Tampilkan postingan dengan label Laporan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Laporan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 November 2009

PW PII Evaluasi Pendidikan Gratis

Jumat, 20-11-09 | 20:18


MAKASSAR, FAJAR.co.id -- PENGURUS Wilayah (PW) Pelajar Islam Indonesia (PII) Sulsel, mengkritik program pendidikan gratis milik Pemprov Sulsel. Program ini dianggap tidak memiliki sandaran konsepsi yang jelas bahkan sebatas formalitas belaka.

"Dalam mencapai tataran kebijakan, pendidikan gratis tidak memiliki
syarat yang komprehensif dan kuat. Apalagi mencapai tataran konsepsi tidak ada sama sekali sandaran konsepsinya," kritik Ketua PW PII Sulsel, Nugrah Yatna Utama, saat bertandang ke redaksi Harian Fajar. Nugrah Yatna didampingi Bendahara PW PII Sulsel, Nur Ikhsan.

Menurut Nugrah Yatna, pihaknya telah melakukan telaah kritis terhadap program pendidikan gratis. Ada sejumlah kelemahan yang mereka temukan. Misalnya, perhatian terhadap pendidikan usia dini yang masih kurang, ruang sempit bagi yang kurang mampu untuk lanjut ke pendidikan tinggi. (ram)

Rabu, 11 November 2009

Menjawab Pernyataan John Palinggi terhadap Realitas Obyektif "Impeachment" SBY

Oleh: Nugrah Yatna Utama

Ada beberapa point yang sangat urgen dan seharusnya menjadi kajian strategis kita bersama terhadap tulisan atau pernyataan dari pengamat kepolisian John Palinggi, secara real kami melihat ada beberapa hal yang beliau nyatakan selaku pengamat kepolisian :
a. adanya upaya mendiskretkan atau mendegradasikan presiden SBY atau "impeachment" terhadap SBY.
b. adalah SBY dituduh telah melakukan intervensi langsung terhadap penyelesaian skandal ini, walaupun telah di bentuk TPF (Tim 8).

Kalau orang yang terperangkap pada informasi ini tanpa menganalisisnya lebih mendalam ditambah lagi "hipotesa" yang keluar dari pengamat jelas dia akan sependapat dengan hal ini, akan tetapi bagi saya secara pribadi banyak kejanggalan-kejanggalan yang timbul setelah skandal ini muncul terkhusus pada pernyataan-pernyataan yang di keluarkan oleh bapak John Palinggi.

Pertama adanya upaya mendiskretkan atau mendagradasi SBY terkhusus terhadap posisi dan jabatannya selaku presiden RI apalagi hal ini di akibatkan beberapa orang yang tidak puas terhadap hasil Pemilu yang menempatkan SBY sebagai pemenang mutlak, ini pernyataan provokatif dan menggiring opini masyarakat untuk tidak berpikir kritis terhadap problematika yang muncul. Analisis saya terhadap kasus ini dengan memakai logika pembanding bahwa tidak semua yang muncul terkhsus skandal ini sebagai upaya "impeachment" terhadap SBY, akan tetapi lebih real lagi bahwa disinilah mulai terbuka borok-borok(skandal) yang di tutupi oleh KPK dan permainan curang dan licik dari anggoro dan anggodo sehingga inti dari itu semua adalah menjaga kepentingan SBY yang sangat banyak apalagi saking banyaknya kepentingan ini timbul kontraproduktif di dalam implementasinya termasuk peran-peran mis-job dari KPK dan Anggodo yang seharusnya bagi SBY itu tidak akan terjadi apalagi menggangu eksistensi tendensinya di Indonesia, saya melihat sekarang bahwa SBY harap-harap cemas semoga kasus ini tidak terus bergulir dan melebarkan sayap penyelidikannya sehingga dia membentuk tim "independen" untuk mengkaburkan isu ini terkhusus yang berkaitan dengan kepentingannya sendiri, SBY sangat cerdas sebelum oposisi merangsek dan mengkritisi kebijakannya, di dekati dan diberikan posisi strategis, partai yang notabenenya berpeluang menjadi oposisi pun di goyang dan di susupi sehingga menjadi lunak dan menjadi pengikut setia, permainan SBY memang cantik dan ciamik, saya berani bertaruh kenapa tidak ada yang berani menyelidiki nama2 yang di sebutkan di hasil sadap pembicaraan anggodo dan beberapa orang,termasuk bapak SBY kok yang lain dipaksakan untuk diselidiki sedangkan yang lain tidak, kan yang timbul ketidakadilan terhadap penyelidikan skandal ini, apalagi KPK juga terkesan tebang pilih terhadap penyelesaian beberapa kasus,belum lagi si licik Anggodo/Anggoro yang begitu mudahnya mengobok-obok supremasi dan penegakan hukum di Indonesia.

Kedua tentang intervensi yang dilakukan SBY terhadap skandal ini, sudah sangat jelas secara kasat mata konspirasi yang dilakukan sangat vulgar di perlihatkan, terkhusus dengan membnetuk lembaga independen TPF itu sendiri, sampai hari ini untuk berbicara tentang nilai independensi di Indonesia sangat susah bahkan tidak berlaku, apalagi jika kita ingin berbicara tentang sebuah idealisme, TPF itu sendiri tidak bisa kita nafikkan sebagai tim khusus yang memang hasil karya tangan SBY itu sendiri,orang berbeda, walaupun sang ketua tim adnan buyung nasution berkali-kali mengklarifikasi di media bahwa mereka adalah tim independen,tapi walaupun di tutupi yang namanya bangkai akan tercium juga, bagi orang yang berpikir kritis dan realis, sekarang kalau kita melihat pola kerja yang di lakukan oleh TPF adalah polarisasi kerja subyektif, tekanan-tekanan yang mereka lakukan serta pernyataan-pernyataan mereka terkesan seperti ada yang di sembunyikan terkhusus bagi si empunya yang membuat tim ini, tak bisa saya bayangkan jika tim ini dibuat untuk menjaga pamor penguasa dan kepentingannya, Polisi, kejaksaan, KPK, anggodo dan anggoro hanya wayang saja yang memang di angkat dan dimainkan demi kepentingan dalangnya, sangat menarik….

Hari ini kan dalangnya juga sangat ketakutan jika rahasianya terbuka ke publik luas sehingga sang dalang memakai alur cerita yang lain dengan seolah-olah beliau di dzalimi atau impeachment, melankolis politik, aplikatif dan implementasi kebijakan pemerintah lebih banyak saya lihat dalam kinerja bapak SBY dari jilid I yang kemarin sama saja, kalaupun bapak john palinggi menyampaikan dalam pernyataannya bahwa salah satu contoh tidak ada intervensi SBY adalah besan SBY saja di penjarakan, kenapa saya skeptis dan menganggap pernyataan bapak terlalu normatif dan subyektif, pendapat saya bahwa memang sengaja besannya masuk penjara karena memang digunakan untuk menjaga politik pencitraan dan kredibilitas penguasa itu sendiri apalagi kemarin ini kan sangat relevan dengan jargon politik partainya intinya adalah sikat KKN tanpa pandang bulu, mau besan kek, mau saudara kek, kan sudah terbukti dan teruji, berani-beraninya mengklaim sesuatu yang masih menjadi disapora wacana saat itu sehingga saya mengasumsikan pernyataan partai tersebut sebuah klaim untuk klien (penguasa), seharusnya sebagai masyarakat Indonesia saat ini kita harus cerdas dan kritis melihat kondisi di sekitar kita karena nilai kebenaran di nusantara ini perlahan-lahan mencapai titik nadir dan tertinggal hingga meninggal(mati), di Bangsa ini tidak ada kebenaran yang absolute dan mutlak yang memang sebenar-benarnya kebenaran, yang ada adalah sebenar-benarnya kebenaran demi mencapai kepentingan yang sangat tendensius, kekuasaan sangat berpotensi untuk korup (KKN). Wallahu`alam bishawab…….


Selasa, 03 November 2009

Organisasi Pelajar Dukung Gerakan Peduli Padang

Selasa, 06-10-09 | 00:38

MAKASSAR, FAJAR.co.id -- Tiga organisasi pelajar di Sulsel mendukung program Gerakan Peduli Padang yang digagas Gama College. Ketiga organisasi itu adalah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Sulsel, Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Sulsel, dan Pelajar Islam Indonesia (PII) Sulsel.

Dalam pertemuan di kantor Gama College Senin, 5 Oktober kemarin, ketiga organisasi itu bersedia mendukung gerakan peduli untuk Padang.
Pertemuan yang dipimpin Dirut Gama College, AM Iqbal Parewangi itu antara lain dihadiri Nugrah Yatha Utama dari PII, Zamri dari IPM, dan Rahman Haq dari IPNU.


"Energi dan empati kemanusiaan harus terus diradiasikan. Banyak cara termasuk dengan menggugah sesama untuk membantu meringankan beban para korban bencana di Padang," kata Iqbal dalam siaran persnya yang diterima Fajar malam tadi.

Untuk penggalangan dana, Iqbal menegaskan pentingnya tiga prinsip. Pertama manajemen terbuka dan akuntabel dengan menggunakan kwitansi donasi rangkap tiga. Kedua, semua bantuan disalurkan kepada korban bencana di Padang. Dan yang terpenting, kata dia, tidak ada sepeser pun bantuan itu untuk dikorek-korek.

"Untuk penggalangan bantuan, seluruh biaya operasional ditanggung Gama College," tambahnya.
Ketua PII Sulsel, Nugrah Yatna menyambut positif gerakan sosial ini. Ia mengatakan kegiatan ini membuktikan organisasi pelajar kembali berdinamika bersama dalam kegiatan sosial kemanusiaan.


"IPNU juga mengapresiasi terbentuknya gerakan kemanusiaan pelajar ini," tambah Sekretaris Umum IPNU Sulsel, Rahman Haq.
Ketiga organisasi ini juga mengetuk kepekaan sosial pelajar se-Sulsel guna membantu pelajar yang menjadi korban gempa di Padang, Sumatera Barat. (rls)

Minggu, 08 Februari 2009

Pendiri PII Anton Timur Djaelani Wafat

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, pendiri organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII) Prof. Anton Timur Djaelani MA, mantan Dirjen Binbaga Islam Departemen Agama meninggal dunia pada usia 86 tahun, Sabtu (7/2), pukul 11 WIB, di kediamannya Jl. Kramat VII Nomor 9, Jakarta Pusat.

Semoga amal ibadahnya diterima si sisiNya, semoga segala perjuangannya bernilai ibadah dan berikanlah kami kemampuan untuk melanjutkannya, semoga segala kesalahanya dibersihkan dari segala kesalahan, sebagaimana dibersihkannya baju yang putih dari kotoran,

Jenazahnya semula akan dimakamkan di pemakaman keluarga di Singaparna, Tasikmalaya.Namun atas permintaan Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni dan Wakil Ketua MPR AM Fatwa yang hadir melayat.di kediaman kepada istri almarhum, Ny. Tejaningsih, akhirnya disepakati jenazah akan dimakamkan di komplek UIN Syarif Hidayatullah Ciputat pada hari Ahad, pukul 12.00.

Tampak hadir takziyah Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil, Menteri Kehutanan MS Ka`ban, Kabalitbang Depag Atho Mudzhar dan Kapus Pinmas Masyhuri AM, serta sejumlah kerabat dan kader PII dan HMI.

Anton Timur Jaelani lahir di Kauman, Purworejo (Jawa Tengah) pada 27 Desember 1922 dari pasangan R Moh Jaelani dan Siti Fatimah. Almarhum meninggalkan istri Ny Tejaningsih. Almarhum pada tahun 1950-an menjadi guru di sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) dan Sekolah Persiapan IAIN (SPIAIN).

Tahun 1956 meneruskan studi di Mc Gill University Kanada. Sebagai pengajar pascasarjana di IAIN (kini UIN) Jakarta, almarhum juga aktif di berbagai kampus, yakni Universitas Ibnu Chaldun Jakarta, Universitas Juanda Bogor, dan Ketua STAI Thawalib Jakarta.

Selain itu juga pernah menjadi delegasi Indonesia pada World Conference on Religion and Peace di New Delhi (1981), Seoul (1986), Kathmandu (1990) dan Roma (1994). Almarhum mendapat julukan sebagai Architect of Indonesian Dialogue

Sumber: http://www.depag.go.id, http://www.pelajar-islam.or.id

Jumat, 13 Juni 2008

Sofyan Djalil Calon Kuat Ketum KB PII

Hidayatullah Rabu, 11 Juni 2008

Sofyan Djalil yang kini menjabat Menteri Negara (Meneg) Badan Usaha Milik Negara (BUMN), merupakan salah satu calon kuat Ketua Umum KBPII
Hidayatullah.com--Ketua Dewan Pakar Perhimpunan Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KBPII), Sofyan Djalil, merupakan salah satu calon kuat Ketua Umum KBPII dalam Musyawarah Nasional (Munas) III KBPII, di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), 12-15 Juni 2008.


"Selain Pak Sofyan, ada lima kandidat lainnya yang layak memimpin KBPII periode tiga tahun mendatang," kata Ketua Panitia Munas III KBPII, Rasyid Muhammad, kepada wartawan di Mataram, Selasa.

Selain Sofyan Djalil yang kini menjabat Menteri Negara (Meneg) Badan Usaha Milik Negara (BUMN), lima kandidat calon Ketua Umum KBPII lainnya yakni Tanri Abeng, Yusuf Ashari (Meneg Perumahan Rakyat), KH. Kholil Ridwan (Ketua MUI dan DDI), Mustamin (Ketua Komisi I DPR) dan Kombes Pol (purnawirawan) Sofyan Hadi (anggota DPRD Kalimantan Selatan).

Rasyid yang didampingi Pengurus DPP KBPII lainnya dan Ketua DPW KBPII NTB, Lukman, mengatakan, Munas III KBPII yang digelar di Mataram itu mengagendakan pemilihan Ketua Umum dan Dewan Pengurus Pusat (DPP) KBPII periode 2008-2010, program kerja tiga tahunan dan rekomendasi baik internal maupun ekternal.

KBPII merupakan organisasi masyarakat (ormas) non partisan (tidak memihak partai politik mana pun) yang dibentuk oleh para alumni Perhimpunan Pelajar Islam (PPI) tanggal 3 Mei 1998. PII sendiri terbentuk sejak 4 Mei 1947.

Sejak terbentuk, ormas yang mengedepankan pembinaan kader-kader penerus bangsa yang bernafaskan Islami atau kader umat itu sudah dua kali menggelar munas.

Munas I merekomendasikan Zeta Maulana (mantan Sekretaris Wakil Presiden era Habibie) sebagai Ketua Umum KBPII dan Munas II merekomendasikan Ryas Rasyid untuk memimpin KBPII hingga tahun 2008.

Wakil Presiden, Muhammad Jusuf Kalla, merupakan Ketua Dewan Penasehat KBPII yang beranggotakan Hidayat Nur Wahid (Ketua MPR) dan Jimly Assidiq (Ketua Mahkamah Konstitusi).

KBPII sudah terbentuk di 32 provinsi dengan status Dewan Pengurus Wilayah (DPW) dan 253 kabupaten/kota berstatus Dewan Pengurus Cabang (DPC) di Indonesia, kecuali Provinsi Sulawesi Barat, dan telah memiliki sedikitnya lima juta orang anggota.

"Sebagian pengurus KBPII yang menyebar di berbagai daerah di Indonesia merupakan aktivis partai, namun dalam kepengurusan KBPPI tidak ada istilah fungsionaris partai, semuanya sama yakni kader-kader bangsa yang mengedepankan Islami," ujarnya.

Rasyid menambahkan, Munas III KBPII selama tiga hari itu akan berlangsung di Asrama Haji, setelah dibuka Wapres, M.Jusuf Kalla, 12 Juni mendatang.

Dalam rangkaian Munas KBPII itu, sejumlah pejabat dan mantan pejabat negara akan mempresentasikan materi antara lain, Tanri Abeng akan menyampaikan materi tentang ekonomi dan divestasi dan Dirut Perum Bulog tentang ketahanan pangan.

Meneg Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) akan menyampaikan materi tentang sosialisasi Undang Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

"Mantan Pangkostrad, Prabowo, juga akan datang dan mempresentasikan materi tentang politik dan pangan. A.M. Fatwa pun akan tampil dalam Munas III KBPII itu," ujarnya.

Kamis, 12 Juni 2008

Kapolri: AKKBB Sendiri yang Cari Masalah

Eramuslim Kamis, 12 Jun 08 19:31 WIB

Insiden bentrokan antara Front Pembela Islam (FPI) dan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) menjadisalah satupembahasan antara Komisi III DPR kepada Kapolri Jenderal (Pol) Sutanto yang berlangsung di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (12/6).

Kapolri Jenderal Sutanto mengatakan, jika saja pada 1 Juni lalu, Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) mengikuti rute yang sudah disepakati, maka insiden tersebut tidak akan terjadi. Rute yang seharusnya dilalui AKKBB, jelas dia, Gambir-Kedubes AS-Air Mancur-BI-Thamrin-HI. Di lokasi tersebut sudah ditempatkan sekitar 400 personel.

"Rute-rute tersebut sudah diamankan, tapi AKKBB tidak menepati janji. Kalau menepati rute mereka, pasti tidak akan terjadi (bentrokan). Kalau polisi dibilang tidak siap, tidak tepat. Mereka (AKKBB) sendiri yang cari masalah, " ujar Kapolri menjawab pertanyaan anggota Dewan.

Ketika itu, pihak kepolisian sendiri menurunkan sekitar 10.000 hingga 14.000 orang. Sementara jumlah massa yang melakukan aksi pada saat itu 6.000 orang ada berbagai macam kegiatan yakni ada unjuk rasa menentang kenaikan harga BBM dan peringatan hari lahir Pancasila.

Kapolri juga mengatakan agar masyarakat turut aktif mencegah terjadinya tindak kekerasan. "Kita harus menyikapi situasi dengan jernih dan arif. Jangan sampai terjadi tindakan kekerasan dan jatuh korban, " pungkasnya.

Sebelumnya, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol. Adang Firman juga menegaskan, sebelum terjadinya Insiden Monas, pihaknya sudah mengingatkan berkali-kali untuk tidak melakukan kegiatan pada hari itu, karena sudah cukup banyak yang melakukan kegiatan.

"Kata siapa tidak diingatkan, sudah berkali-kali kita ingat untuk tidak melakukan kegiatan di hari Minggu, jadi tolong jangan di bolak-balik, " tegasnya.

Kapolda mengatakan, pihaknya sudah memintai keterangan untuk mengklarifikasi hal perizinan itu, salah satunya dengan memanggil penanggung jawabnya.

Setelah SKB tiga menteri diterbitkan, pihak pendukung Ahmadiyah berencana melakukan aksi besar-besaran menolak kebijakan tersebut.

Ia mempersilakan Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) untuk berdemontrasi menolak SKB, namun dia mengingatkan jangan anarkistis.

"Kalau mau demo ya silakan saja sejauh tidak anarkis. Tapi kalau Anarkis kita akan mengikuti ketentuan hukum yang berlaku, " ujarnya

Adang menilai memang setiap sebuah keputusan keluar, selalu saja ada pihak yang puas dan tidak puas. "Tapi kami di kepolisian akan melakukan antisipasi secara kontinyu, " pungkasnya. (novel)

Sabtu, 06 Oktober 2007

Menggagas "Learning by Writing"

Oleh : Rudi Erfanto Rais

04-Okt-2007, 08:03:20 WIB - [www.kabarindonesia.com]

KabarIndonesia - PII (Pelajar Islam Indonesia) Sulawesi Selatan menggagas sebuah training yang selama ini di kenal dengan Leadership Basic Training, sebagai upaya untuk memulai belajar menulis. Training selama enam hari itu di ikuti oleh SMU-SMU se-Sulawesi Selatan, diantaranya dari kabupaten Barru, Sinjai, Makassar. Sejak hari pertama para peserta yang berjumlah 60-an siswa itu sangat antusias, apalagi kegiatan itu diliput oleh koran fajar.

Menurut Aswar, ketua umum PII SulSel, kegiatan ini diarahkan untuk membentuk sikap mental kader yang muslim, cendekia dan berjiwa pemimpin, sehingga di bulan Ramadlan ini kami mengambil tema zero to hero, namun peserta tidak dilepas begitu saja, karena mereka akan diwadahi dalam suatu blog yang nantinya karya-karya mereka akan di online-kan. Konsepnya nanti kami akan membuat semacam learning by writing yang membuat para peserta terangsang untuk menuliskan pengalamannya, makanya kami wajibkan mereka untuk menulis diary setiap harinya.

Training yang diselenggarakan tanggal 24-30 September itu mendatangkan instruktur dari PII dan keluarga besarnya, untuk membuka wawasan media para peserta diajak wisata ke graha pena fajar, sekaligus audiensi dengan redaktur fajar.

Menurut Aswar, follow up dari kegiatan ini nantinya akan diarahkan ke pelatihan leadership tingkat lanjut sekaligus latihan menulis, sehingga para alumninya itu diwadahi dalam satu blog komunitas pembelajar.

Nurul, salah seorang peserta bercerita tentang kesan-kesannya mengikuti kegiatan ini, "Pokoknya training ini membawa perubahan buatku dan teman-teman, trims PII". Dan sejak kegiatan ini Nurul mulai gemar menulis pengalaman, kesan dan apapun yang melintas karena training mengajak untuk mulai belajar dan menuliskan apa yang mereka rasakan dan alami.