tipe hubungan dari data pendukung. Beberapa memperdebatkan bahwa keberadaan kekejaman di media menyebabkan agresi pada seseorang. Yang lain mengatakan kalau hal ini berhubungan, tetapi tidak ada hubungan penyebab [hubungan akan keduanya, terjadinya agresi bisa disebabkan oleh faktor ketiga] dan yang lain mengatakan bahwa data tersebut mendukung kesimpulan bahwa tidak ada hubungan sama sekali diantara keduanya [kekejaman televisi dan agresi seseorang].

Ketiga, bahkan mereka yang setuju bahwa ada sebuah hubungan antara kekejaman yang ada di media dan agresi, tidak setuju bagaimana yang satu mempengaruhi yang lain [kekejaman di televisi mempengaruhi tindakan seseorang]. Beberapa orang mengatakan bahwa mekanisme terjadinya hal itu berdasarkan psikologi, bermula dari bagaimana kita mempelajari sesuatu. Contohnya, Huesmann mendebatkan bagaimana anak-anak mengembangkan sifat kognitif, yang menuntun tindakan mereka dengan meniru gaya pahlawan dalam televisi. Saat mereka menonton tayangan yang mengandung kekejaman, anak-anak belajar untuk memikirkan dalam hati bagaimana penggunaan kekejaman sebagai metode yang cocok untuk menyelesaikan masalah.

Kembali pada riset soal dampak televisi, dari penelitian terhadap 260 anak-anak Sekolah Dasar [SD] yang ada di Jakarta, Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia [YKAI] membuktikan bahwa televisi ternyata medium yang banyak ditonton dengan alasan paling menghibur. Kenyataan ini menunjukkan bahwa televisi menjadikan media yang benar-benar diidolakan oleh anak-anak. Anak-anak lebih bersifat pasif dalam berinteraksi dengan televisi, bahkan seringkali mereka terhanyut dalam dramatisasi terhadap tayangan yang ada di televisi.

Hal lain yang merupakan imbas dari “terpantek” menonton televisi pada anak-anak adalah munculnya gejala obesitas [kegemukan]. Dr. Endang Darmoutomo, MS, SpGK, Spesialis Gizi Klinik dari RS Siloam Gleneagles Karawaci Banten, mengatakan kecenderungan menonton telvisi terlalu lama akan meningkatkan angka obesitas pada anak-anak. Satu jam nonton televisi misalnya, akan meningkatkan obesitas sebesar 2%. “Pasalnya selama menonton, anak lebih banyak ngemil dan tak melakukan aktivitas olah tubuh,” sambung Dr. Endang, saat menjadi pembicara dari sudut pandang gizi.

Hal yang sama berlaku bagi anak yang lebih suka bermain games atau komputer dibanding anak yang bermain-main di luar bersama teman-teman. "Saat nonton telvisi atau main game, terjadi ketidakseimbangan energi yang masuk dan yang digunakan," ujar Dr. Endang. Saat anak nonton televisi, kalori yang dibakar hanya 36 kkal/jam, padahal apa yang dia konsumsi jauh melebihi kalori yang digunakan. "Anak perlu aktif untuk bertumbuh," tandas Dr. Endang. Disarankannya, untuk memperbanyak aktivitas luar ruang untuk anak.


Daya Tiru yang Kuat untuk Anak-anak

Mengingat sangatlah sulit bagi orangtua untuk menjauhkan anak dari televisi, ada baiknya orangtua melakukan pendampingan anak ketika menonton dan memberi penjelasan yang sebenarnya daripada tiba-tiba mengomel ataupun memuji anak, hal pertama yang sebaiknya dilakukan adalah memberi pengertian dan mendampingi anak ketika menonton televisi. Jika anak bertanya jawablah pertanyaan tersebut dengan rinci dan sesuai dengan perkembangan anak.

Banyak hal yang belum diketahui oleh seorang anak, oleh karena itu kalau tidak ada yang memberi tahu ia akan mencari sendiri dengan mencoba-coba dan meniru dari orang dewasa. Apakah hasil percobaan maupun peniruannya benar atau salah, anak mungkin tidak tahu. Di sinilah tugas orangtua untuk selalu memberi pengertian kepada anak, secara konsisten. Kebingungan anak karena standar ganda yang diterapkan orangtua juga bisa teratasi kalau orangtua memberi penjelasan kepada anak.

Tidak ada artinya jika kita terus menerus menyalahkan media televisi sebagai biang kerok kerusakan moral dan kepribadian anak-anak. Karena media televisi sebagai media informasi dan hiburan akan terus hadir dengan segala kontroversinya di tengah-tengah kita. Mereka –televisi itu-- akan terus mempengaruhi mental, emosi, fisik dan perkembangan jiwa anak. Nah, peran orang tualah yang harus peka dan kritis terhadap tayangan-tayangan yang disajikan untuk anak-anaknya. Jangan sampai anak kita ingin menjadi “Krrish” yang bisa terbang, atau tiba-tiba memaki persis seperti di sinetron Indonesia. Pilihan Anda?

dikutip dari .:Kabar Indonesia:.

Televisi, Matikan atau Benda Itu Jadi Monstermu

Oleh : Djoko Moernantyo

Rajiv, sebut saja begitu, adalah seorang laki-laki berusia sekitar 8 tahun. Anak ini ditemukan tidak bernyawa, dengan kepala terluka setelah diketahui terjun dari apartemennya di lantai 9. Rajiv ingin meniru Krrish, tokoh superhero televisi di India yang digambarkan bisa terbang dan menyelamatkan bumi.

Kiko, seorang anak berumur 4 tahun tiba-tiba mengatakan “Mama tidak berguna!” Kalimat yang mungkin si anak sendiri tidak tahu maknanya. Usut punya usut, ternyata pengasuhnya [baby sitter] mengajaknya nonton sinetron di televisi. Si pengasuh ini tidak sadar, “kenikmatannya” menonton sinetron “direkam” dengan baik pada memori Kiko.

Apa yang terjadi? Kekuatan kotak elektronik bernama televisi itu ternyata begitu luar biasa merasuk dalam kehidupan kita, baik anda, saya, dan anak-anak kita. Televisi, si kotak ajaib yang keberadaanya sudah menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari seringkali menimbulkan kecemasan bagi orangtua yang anaknya masih kecil. Cemas kalau anak jadi malas belajar karena kebanyakan nonton televisi, cemas kalau anak meniru kata-kata dan adegan-adegan tertentu, cemas mata anak jadi rusak [minus], dan cemas anak menjadi lebih agresif karena terpengaruh banyaknya adegan kekerasan di televisi.

Sayangnya, sampai saat ini, media televisi masih menjadi alternatif pilihan utama bagi penonton, karena media televisi sebagai media informasi dan hiburan yang hingga kini masih melahirkan pengaruh yang baik dan buruk bagi perkembangan psikologis dan perilaku pemirsanya, termasuk anak-anak.

Televisi sebagai media yang memiliki sifat audiovisual mampu menghadirkan kejadian, peristiwa, atau khayalan-khayalan semata seperti film laga dari luar negeri [import] yang banyak sekali mengandung unsur kekerasan, percintaan yang telah banyak menyimpang dari budaya kita, atau sinetron-sinetron remaja dalam negeri yang cenderung mengangkat tema kekerasan, sadisme, kebencian, permusuhan, percintaan, serta gaya hidup menengah ke atas serta mendukung hidup konsumtif dan hedonisme.

Belum lagi tayangan mancanegara seperti telenovela atau video klip yang juga mengandung unsur-unsur pornografi dan pornoaksi, sehingga anak-anak dibawah umurlah yang paling cepat terpengaruh oleh tayangan televisi dengan anggapan apa yang disiarkan televisi adalah sebuah kenyataan dan kebenaran.

Berbagai tulisan, kertas kerja, dan penelitian bahkan seminar-seminar, lokakarya, symposium yang ditulis dan dibicarakan oleh para pakar dan para ahli di bidangnya memperdebatkan dampak negatif yang ditimbulkan oleh media televisi. Tudingan miring mengenai kebobrokan televisi sebenarnya sudah merebak sejak kelahirannya pada era tahun 1950.

Konsumen media televisi tidak hanya para kalangan orang tua, dewasa, remaja, tetapi juga dari kalangan anak-anak. Yang dikhawatirkan dari kalangan orang tua adalah anak-anak yang belum mampu membedakan mana yang baik dan buruk serta mana yang pantas dan tidak pantas, karena media televisi mempunyai daya tiru yang sangat kuat bagi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak.

Dr. Hardiono D. Pusponegoro SpA(K), spesialis anak dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta memaparkan, sebuah penelitian terhadap anak di bawah 3 tahun dan 3-5 tahun yang menonton televisi. Dalam penelitian itu, anak di bawah 3 tahun melihat layar kaca itu rata-rata 2 jam sehari dan anak 3 - 5 tahun rata-rata 3 jam sehari.

Setelah berusia 6-7 tahun dilakukan penilaian. Hasilnya, setiap jam melihat TV anak di bawah 3 tahun menunjukkan penurunan uji membaca, uji membaca komprehensif, dan penurunan memori. Sebaliknya, anak 3-5 tahun memiliki kemampuan mengenal dengan membaca baik. Artinya, anak di bawah 3 tahun lebih banyak menyebabkan efek buruk kecuali kemampuan mengenal dengan membaca.

"...setiap jam melihat TV anak di bawah 3 tahun menunjukkan penurunan uji membaca, uji membaca komprehensif, dan penurunan memori."

Menurut Hardiono, otak berfungsi merencanakan, mengorganisasi, dan mengurut perilaku untuk kontrol diri sendiri, konsentrasi, atau atensi. Otak juga berfungsi menentukan baik atau tidak. “Pusat di otak yang mengatur hal ini adalah korteks prefrontal yang berkembang selama masa anak dan remaja,” jelasnya di Jakarta.

“Menonton televisi saat masa anak dan remaja berdampak jangka panjang terhadap kegagalan akademis umur 26 tahun.”

Mengutip penelitian Hancox RJ. Association of Television Viewing During Childhood with Poor Educational Achievement Arch Pediatr Adolesc Med 2005, Hardiono menambahkan, “Menonton televisi saat masa anak dan remaja berdampak jangka panjang terhadap kegagalan akademis umur 26 tahun.” Dalam penjelasan Hardiono, hanya dari menonton televisi saja otak kehilangan kesempatan mendapat stimulasi dari kesempatan berpartisipasi aktif dalam hubungan sosial dengan orang lain, bermain kreatif dan memecahkan masalah.

Selain itu televisi bersifat satu arah, sehingga anak kehilangan kesempatan mengeksplorasi dunia tiga dimensi serta kehilangan peluang tahapan perkembangan yang baik. “Dalam riset yang saya baca ini, malah dianjurkan untuk anak di bawah usia 5 tahun, disarankan tidak usah menonton televisi sama sekali,” tegasnya. [bersambung]

dikutip dari .:kabar indonesia:.

Kamis, 04 Oktober 2007

ANTARA LOYALITAS DAN MASA DEPAN PW PII SULSEL

oleh: Muhammad Aswar

Secercah harapan baru ketika Basic Training di Yayasan Perguruan Nasional Makassar 24-30 Sept 2007 dilaksanaan dengan sukses –dalam sudut pandang berbeda saya katakan masih perlu pembenahan. “Saya puas loh dengan Basic kali ini” kata salah seorang teman/instruktur. “Asyik, mantap abis pokoknya”. Ditambah lagi dalam seminggu itu dua kali di liput sama FAJAR, walaupun cuman di rubrik KEKER. Yang tak kalah hebohnya kekompakan, loyalitas dan semangat panitia memenej dirinya. Tanpa keluh kesah meladeni keperluan Training. Nama-nama yang dulunya jarang aktif (fadel, irfan, harli, juned, suhe, kiki, dll) justru sangat antusias bekerjasama dalam kepanitiaan. Tetap SPIRIT aja dech bagi teman-teman Pengurus Daerah… Kamu ujung tombak perjuangan kali ini.

Namun, kali ini saya tidak berceloteh tentang itu semua. Mengambil hikmah kejadian di atas. Kata loyalitas sangat mengganggu pikiran ku sebagai seorang top leader. Loyalitas. Loyalitas mungkin bisa diartikan kesediaan seseorang untuk melanggengkan hubungannya dengan organisasi, kalau perlu dengan mengorbankan kepentingan pribadinya tanpa mengharapkan apapun. Tanpa mengharapkan apapun? Pengorbanan? Sangat sulit memang yach... mengharapkan ada kader yang seperti itu, tapi memang ada dan itu sudah ada.

Dalam aktifitas keseharian, loyalitas seseorang terhadap organisasi seringkali menjadi isu yang sangat penting. Saking pentingnya, PII sendiri sebagai organisasi dakwah yang berorientasi pada pendidikan dan kebudayaan membuat forum khusus untuk menggali itu, sebelum action kepengurusan berjalan -Training Centre Kepengurusan. Hal ini tentunya sangat berkaitan dengan jabatan(amanah) yang diemban oleh sang pengurus itu sendiri. Sayangnya meskipun hal ini sudah sangat umum namun tidak jarang kader (baca=pengurus) masih belum memahami arti loyalitas secara sungguh-sungguh atau mongkin paham tapi “lupa” atau dilupakan atau… apalah....dan lain sebagainya.

Dalam tulisan ini Aku (saya) kepengen menggambarkan bagaimana loyalitas dan komitmen seorang Pengurus atau kader PII_lah dalam mengemban amanahnya[1] sebagai seorang /Khalifah fil ard/Pelajar/Aktifis Dakwah/Kontrol Sosial yang menjadikan PII sebagai wadahnya (dalam catur bakti: “sebagai alat perjuangan”). Sebenarnya tulisan ini berawal dari kasus-kasus (baik kasus + maupun - ) yang terjadi pada Basic Training di SMA Nasional beberapa hari lalu.

Aku Bangga Disebut-Sebut Kader PII
Tentu saja percaya diri sebagai seorang kader PII dapat mempengaruhi kinerja kepengurusan. Entah percaya secara subtansi bahwa PII merupakan alat perjuangan (bisa nge-charge hati dll) atau dengan bangga bahwa PII merupakan organisasi besar yang telah ada sejak 1947 dengan Komisariat yang menjamur di hampir seluruh Propinsi di Indonesia. Bahkan sudah punya perwakilan di Luar Negeri.

Tanpa kepercayaan diri terhadap organisasi, sulit untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki. Bagaimana mungkin memperjuangkan sesuatu yang tidak kita banggakan, membela yang kita anggap salah, memuji yang dari kacamata kita jelek. mengatakan 'wahh' padahal 'elleh'.

Efek dari ini semua bisa terlihat dengan adanya ucapan-ucapan: “oh mohon maaf, saya punya kegiatan di luar”, maaf saya punya amanah lain di ini dan itu… Atau yang lebih parahnya lagi sampai-sampai meninggalkan mandat/tugas di PII karena urusan organisasi lain. Ada juga yang merasa telah menemukan jalannya di organisasi/forum lain (semoga hati kita masih tetap dalam bingkai Iman dan Islam).

Semua itu tentunya karena kepercayaan diri terhadap PII telah hilang.

Antara Militansi dan Ta’asub
"Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” (Hud : 112)

Kata militansi tentunya tak asing di telinga kita. Bahkan mungkin untuk beberapa kalangan memandang sinis kata ini apalagi jika di gandengkan dengan kata Islam –Islam Militan- waah kayak teroris. Tentu militansi yang dimaksud di sini adalah militansi dalam artian yang sebenarnya: jiddiyah (kesungguhan), hamasah (semangat), dhawabit (disiplin), komitmen, dan istiqamah. Militan dalam memperjuangkan Ad-Diin ini.

Nah tentu militansi ini akan timbul ketika kita percaya bahwa PII adalah alat perjuangan, ndak mungkinlah kita berjuang dengan kesungguhan hati, komitmen dan istiqamah ketika kepercayaan diri itu tidak ada.

Militansi yang harus tumbuh pada diri setiap kader, militansi yang seimbang dan pertengahan. Tegas untuk tidak mengabaikan akhlak yang mulia serta meluruskan kesalahan tetapi tidak menyakiti perasaan saudaranya. Militansi yang totalitas, yang menuntut kesungguhan setiap kader dalam menjalankan nilai-nilai dan amanah da’wah ini.

Militansi tentunya harus dilandasi dengan niat yang lurus untuk memperjuangkan Ad-Diin ini. Menjadikan PII sebagai alat perjuangan dan bukan tujuan. Hal ini mungkin sudah basi untuk kita diskusikan, tapi sekedar mengingatkan akan niat kita di PII. Bersihkan niat sucikan hati (mumpung Ramadhan). …dan janganlah kamu melampaui batas.

Harapan Masa Depan PII Sulsel
Secara sadar tidak mungkin saya mengharap banyak pada teman semua. Mengharapkan loyalitas anggota tapi sang ketua pun tidak menunjukkan integritas sebagai imamah. Kepengen rasanya mengulang kembali waktu yang telah lewat. Menyatukan hati, membangun kekompakan, memupuk solidaritas, menuntut komitmen, dan lain sebagainya yang bisa membuat tim ini seperti buldozer yang menghantam semua yang menghalanginya. Tapi…. Tidak, tidak ada kata seandainya dalam Islam dan kita dituntut untuk berbuat hari ini dan merencanakan masa depan.

Ada harapan baru bagiku ketika bermunculan kader-kader siap tarung[2] pada Basic Training di SMA Nasional tanggal 24-30 yang lalu (senyum memandang masadepan PW PII Sulsel), walaupun diringi dengan kejengkelan dari sikap beberapa pengurus yang merupakan peluncur utama. Tapi tidak masalah, PII tidak membutuhkan kader pecundang, yang dibutuhkan adalah komitmen dan loyalitas. Kecerdasan/kualitas/kualifikasi super seorang pengurus memang dibutuhkan, tapi tanpa komitmen dan loyalitas, itu semua hampa. Militansi seorang kader, kekompakan, spirit ber-PII itu yang dibutuhkan.

Mungkin kedepannya lebih baik kita berprinsip seperti yang ada pada film “I not Stupid”: tiga orang bodoh lebih baik dari satu Einsten


___________________________________________
[1] QS. Al Ahzab: 72
[2] Meluangkan waktunya untuk mengisi kekosongan instruktur, walaupun dengan kemampuan yang terbatas

Selasa, 25 September 2007

PILKADA LANGSUNG, BERKUALITASKAH?

(Pelajar Menggugat: Peran Kritis Gerakan Pelajar dalam Pilkada Sulsel)[1]

Oleh: Muhammad Aswar[2]


Pendahuluan: Pelajar dan Politik
Pelajar dalam artian yang sebenarnya, entah itu siswa ataupun mahasiswa, yang sedang dalam proses ingin tahu. Merupakan entitas sosial yang memiliki tanggung jawab moral dalam kehidupan bermasyarakat. Kontrol sosial adalah salah satu komitmen seorang pelajar untuk menunjukkan keberadaannya dalam lingkup lokal, regional, maupun nasional.

5 November 2007 mendatang, masyarakat Sulawesi Selatan akan mengadakan pesta demokrasi (Pemilihan Kepala Daerah =Pilkada) yang kali ini dilaksanakan pemilihan secara langsung oleh masyarakat terhadap calon-calon Gubernurnya. Berbagai polemik, issu, komentar, kritikan dan sebagainya muncul, -bahkan dua tahun sebelum pelaksanaan pilkada.


Dari banyak kalangan memandang Pilkada langsung kali ini memiliki banyak kelebihan dan kekurangan, salah satu kelebihannya adalah jikalau dahulu (orde baru) menggunakan metode pemilihan langsung pejabat terpilih tidak memiliki keterikatan politik secara langsung dengan masyarakat. Namun kali ini dilakukan pemilihan langsung oleh masyarakat sehingga tanggung jawab moral Pejabat terpilih langsung kepada masyarakat secara umum. Tetapi timbul pertanyaan bahwa apakah pemilihan kali ini murni melihat kualitas para calon pemimpin, atau masih menggunakan lagu lama (masih terjebak pada etnisitas dan geopolitik)? Inilah salah satu diantara banyak kekurangan pilkada langsung di Sulsel.

Pelajar, sebagai kontrol sosial tentu harus ikut andil dalam pilkada November mendatang. Bukan berpartisipasi dalam politik praktis tentunya. Tetapi terlebih kepada pengejawantahan ide-ide, kritikan, komentar (dsb) terhadap proses pilkada itu sendiri, atau bahkan memberikan penilaian terhadap figur para calon.

Namun sebagai seorang pelajar (yang merupakan pemilih berpendidikan), pendidikan tentulah menjadi topik hangat dalam kaitannya dengan pilkada. Issu pendidikan gratis yang dilontarkan oleh beberapa calon dalam kampanye misalnya, atau kesejahteraan tenaga pendidik atau dan lain sebagainya mengenai pendidikan. Kemudian terlepas dari itu, kebudayaan menjadi topik yang menarik untuk di bicarakan kali ini, dengan melihat kebudayaan masyarakat sulsel yang begitu tinggi dan beragam. Tidak bisa dipungkiri “budaya politik warisan” atau etnisitas dan geopolitik masih mengakar di Sulawesi Selatan. Dua topik ini –Pendidikan dan Kebudayaan− sangat erat kaitannya untuk kita bahas dalam tema “Pelajar Menggugat; peran kritis gerakan pelajar dalam pilkada Sulsel”

Kritis terhadap Issu Pendidikan Gratis
Dalam setiap kampanye, dialog pilkada, diskusi para kandidat, atau forum-forum lain yang me-mobilisasi masa yang menjadi alat kampanye tidak asing di telinga kita lontaran-lontaran Issu pendidikan gratis oleh beberapa calon gubernur dalam pilkada sulsel. Tidak hanya itu peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik, memaksimalkan pengalokasian dana pendidikan dan lainnya dalam lingkup Sistem Pendidikan. Entah apakah ini menjadi komitmen dari calon tersebut atau hanya pemanis kampanye belaka.

Pendidikan memang sangat penting bagi sebuah Negara. Bercermin pada Negara tetangga (Malaysia) yang dulunya meminjam tenaga guru dari Indonesia namun sekarang ini sistem pendidikan mereka meningkat pesat yang berimplikasi pada kesejahteraan penduduknya terlebih pada tenaga pendidik (guru dan dosen). Atau ketika melihat bangsa yahudi yang 90% penduduknya berkualifikasi Doktor (jenjang S3), sebuah bangsa kecil yang mampu mempengaruhi dunia.

Maka tak heran ketika para calon cukup antusias menyuarakan pendidikan dalam kampanye mereka. Dalam tulisan ini penulis ingin mengkaji issu pendidikan gratis yang ditawarkan. Jika kita merunut pada UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional:
Dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan dialokasikan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada sektor pendidikan dan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). (pasal 49 ayat 1)

Hal ini sampai sekarang tidak terealisasi, informasi terkini hanya ±6% realisasi dana pendidikan dari APBD di sulsel –sangat jauh dari standar minimal-. Yang menjadi kewajiban (peraturan perundang-undangan) saja belum terealisasi, bagaimana mungkin menjanjikan pendidikan gratis. Ini adalah harapan atau angan-angan? Ibarat bapak rumah tangga yang belum bisa memberikan rumah sebagai tempat tinggal keluarganya tapi menjanjikan mobil sebagai kendaraan sehari-hari. Atau mungkin dengan mencabut subsidi untuk Perguruan Tinggi (dengan memberlakukan BHP) dan mengalokasikan dana tersebut pada jenjang studi dibawahnya. Apakah ini solusi terbaik?. Sekali lagi ini adalah komitmen para calon Gubernur (Cagub) atau hanya pemanis kampanye belaka.

Kalaupun hal ini menjadi komitmen Gubernur mendatang dengan memanfaatkan APBD semaksimal mungkin, hal ini tidak akan maksimal kecuali gubernur terpilih merupakan representatif dari masyarakat Sulawesi Selatan, tapi kenyataannya tidak demikian. Masing-masing figur menggunakan pendekatan etnis dan geopolitik (hal ini akan kita bahas lebih lanjut).
Sementara dalam Undang-undang No 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah. Yang memberikan kewenangan yang seluas-luasnya kepada daerah disertai dengan pemberian hak dan kewajiban menyelenggarakan otonomi daerah. Sehingga bagaimanapun kebijakan-kebijakan pemerintahan nantinya akan terhambat dengan adanya otonomi daerah yang memberikan kewenangan seluas-luasnya kepada pemerintah daerah untuk menentukan kebijakannya sendiri.

Masyarakat Sulawesi Selatan dengan keragaman budaya dan tingkat kesejahteraan tantunya akan menjadi alasan pemerintah daerah (tingkat kabupaten/kotamadya) untuk menentukan kebijakannya sendiri. Bisajadi orientasi agama/moral, pendidikan, pembangunan, ketahanan, kesejahteraan dll yang menjadi prioritas. Sehingga bukan sentralisasi kekuasaan yang harus diunggulkan, tapi pendekatan emosional, wibawa, kharisma seorang Gubernur untuk merealisasikan pendidikan gratis tersebut.

Etnisistas dan Geopolitik
Mimpi akan demokrasi yang sehat. Adalah salah satu alasan terwujudnya pemilihan secara langsung oleh masyarakat untuk menentukan kepemimpinan di Indonesia. Kali ini giliran masyarakat Sulsel yang memilih pemimpinnya secara langsung.

Hal ini dipandang positif oleh berbagai kalangan, selain alasan demokrasi pilkada langsung juga dapat mempererat hubungan politik antara calon dan rakyat, berbeda dengan zaman orde baru yang menggunakan metode penunjukan langsung sehingga interaksi politik hanya terjadi antara calon dan massa pendukung.

Pilkada langsung menjadi proses pembelajaran politik bagi rakyat terutama dengan adanya dialog-dialog para kandidat (calon). Hal ini akan meningkatkan kesadaran berpolitik. Bagaimana menilai kualifikasi para calon dalam dialog-dialog tersebut atau mungkin dalam mobilisasi massa, saat itulah masyarakat dapat menilai calon pemimpinnya bukannya menghadiri kampanye hanya dengan alasan untuk mendapatkan baju kaos atau dan lain sebagainya.
Namun dari banyak pengamat juga mengatakan hal ini tidak akan maksimal (masih lagu lama) karena para pemilih tidak menggunakan hak pilihnya secara rasional dengan melihat kualitas para calon, tapi cenderung terikat dengan etnisitas dan geopolitik.

Dari ketiga calon: Azis Qahar Muzakar yang bergandengan dengan Mubyl Handaling[3], HM Amin Syam dengan pasangannya: Mansyur Ramli[4], dan Syahrul Yasin Limpo bersama Agus Arifin Nu’mang[5], dapat kita lihat bahwa figur-figur tersebut merupakan prototipe dari tiga etnis atau kerajaan yang pernah ada di Sulsel. Pendekatan etnis maupun geopolitik dalam pilkada kali ini sangat kental. Syahrul misalnya, yang masih kental dengan etnis makassar dan merupakan keturuan Raja Gowa. Yang tentunya akan mendapatkan dukungan lebih dari masyarakat Gowa. Begitu pula dengan Amin Syam dengan kekuatan etnis kebugisannya yang memiliki kharisma bagi masyarakat Bone dan sekitranya.

Kedua kandidat ini masih satu kepemimpinan di Pemprov Sulawesi Selatan. Begitu banyak sorotan mengenai kinerja kedua pejabat Pemprov ini karena keseringan meninggalkan kantor secara bersamaan dengan alasan dinas luar untuk melaksanakan kunjungan kerja di daerah-daerah. Namun sebenarnya sudah melaksanakan kampanye dini. Termasuk Wapres Yusuf Kalla mengungkapkan kekecewaannya kepada kedua pejabat ini karena dinilai telah melalaikan tugas. Untuk lebih fokus pada pokok permasalahan maka hal ini tidak kita bahas.

Sedikit berbeda dengan kedua saingannya Azis Qahar yang terkenal cool dalam setiap kampanye bahkan tidak ngotot dalam hal pemasangan baliho-baliho dan spanduk di jalan. Namun tidak bisa diremehkan kandidat satu ini mrmiliki kekuatan suara di Luwu tanah kelahirannya dengan bayang-bayang ketokohan ayahnya Qahar Muzakkar[6].

Memang dari ketiga calon yang muncul berasal dari kekuatan partai politik, dalam artian mereka didukung oleh partai. Walaupun keanggotaan partai tidak mengenal adanya batasan etnisitas, agama, daerah, suku dan lain-lain, tetapi kepentingan elit partai melahirkan konflik di internal partai, pengusungan calon hanya melihat popularitas figur-dengan memanfaatkan etnik misalnya-.

Nah kalau seperti ini, dimana letak pendidikan politik bagi rakyat?

Sebagai Penutup: Mobilisasi Massa jangan Dipandang Sebelah Mata
Manusia (baca=individu) sebagai makhluk ciptaan Allah swt, diciptakan dengan potensi untuk berfikir. Dalam setiap fikirnya, individu-individu ini memiliki ragam pendapat. Penilaian terhadap sesuatu menggunakan barometer yang berbeda dengan pendekatan yang berbeda pula. Itulah dinamika kehidupan. Berbeda pendapat itu biasa, namun bagaimana bersikap positif dan saling menghargai, diperlukan.

Pilkada langsung di Sulsel dengan harapan pencapaian demokrasi yang rasional, belum mampu dimaksimalkan oleh masyarakat Sulsel sendiri. Baik bagi pelaku politik (parpol) maupun objek politik (masyarakat itu sendiri). Pilkada langsung di Sulsel kali ini, apakah memiliki banyak kelebihan atau kekurangannya yang berlebih, setiap orang memiliki penilaiannya sendiri. Namun pendidikan politik sangatlah penting bagi rakyat, sehingga hak suara dapat berkualitas.
Ketika beberapa kalangan memandang negatif mobilisasi-mobilisasi massa. Maka penulis menganggap hal ini perlu sebagai pendidikan politik bagi rakyat. Biarlah rakyat yang menilai bagaimana calon pemimpinnya. Apakah konsekuen terhadap pendidikan, ekonomi/kesejahteraan, kesehatan, keamanan, dan lain-lain. Atau apakah tukang janji, memanfaatkan fasilitas negara, curi start, anarkis, money politik dan sebagainya. Biar rakyat yang menilai.
___________________________________________________________________


[1] Disampaikan pada diskusi panel “Pelajar Menggugat: Peran Kritis Gerakan Pelajar dalam Pilkada Sulsel” PK TM 3 PW IRM Sulsel 5-12 September 2007
[2] Pj. Ketua Umum PW PII Sulsel periode 2005-2007
[3] Pejabat teras Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Sulsel
[4] Kepala Balitbang Depdiknas
[5] Ketua DPRD Sulsel
[6] Tokoh Sulsel yang pernah berjuang bersama mantan presiden Soekarno mendirikan Republik